
"Gak mungkin, Sefatal apa kesalahan papa kamu smpe kamu gak ngakui dia sebagai papa?." tanya Haikhal kembali sebab dia memang belum mengetahui apapun tentang orang tua istrinya itu sebab informasi baru didapatkan dan dia belum membaca informasi yang didapatkan.
"Cih sok tau, Apaan nanya sefatal apa sefatal apa." Hana berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruang ganti tersebut.
"Gue tidur di sofa." ucap Hana dengan mengambil bental untuk dirinya tidur di sofa.
"Eh jangan." Haikhal langsung menghentikannya.
"Tidur diranjang aja." ucap Haikhal.
"Enggak, Lo aja." jawab Hana dan merebahkan tubuhnya diatas sofa sedangkan Haikhal membiarkannya.
"Percuma juga dihentiin, Dia maunya gitu, Nanti aja dipindahin abis dia bener bener udah tidur." guman Haikhal dan kembali keruang ganti.
Setelah cukup lama menunggu diruang ganti akhirnya Haikhal keluar untuk mengecek apakah istrinya benar benar sudah tidur atau belum dan syukurnya istrinya sudah terlelap. Mata Haikhal membulat dan langsung berlari kedekat istrinya yang hendak jatuh. "Em." Hana meraih leher lelaki itu dan mengusapkan kepalanya didada bidang lelaki tersebut.
"Haiss, Gak biasa tidur ditempat kecil malah nekat milih sofa." guman Haikhal yang langsung menggendong wanita itu dan membawanya keranjang.
Haikhal membaringkan dengan perlahan istrinya diatas ranjang dan setelah selesai dia menatap lekat wajah wanita yang tengah tertidur itu. "Emang kalo cewek cantik tidur makin cantik." bisiknya dengan tangan yang mengusap kepala wanitanya tersebut dan bibir yang tersenyum.
Tingg...
Pesan masuk sehingga membuat Haikhal meraih ponselnya dan itu adalah email yang dikirimkan orangnya kepadanya. Haikhal berpindah kebelakang Hana dengan posisinya yang duduk dengan kaki yang tidak dilipat.
Dia membuka email yang dikirim oleh orangnya tadi dan membaca dengan teliti data data yang diberikan. "Hah?." Haikhal nampak tidak percaya akan apa yang ia baca.
"Gak mungkinkan mamanya dia ngerebut suami orang ataupun jadi simpanan." ucap Haikhal yang masih tidak percaya.
"Tapi ini......" Haikhal melihat nama ayah Hana.
"Dimas Rahman." sambungnya dengan dahi yang mengerut sebab dia tidak asing akan nama tersebut.
__ADS_1
"Ini bukannya........" Haikhal memperhatikan dengan teliti poto yang tertera.
"Em." Hana menggeliat dengan langsung membalikkan tubuhnya dan memeluk kaki Haikhal yang dikiranya bantal.
Haikhal menatapnya dan mematikan ponselnya dan membaringkan tubuhnya untuk ikut beristirahat. Haikhal memeluk tubuh wanita tersebut dan matanya langsung terpejam sebab kelelahan.
Keesokan paginya.
Haikhal terbangun terlebih dahulu dan memperhatikan wajah cantik dengan disinari matahari dihadapannya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman dan memberikan kecupan didahi wanita itu dan setelah itu memilih beranjak dari ranjang sebelum istrinya tersebut bangun. "Oiya belum selesai baca yang tadi malem." Haikhal kembali meraih ponselnya.
Dia kembali menatap istrinya dan melangkahkan kakinya menjauh dari ranjang dan menuju kebalkon sekalian berjemur. "Ini ayahnya Shindi?." mata Haikhal membulat saat melihat laporan berikutnya yang menyatakan bahwa ayah Hana adalah ayah Shindi.
"Hah? T-tapi gimana bisa mereka berdua saudara?." Haikhal nampak tidak percaya dan menelpon orangnya yang mencari informasi tentang istrinya.
"Lo beneran gak salah kirim kan?." tanya Haikhal saat telpon sudah terhubung.
"Maksudnya?." balas orang keercayaannya dari sebrang.
"Ini data yang gue suruh cari, Lo gak salah kirim kan?." tanya Haikhal kembali.
