
Malam ini. Dengan wajah masamnya, Darren memasuki ruang kerja Papa nya. Hari ini dia sangat kesal, hari nya kacau. Tanpa basa-basi Darren langsung menyerahkan dokumen kepada Papa nya, dan kemudian segera duduk dikursi yang berada di depan Papa nya.
"Tugas yang Papa berikan udah selesai,"ucap Darren.
Grissham melirik putranya sekilas, kemudian dia terfokus kembali pada dokumen yang Darren berikan. Darren memutar bola matanya malas, beginilah jika Papa nya dihadapkan dengan dokumen dan berkas-berkas lainnya.
"Bagus. Kamu tinggal keluarin aja satu persatu orangnya,"balas Grissham yang diangguki oleh Darren.
"Apa, Papa serius. Gadis itu yang akan menjadi istriku?"tanya Darren serius.
Grissham terkekeh mendengar pertanyaan putranya, tentu saja dia serius. Jika tidak serius untuk apa dia mengirimkan Darren untuk menyelidiki kasus yang sepele seperti itu. "Kamu pikir? Papa bercanda gitu. Ck, kalo Papa gak serius buat apa Papa nyuruh kamu menyelidiki kasus sepele seperti itu. Gimana anaknya cantik kan? Baik, sopan, pendiam, dan anaknya santai, kan?"ujar Grissham.
'Cantik sih iya. Soal baik gak tau, lah ini. Sopan? Pendiam? Apa lagi santai? Gak bangat. Bocah ceroboh iya,' ucapnya dalam hati.
"Pertunangannya minggu depan?"tanya Darren.
Grissham mengangguk mantap. "Iya minggu depan, dan pernikahannya satu minggu setelah pertunangan."
Darren membulatkan matanya tidak percaya. Apa-apaan Papanya ini selalu saja mengambil keputusan yang melibatkan Darren, tanpa memberitahu Darren terlebih dahulu. "Pa! Dia masih sekolah. Yang benar aja, Darren nikah sama bocah!"pekik Darren.
Grissham menatap putranya tajam. "Kamu sama dia cuma beda sembilan tahun, Darren!"
'What! Cuma sembilan tahun katanya. Kalo bedanya dua tahun baru cuma,' ucap Darren dalam hati.
Darren mendelik kearah Papa nya. "Sembilan tahun, Papa bilang cuma? Harusnya Papa nyarinya yang seumuran sama Darren,"ujar Darren.
"Alea lebih cocok sama kamu,"balas Grissham dengan santai.
"Pa! Milihnya yang benar dikit dong. Gadis ceroboh kayak dia yang mau Papa jodohin sama aku? Yang bener aja!"ucap Darren dengan sedikit berteriak.
"Oh, ya? Ceroboh? Kita lihat saja, gadis ceroboh itu yang akan menyinari gelapnya kehidupan seorang Aldarren Grissham Alando,"balasnya dengan sangat santai.
Darren berdiri dari duduknya. "Terserah Papa,"pasrahnya sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
°^•^°
Saat ini Alea sedang berdiri dibalkon kamarnya. Dia memikirkan kejadian tadi sore, saat dirinya tidak sengaja menabrak Darren. Dia merasa sangat bersalah, tetapi dia juga merasa takut dengan suara bentakan Darren.
'Pak Darren ganteng marah ga, ya? Ah, nanti besok minta maaf deh. Tapi kalo gue di bentak lagi gimana ya, nyeremin sih kalo ngebentak. Ah bodo minta maaf doang ini,' ucapnya dalam hati.
"Tidur apa nonton drakor ya. Hm, drakor aja deh. Biar nambah pinter,"gumamnya.
Dengan semangat Alea masuk kedalam kamarnya, dia segera mengambil laptop dan membawanya kekasur kingsizenya. Dia memutar film drakor, yang ingin dia tonton.
Suara nada dering ponsel berhasil menganggunya, dengan malas dia mengambil ponsel itu tanpa menolehkan pandangan dari layar laptop.
"Le, besok berangkat bareng gue. Kita berangkat jam sembilan,"ucap seseorang diseberang sana. Dia adalah Monica.
