HASRAT CEO BERISTRI

HASRAT CEO BERISTRI
SIFAT ASLI


__ADS_3

"Baik, Tuan. Saya dan para tim medis akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik untuk kesembuhan nona kara. Kalau begitu saya pamit dulu, nanti kalau terjadi apa-apa lagi sama nona Kara, tuan bisa


menghubungi saya, kata Dokter.


"Baik, terima kasih, Dok, jawab Tuan Dimas lagi.


Dokter yang menangani Kara pun akhirnya segera meninggalkan mereka bertiga. Tidak hanya itu, para pekerja


yang telah membantunya juga ikut pamit untuk pulang. Karena pakaian mereka begitu kotor penuh bercak darah segar milik kara.


Sementara, Devan hanya terdiam, dan tidak bergeming saat dokter memberitahukan keadaan Kara yang sekarang ini. la benar-benar merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi pada Kara.


"Dia seperti itu karena aku, Ma. Andai saja aku tidak membahas soal cerai secepat


itu, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi, ucap Devan lirih.


"Sabar, ya Sayang. Dia pasti akan sembuh, kamu jangan merasa bersalah. Ini semua


sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Mama yakin, semua musibah yang sedang kamu hadapi ini pasti ada hikmahnya ucap Nyonya Celia berusaha menguatkan hati anaknya agar tidak terlihat bersedih lagi.


Ketika semuanya sudah pamit, tiba-tiba saja kedua bodyguard Devan datang bersama orang tuanya Kara. Mereka bergegas menghampiri Devan dan kedua


orangtuanya yang masih setia menunggu Kara di ruang ICU.


Kedua bodyguard itu sudah tahu kabar tentang Kara dari satpam di rumahnya Devan.


Sedangkan kedua orangtuanya Kara, mereka mengetahuinya dari berita yang sedang viral di sosial media.


Sontak saja Devan pun kaget mendengar hal itu. Sebab, kejadian yang menimpa istrinya bisa tembus ke media sosial.


Dan ia tidak pernah menyangka jika ada seseorang yang meliput tentang kehidupan pribadinya tanpa seizin darinya.


"Siapa yang berani melakukan ini semua! Lihat saja nanti, aku akan membuat mereka jera!" ucap Devan dalam hatinya.


Devan benar-benar kesal terhadap orang yang menyebarkan informasi tentang


keluarganya. la bahkan tidak tahu harus bilang apa kepada mertuanya, atas musibah yang telah terjadi pada Kara.

__ADS_1


"Kara! Huhuhu, ada apa denganmu Nak! Kenapa bisa jadi seperti ini? Hiks-hiks" lirih Bu Lina sesenggukan sembari menatap anaknya dari balik pintu ruang ICU.


Tuan Dimas dan Nyonya Celia juga hanya bisa diam melihat besannya menangis.


Mereka berdua tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memberi semangat agar tetap bersabar dalam kondisi seperti ini. Akan


tetapi, Bu Lina tidak terima, jika anaknya dalam kondisi seperti itu. la benar-benar geram dan sangat marah kepada Devan,


walau ia tahu dihadapannya ada orangtuanya.


"Sabar ya Ma, ini semua-" Bu Lina langsung memotong perkataan Devan dan membentaknya, "Diam kau bajingan!


Pasti ini semua terjadi gara-gara kamu!


Anakku gak bakalan seperti ini jika kamu tidak menuntutnya terus! Dasar suami yang tidak bertanggung jawab!"


Jleb......


Hati Devan terasa seperti di tusuk pisau yang sangat tajam ketika mendengar ucapan dari mertuanya. Sakit hati


dan frustasi serta sesak di dadanya, membuat laki-laki itu mengeluarkan air mata dengan begitu pilu. Dan bebannya serasa bertambah menjadi beberapa


ini.


"lya kah? Aku suami yang tidak bertanggung jawab? ucap Devan dalam hatinya.


Namun, ibu mana yang tega membiarkan anaknya dibentak-bentak oleh orang lain, di saat ia ada dihadapannya. Apalagi


dibentak-bentaknya oleh mertuanya sendiri. Dan hal itu membuat Nyonya Celia geram.


"Kamu tidak berhak membentak anakku seperti itu!" teriak Nyonya Celia dengan suara tinggi yang membuat Devan


terperanjat dalam lamunannya.


"Memang itu kenyataannya kan? Anakmu adalah laki-laki brengsek yang tidak bertanggung jawab!" Bu Lina semakin berteriak dan membulatkan matanya yang penuh amarah.


"Hey, sudah-sudah! Jangan ribut di sini! Malu dilihatin orang-orang, ayo mendingan kita pulang saja, ujar Tuan

__ADS_1


Dimas sembari berusaha menuntun istrinya untuk segera meninggalkan rumah sakit.


"Tapi aku tidak terima anakku dibentak-bentak seperti itu sama dia. Apa pernah selama ini kita bentak-bentak anaknya


juga? Tidak pernah kan? Malah anaknya yang sering membentak dan bersikap tidak sopan sama kita, gertak Nyonya Celia sembari matanya berkaca-kaca.


"lya, ma. Papa juga tahu ,untuk sekarang kita jangan memperkeruh suasana yang


sedang memanas ini, kita lebih baik diam dan mengalah saja ucap Tuan Dimas sembari menggenggam tangan istrinya.


"Biarin! Harusnya dia itu tahu diri! Jangan asal menyalahkan orang lain, kalau tidak tahu kronologi kejadian nya seperti apa! Seenaknya saja membentak anak orang dan mengatai suami tidak bertanggung jawab. Kalau tidak bertanggung jawab, mana mungkin anakku masih mempertahankan rumah tangganya meski kelakuan istrinya sangat tidak beretika itu! Apa ini watak besan kita yang


sesungguhnya? Sungguh tidak patut dipuji" ucap Nyonya Celia yang sudah tambah geram.


Seketika Bu Lina terdiam setelah Nyonya Celia berbicara seperti itu. Ada rasa sedikit malu terhadap keluarga Devan. Karena biasanya, setiap kali bertemu


ataupun bertatap muka selalu memperlihatkan kepribadian yang sangat santun. Akan tetapi, berhubung Kara mengalami musibah, emosi Bu Lina tidak


terkontrol lagi. Sehingga, watak aslinya terbongkar semua. Atas sikap arogannya itu, membuat suami Bu Lina kesal dan malu.


"Maafkan atas sikap istri saya, Pak, Bu. Dia sangat emosi karena Kara masuk rumah sakit, kata Pak Beno menunduk malu.


"Tidak, apa-apa saya mengerti. Saya sekeluarga juga minta maaf, karena tidak tahu kalau Kara akan jadi senekat ini, ucap Tuan Dimas.


"Sudah lah!" kata Nyonya Celia dengan penuh kekesalan.


"Ma, sabar, jangan begitu" kata Tuan Dimas dengan pelan.


"Ayo Dev, kita mendingan pulang saja, kamu juga harus istirahat, jangan terlalu banyak pikiran, tidak baik buat


kesehatan kamu"' ajak Nyonya Celia sembari menarik tangan Devan. la tidak memedulikan perkataan yang suaminya katakan itu.


#Nah ayo jangan lupa Like


Vote


Kasih hadiah ya

__ADS_1


makasih dari author yang manis ini 💞💞😘


__ADS_2