
"Kenapa kamu sampe ngomong gitu?." tanya Devan dengan wajah bingungnya.
"Cih, Haikhal bener bener ngejaga dengan ketat wanita ****** itu." umpat Shindi dengan kesalnya sebab masih belum menemukan informasi terkait istri Haikhal.
"Seistimewa apa sih istrinya Haikhal." Shindi benar benar kesal saat tidak mendapatkan apapun dari orangnya sebab orangnya hanya mengirimkan pesan menyerah kepadanya.
"Gapapa, Kak Shindi tuh orangnya kasar, Dia juga bukan orang baik, Gak pantes buat kak Haikhal yang sebaik itu." jawab Zahra yang mengetahui akan segalanya tentang kelakuan Shindi.
Devan hanya diam dan menatap adiknya tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sebab dia tidak terlalu mengenal Shindi. "Shindi dia bilang dia pengagum rahasia Haikhal sewaktu kuliah, Tapi Haikhal gak notice sama sekali karna waktu itu dia pacaran sama Hana dan Hana adalah cinta pertamanya dia, Gue juga gak tau dan gak sadar kalo Shindi satu kampus sama gue." guman Devan.
"Kak abisin makanannya." ucap Zahra saat kakaknya yang hanya melamun.
"Iya, Iya." Devan melahap dengan lahap makanan tersebut hingga habis.
"Oh iya, Gue sama Hana belum bulan madu kan?, Gimana gue ambil cuti minggu depan dan ajak dia pergi, Sekalian buat nambah momen berdua." guman Haikhal dengan senyumnya.
"Dia kan suka banget sama yang hijau hijau, Gimana kalo kita cari." ucap Haikhal dengan senyumnya dan mencari suasana tempat wisata berwarna hijau.
"Yang seger seger kayak gini dia suka banget dulu." ucap Haikhal dengan senyumnya saat menemukan lokasi wisata yang pasti akan disukai istrinya.
Hana membuka perlahan matanya, Namun sedikit susah untuk dibuka sebab matanya membengkak. "Sayang, Udah bangun?." tanya Haikhal yang mencoba memastikan apakah istrinya sudah bangun atau tidak.
"Mata aku susah dibuka." ucap Hana yang kembali memejamkan matanya.
Haikhal meletakkan sembarangan tablet miliknya dan menatap istrinya. "Bangun dulu." Haikhal membantu wanita itu untuk bangkit dari tidurnya dan Hana menuruti aa yang dikatakan suaminya tersebut.
"Gegara nangis tadi, Mata kamu bengkak." ucap Haikhal dan mengambil kaca kecil yang ada disebelah ranjang.
"Nah liat." ucap Haikhal dengan mengarahkan kaca ke wajah istrinya.
"Iiihhh kok jadi gini." ucap Hana yang tidak terima akan matanya yang menyipit itu.
"Kalo abis nangis emang gitu jadinya." ucap haikhal.
"Tapi gak selarah ini juga, Gak nangis nangis amat aku tadi." balas Hana dengan mengambil alih kaca ditangan Haikhal.
"Gimana mau pergi kekantor kalo mata gini." ucap Hana dengan wajah kesalnya akan matanya yang terlalu membengkak.
__ADS_1
"Dikantor gak ada kerjaan, Jadi hari ini boleh gak dateng." jawab Haikhal.
"Dih seenaknya, Emang kamu......"
"Oh iya lupa, Dia emang pemilik kantor." guman Hana saat ingat jika suaminya pemilik kantor tempat dirinya bekerja.
"Tapikan dijadwal kita ada kunjungan ke lokasi yang ada di dekat......."
"Shuttttt, Ditunda, Emang kamu mau berangkat sama mata bengkak gitu?." tanya Haikhal dengan memotong ucapannya.
"Enggak." jawab Hana dengan menggelengkan kepalanya.
"Nah yaudah, Gak usah mikirin matanya, Sini aku pijitin bentar." ucap Haikhal dengan menarik lembut tubuh istrinya dan membaringkan kepala istrinya diatas pangkuannya.
Tangan kekar itu memijat perlahan bagian mata istrinya dengan berpokus kepada memijat kepala sehingga hal tersebut sangat dirasa nyaman oleh Hana. "Gimana?." tanya Haikhal yang saat ini memijat kepala istrinya.
"Em." Hana mengangguk sambil mata yang terpejam sebab nyaman akan pijatab tersebut. Haikhal tersebut dan melanjutkan pijatannya hingga sudah dua puluh menit dia menghentikannya dan Hana menatapnya. Haikhal kembali tersenyum dan menundukkan kepalanya dan mencium bibir mungil istrinya tersebut.