"Oke,"balas Alea.
"Lagi apa sih?"tanya Monica.
"Nonton drakor. Udahkan? Gue matiin ya,"jawab Alea. Tanpa menunggu jawaban dari Monica, Alea segera mematikan sambungannya.
'Oppa Lee Min Ho cakep bener, andai gue punya abang yang cakep kayak dia. Ck, sayangnya abang gue jelek. Nasib punya bang Satya yang jelek kayak gitu,' ucapnya dalam hati.
Jam menunjukan pukul 02.37 Wib, tapi Alea masih sibuk dengan laptopnya itu. Sampai, tenggorokannya kering. Dia haus ingin minum, dengan malas dia mengambil gelas diatas naskasnya. Saat hendak meminum dia melirik gelas kosong itu, dia baru ingat bahwa dia lupa mengisi gelas itu dengan air minum. Alea melangkahkan kakinya menuju dapur dengan malas, dia sangat malas menuruni tangga. Ah, dia lupa meminta kepada Ayah nya untuk menyediakan kulkas dikamarnya.
Sesampainya didapur, Alea menuju kulkas untuk mengambil minum. Dia ingin minuman yang dingin, agar tenggorokannya segar.
HIHIHI... HIHIHI... HIHIHI...
UHUK! UHUK! UHUK!.
"AAAAAAA BUNDA ADA SETAN. AYAH TOLONGIN ALE. BANG SATYA AAAAAA TOLONGIN ALE HIKS HIKS. ALE TAKUT,"teriaknya histeris dengan tangis yang sudah pecah.
__ADS_1
"Hiks hiks, takut. Buda, Ayah, bang Satya. Tolongin Ale,"ucap Alea dengan lirih disela isak tangisnya.
"Eh, Dek. Jangan nangis dong, itu tadi abang cuma bercanda. Udah jangan nangis,"ujar seorang laki-laki tampan yang berumur sekitar dua puluhan.
"Bang Satya kok jahat hiks,"balas Alea.
Lelaki itu adalah Satya Almausufi Martine, Kakak dari seorang Alea Syafanni. Satya memiliki sifat tengil dan jail kepada Adiknya, namun dia sangat menyayangi Adiknya. Saat ini Satya tengah menduduki bangku perkuliahan, umurnya masih dua puluh tahun.
"Lo, kayak gak tau gue aja. Lagian udah mau pagi gini lo belum juga tidur, astaga. Udah jangan nangis ya, nanti kalo bunda sama ayah denger bisa di marahin Abang. Udah mending Ale tidur lagi Abang antar,"ujar Satya.
Baru saja Satya ingin pergi, namun dicegah oleh Alea. "Apa lagi?"tanya Satya.
"Gendong,"rengek Alea dengan manja.
Satya hanya terkekeh, dia langsung menggendong Adiknya dan melangkah menaiki tangga. Sesampainya disana dia mencium aroma vanila, dalam kamar burnuansa pink itu. Dengan perlahan dia membaringkan Alea dikasur kingsizenya. Tidak lupa, diapun mematikan laptop Alea dan menyimpanya. Setelah selesai dia segera keluar, dan menutup pintu kamar Alea.
°^•^°
Pagi ini, Alea dan Monica membuktikan ucapanya. Mereka datang jam sembilan pagi kesekolah. Kini mereka berdua sedang berdiri didepan gerbang, sembari berkacak pinggang.
"Le, ayo gak ada orang. Lo manjat duluan ya, nanti bukain gerbangnya. Cepetan keburu pak Sugeng bangun,"ujar Monica sembari memasuki mobilnya kembali.
Dengan lihai Alea memanjat gerbang tinggi itu, setelah memasuki sekolah itu Alea berjalan menuju pos satpam. Dengan perlahan tapi pasti, Alea mendapatkan kunci gerbang itu. Dengan semangat dia membuka gerbang dengan cepat dan lebar, setelah gerbang terbuka Monica segera melajukan mobilnya menuju parkiran sekolah. Alea menutup gerbangnya kembali tanpa mengembalikan kuncinya. Alea berlari menghampiri Monica, dan segera masuk kedalam mobil Monica.