Hana membuka matanya perlahan dan matanya menyipit saat matahari masih menyinari dirinya. Mata yang menyipit itu menatap kedepan untuk melihat apakah sudah pagi atau tidak namun malah menatap Haikhal yang berada dibalkon. Lelaki yang hanya mengenakan celana tidur saja tanpa mengenakan baju membuat Hana terdiam, Dia baru pertama kalinya melihat dengan mata kepalanya penampilan lelaki seperti itu.
Tubuh Haikhal yang berada dibawah sinar matahari menjadikan lelaki itu nampak bersinar namun Hana dengan segera menggelengkan kepalanya dan Haikhal menoleh kebelakang. "Udah bangun?." Haikhal mematikan ponselnya dan berjalan mendekat kepadanya.
Hana masih terdiam dengan mata yang mengikuti wajah Haikhal sehingga dia menengadah. "Masih ngigo atau beneran udah bangun?." Haikhal mencubit wajah wanita itu.
"Ah." Hana memukul tangan Haikhal dengan wajah kesalnya dan mengusap wajahnya.
"Ummm, Maaf." Haikhal mendudukkan tubuhnya dan mengusap wajah yang sudah dicubitnya barusan dengan Hana yang hanya menikmatinya.
"Kenapa gue tidur diranjang?." tanya Hana yang masih belum terlalu sadar.
__ADS_1
Mata wanita itu langsung membulat sempurna saat sadar dirinya tidur diatas ranjang. "Jangan bilang......."
"Enggak, Aku tidur disofa tadi malam." potong Haikhal dengan senyumnya.
"Beneran?." tanya Hana. Haikhal langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan dari istrinya.
"Karna mungkin kalo jujur dia bakal marah, jadi gapapa deh bohong." guman Haikhal dengan senyumnya.
"Yaudah kamu mandi duluan abis itu aku." ucap Haikhal dengan senyumnya. Hana hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki tersebut.
"Atau mau mandi bareng?." tanya Haikhal dengan senyumnya.
"Enggak, Biar aku mandi duluan." jawab Hana dan turun dari ranjang dengan memegang bahu lelakinya tersebut.
"Seenggaknya dia udah gak canggung sama aku." guman Haikhal dengan senyum senangnya sebab merasa bahwa Hana sudah terbiasa terhadapnya meskipun sebagai teman.
"Masak iya Hana sama Shindi saudaraan." guman Haikhal yang kembali memikirkan apa yang ia baca pagi ini.
"Dan yang paling parahnya dan bikin gue gak percaya, Masa mama mertua yang jadi selingkuhan atau simpenan, Umur Shindi berapa ya?." Haikhal kembali mengecek ponselnya mungkin ada informasi tentang Shindi namun dia tidak menemukannya.
"Ini semuanya pasti gak mungkin, Mari kita cari info lainnya." Haikhal melempar ponselnya keatas ranjang dan menatap kekamar mandi yang sudah terbuka dan terlihat Hana keluar dengan baju handuknya.
"Udah selesai?." tanya Haikhal dengan senyumnya.
"Em." Hana langsung berlalu dengan diperhatikan dengan jelas oleh Haikhal hingga wanita itu memasuki ruang ganti dia baru masuk kedalam kamar mandi.
"Oiya masalah kerjaan gue, Udah hampir dua minggu gue ambil cuti, Ntar gue dipecat." ucap Hana dengan mengambil ponselnya namun tidak ditemukan adanya pesan yang mengatakan dia dipecat dan malah dia menemukan pesan orang orang memintanya kembali agar dapat membantu.
"Nanti aja deh ngomong sama Haikhal." Hana meletakkan ponselnya diatas meja dan mengganti bajunya bersiap siap untuk makan dengan baju sopan.
Haikhal keluar dari kamar mandi dan masuk kedalam ruang ganti dan terlihat Hana tengah menyemprotkan parfum kebajunya. "Pake wangi wangian emang mau kemana?." tanya Haikhal dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Kamu tadikan bilang mau ngajak makan." jawab Hana menghentikan tangannya yang sedang menyemprot parfum.
Haikhal mencium dalam dalam aroma parfum yang sudah tidak asing dihidungnya itu. "Tapi parfumnya kebanyakan." bisik Haikhal yang memang sangat menyukai bau tubuh istrinya tersebut meskipun baru mengenal dengan jelas bau tubuh itu dalam dua minggu terakhir.