"Em." Hana langsung menutup mulutnya saat Haikhal menciumnya.
"Upah mijit tadi." ucap Haikhal dengan senyumnya.
"Kenapa nyari puncak kayak gitu? Untuk lokasi syuting?." tanya Hana dengan mengambil tablet tersebut.
"Kamu suka?." tanya Haikhal kembali tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Enggak, Aku gak suka puncak puncak kayak gini." jawab Hana dengan sejujurnya. Dahi Haikhal mengerut saat mendnegarkan jawaban tersebut, Bukankah wanita itu sangat menyukai udara segar yang ada dipuncak pikirnya.
"Loh bukannya kamu suka sama suasana puncak?." tanya Haikhal dengan wajah bingungnya.
"Enggak, Mama bilang aku pernah jatuh dan hampir masuk ke jurang gegara liburan ke puncak waktu itu, Itu sebabnya kaki aku ini ada luka." ucap Hana dengan menunjukkan bekas luka dikakinya.
Dahi Haikhal kembali mengerut sebab semasa dia mengenali Hana, Hana sangat menyukai puncak dan pandai mendaki gunung, Dia sangat menyukai pemandangan puncak dan sejenisnya tentang ketinggian yang indah,Namun Haikhal tidak memperdulikannya. "Jadi kamu suka liburan ke tempat apa?." tanya Haikhal yang menginginkan jawaban istrinya tersebut.
"Pantai atau laut Mama sering bawa aku ke pantai." ucap Hana dengan senyumnya.
"Pantai?." tanya Haikhal dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Em, Suasana pantai juga bagus, Kalo laut buat berlayar atau liburan diatas kapal pasti seru." jawab Hana dengan wajah senangnya.
"Tapi kan......." Haikhal masih terlihat bingung akan apa yang dipikirkan oleh istrinya tersebut.
"Bukannya dia tau kalo gue takut sama pantai ataupun laut?." guman Haikhal dengan wajah bingungnya sebab keduanya dulu benar benar sedekat itu dan mengetahui apa saja tentang satu sama lain, Seperti phobia, Makanan kesuakaan dan hal penting lainnya.
"Kenapa? Kamu mau bawa aku liburan ya?." tanya Hana dengan berguraunya.
"Iya." jawab Haikhal dengan senyumnya. Hana langsung terdiam saat mendengar jawaban tersebut.
"Gak bisa lah, Kitakan ada banyak kerjaan masa iya mau pergi liburan." balas Hana yang merasa jawaban suaminya tersebut hanya gurauan.
"Gapapa, Kan aku pemilik perusahaannya." jawab Haikhal dengan senyumnya.
"Cih." umpat Hana dengan wajah kesalnya.
"Minggu depan kita pergi liburan ke pantai yang kamu mau." ucap Haikhal dengan senyumnya tanpa memikirkan ketakutannya dan hanya memikirkan kesenangan istrinya.
"Gak usah, Belum waktunya libur, Jadi gak bisa." jawab Hana dan meninggalkan tempat tersebut.
"Berarti harus nunggu libur dulu baru kamu mau pergi liburan?." tanya Haikhal dengan wajah kecewanya saat istrinya menolak ajakannya.
"Em, Tapi gak mungkin kan belum waktunya libur, Ya kecuali kalo ada liburan yang emang dari perusahaan" jawab Hana dengan pergi keluar dari kamar dan menuju keruang tamu.
"Okey." jawab Haikhal dan mengambil ponselnya kembali dan langsung menghubungi Devan.
"Halo pak." ucap Devan dengan sopannya saat Haikhal menelponnya.
"Minggu depan perusahaan dan kru kru akan melakukan liburan, Untuk lokasinya nanti saya tentukan." ucap Haikhak sehingga membuat Devan kebingungan.
"Loh kenapa pak?." tanya Devan yang tidak mengerti.
"Anggap saja saya memberikan cuti untuk mereka sebab mereka sudah bekerja begitu keras belakangan ini dan saya berikan waktu satu minggu untuk liburan semuanya." jawab Haikhal yang seenaknya saja namun memang benar, Seluruh karyawan sudah bekerja sangat keras dan giat belakangan ini, Tidak salah bukan jika dia memberikan libur untuk mereka, Pikirnya dan diapun mematikan telpon.
"Gapapa deh sama sama, Yang penting nanti gue tetep sama Hana." guman Haikhal dengan senyumnya.
Haikhal langsung keluar dari kamar dan menemui istrinya. "Udah." ucap Haikhal dengan senyumnya.
__ADS_1
"Udah apa nya?." tanya Hana dengan wajah bingungnya.