"Kita masuknya pas jam istirahat aja, Ca. Nanti takut ketahuan terus dihukum kan malas,"ucap Alea dan diangguki oleh Monica.
"Lo bawa sandwich buatan nyokap lo gak, tadi?"tanya Monica.
Alea menepuk keningnya. "Gue lupa Ca. Gua gak bawa,"pekiknya.
Monica memutar bola matanya malas. "Terus?"tanya Monica.
Alea cengengesan. "Kita kekantin aja,"jawabnya dan diangguki oleh Monica.
Mereka berdua keluar dari mobil, dan berjalan menuju kantin dengan mengendap-endap. Koridor sekolah saat ini sangat sepi, karena masih jam pembelajaran.
"Terus gimana? Ini salah lo ya, segala kelupaan segala. Kalo lo gak lupa pasti gak gini,"balas Monica dengan berbisik.
"Sorry deh, kita jalannya biasa aja. Nanti kalo di tanya kita tinggal jawab disuruh beli minum sama bu Solihah,"ucap Alea.
Monica mengangguk. "Pintar juga lo,"balas Monica.
"Gue emang pintar, baru nyadar lo? Kemana aja,"ujar Alea dengan bangga membuat Monica memutar bola matanya malas.
Alea dan Monica menormalkan cara berjalan nya, mereka terlihat santai melewati ruang osis yang pintunya tengah terbuka itu. Alea dan Monica menghela nafas lega saat tidak ada satupun anggota osis yang menegurnya.
"Lagi apa kalian berdua? Mau bolos,"tanya seorang laki-laki dengan suara dingin.
Alea dan Monica dengan refleks menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Keduanya saling tatap, dengan kompak mereka berdua menatap seorang laki-laki dengan jas almamater osisnya, sedang menyender didinding koridor. Wajah lelaki itu sangat datar, melebihi papan triplek.
"Kita disuruh beli minum sama bu Sol,"jawab Alea dengan santai.
Laki-laki itu menatap Alea tajam. "Lo pikir gue bodoh? Sekarang kalian berdua keliling lapangan sepuluh putaran!"perintah laki-laki itu yang tak lain adalah Ketua Osis SMA Grissham.
"Heh ketos triplek, Kita gak salah buat apa dihukum!"pekik Alea tidak terima.
"Parah lo Vino,"ujar Monica.
Laki-laki itu adalah Calvino Zaidan Siregar. Ketua Osis di SMA Grissham, dan juga Kapten tim Basket Putra. Vino memiliki wajah tampan, tapi sayangnya dia tidak pernah tersenyum. Dia adalah Ice Prince SMA Grissham, dia juga adalah sahabat Agam, Reyhan dan Rayhan.
"Masuk bk at-"ucapnya terpotong.
"Iya, iya pak ketos yang tampan tapi datar. Lo beliin kita minum ya,"balas Alea sembari menyeret Monica menuju lapangan.
Vino hanya menatap datar kedua gadis itu, dia kembali masuk kedalam ruang osis. Itulah seorang Vino, tidak akan pernah peduli kepada orang lain.
__ADS_1
°^•^°
Monica sedari tadi terus saja mengoceh, Alea sangat malas mendengar ocehan Monica. Monica lupa atau pura-pura lupa, Alea tidak akan pernah mengerjakan hukuman dari seorang Calvino.
"Marbuah, kantin kan deket lapangan. Nah kita perginya kekantin bukan lapangan,"ucap Alea.
Monica sepontan menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah Alea. "Lah, iya ya. Kok gue lupa,"balasnya dengan polos yang membuat Alea memutar bola mantanya malas.
Sesampainya dikantin, Alea dan Monica memilih bangku yang berada dipojok. Menurutnya bangku yang berada dipojok itu sangat nyaman dan tenang.
"Teh Mur pesen nasi gorengnya dua gak pedas ya,"teriak Alea yang membuat Monica menatapnya jengah.
"Siap Le,"balas Murti. Penjual nasi goreng di SMA Grissham.
"A Deden ganteng jus alpukatnya dua ya,"teriaknya kepada penjual jus.
"Diantos nya neng Ale,"balas Deden. Deden berasal dari Cianjur. Dia masih muda, umurnya sama dengan Satya Kakak dari Alea. Harusnya dia kuliah. Tetapi, karena tidak mempunyai biaya dia memutuskan untuk berjualan disini.
Sembari menunggu pesanannya, Alea memainkan ponselnya. Sesekali dia mengobrol dengan Monica.
"Ca. Vino ganteng ya,"celetuk Alea.
Monica memutar bola matanya malas, beginilah Alea jika sudah bertemu dengan laki-laki tampan. "Ganteng iya tapi dingin melebihi kutub selatan,"ujar Monica.
"Kan gampang. Nanti gue cairin hatinya,"balas Alea dengan semangat.
Murti membawa nasi goreng pesanan Alea dan Monica. "Baru datang ya, Le?"tanya Murti.
"Iya Teh. Si ica nih ngajakin datang siang,"jawabnya sembari menunjuk Monica.
"Eh ada Ica. Tadi si Reyhan nitip cokelat buat Ica, bentar ya. Teteh ambil dulu,"ucap Murti sembari melenggang pergi. Membuat Monica memutar bola matanya malas. Akhir-akhir ini Reyhan memang sering memberi Monica cokelat dan bunga.
Murti datang dengan membawa cokelat dan juga satu tangkai bunga mawar merah. "Nih Ica,"ujar Murti sembari menyodorkan cokelat dan bunga mawar itu.
Menica menerimanya dengan malas. "Makasih Teh,"balasnya sembari tersenyum paksa.
Setelah Murti pergi, Deden datang membawa jus alpukat. "Jusnya udah dibayar Le,"ucap Deden membuat Alea tersedak nasi goreng.
UHUK! UHUK! UHUK!
Dengan relfeks Monica menyodorkan jus alpukat yang baru datang itu. Dan langsung disambar oleh Alea.
"Siapa yang bayarin, A Den?"tanya Alea penasaran.
Deden tersenyum manis. "Ada atuh neng, gak boleh dikasih tahu. Kan rahasia,"jawab Deden.
Alea langsung menatap Deden malas. "Udah ah sana. Gak asik A Deden mah,"ujar Alea.
"Yang pasti orangnya ganteng atuh Le,"balas Deden sebelum pergi.
Dengan malas Alea menghabiskan nasi gorengnya itu. Setelah habis, Alea dan Monica memutuskan untuk tetap dikantin menunggu Lily dan Renata.
"Enak ya! Disuruh lari keliling lapangan, malah makan kayak gini,"ucap seseorang.
Alea dan Monica sepontan menatap orang itu. Orang itu menatap tajam Alea dan Monica. "Apaan sih lo Vin,"ujar Monica santai.
"Keliling lapangan lima belas putaran atau bersihin seluruh toilet di SMA Grissham,"balas Vino tidak kalah santainya.
Mendengar kata Membersihkan Toilet Alea membulatkan matanya. "Gak! Jangan Vin, gue bakal lakuin apa aja yang lo mau deh. Asal jangan bersihin toilet sama keliling lapangan, kan panas. Yang lain aja,"ucap Alea.
Vino menatap Alea dengan mata elangnya. "Bersihin ruang osis selama satu minggu,"balasnya membuat Alea membulatkan matanya. "Gak mau? Terserah,"sambungnya dengan santai.
Alea mengangguk dengan yakin. "Gue mau kok, kan biar bisa ketemu Vino yang ganteng ini. Lumayan buat cuci mata,"ucapnya sembari tersenyum manis kepada Vino.
Vino memutar bola matanya malas, kemudian dia menunjuk Monica. "Lo. Pilih hukumannya. Nanti Reyhan yang bakal mantau lo."
__ADS_1
Vino melenggang pergi, belum jauh Vino melangkah suara teriakan Alea menghentikannya. "VINO, VINO GANTENG. NANTI KAPAN-KAPAN KITA NGEDATE YAH SAMA ALEA CANTIK. VINO HARUS MAU!"teriakan Alea membuat Vino menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Seakan tidak peduli dengan teriakan Alea, Vino kembali melanjutkan langkahnya.