
"Iya pak, Saya?." Tio menghentikan langkah kakinya dan memperhatikan Devan yang berada dihadapannya dengan sesekali melihat kepergian taxi yang membawa Hana pergi.
"Kamu liat apa?." tanya Devan dengan melihat kearah mana Tio melihat.
"Tidak ada pak." jawab Tio langsung dan kembali menatap Devan yang ada dibadapannya.
Devan ikut menatapnya. "Ada apa bapak manggil saya?." tanya Tio dengan wajah bingungnya.
Devan menyodorkan berkas yang ada ditangannya kepada Tio. "Pak Haikhal minta kamu buat urus semua proyek dengan perusahaan F." ucap Devan dengan wajah datarnya. Tio nampak bingung.
"Ambil." ucap Devan saat Tio hanya melihat dokumen yang ia sodorkan. Tio menerimanya dengan masih berekpresi bingung.
"Kamu yang tanggung jawab sama proyek itu, Itu permintaan atasan, Apa ada yang ingin ditanyakan?." tanya Devan dengan wajah datarnya.
"T-tidak pak." jawab Tio. Meskipun dia kebingungan namun dia mengerti dan tau akan proyek yang diberikan tanggung jawab kepadanya itu adalah proyek yang cukup besar dengan hati senang mendapatkan proyek tersebut dia tersenyum lebar menjawab Devan.
Devan langsung melangkahkan kakinya untuk pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun lagi dan masuk kedalam mobilnya. "Cewek murahan itu aja deket sama temen sekantornya sendiri dan Haikhal malah masih mau sama dia." umpat Devan kesal dengan mata masih menatap spion mobilnya meskipun sopir ada dihadapannya dia masih saja kesal akan Haikhal yang memilih Hana menjadi istri.
Hana keluar dari taxi dan masuk kedalam apartemen dan menuju lift. Lift terbuka dan dia langsung masuk kedalamnya dan menuju kelantai tempatnya tinggal bersama suaminya. Hana membuka perlahan pintu apartemen saat sudah tidak terkunci dan menatap kesekitar mencari suaminya, Namun dia tidak menemukannya.
"Aku pulang." teriak Hana lembut.
"Sayang udah pulang." sambut Haikhal dari dapur Hana bisa mendengar jelas suara suaminya yang berasal dari dapur dan meletakkan barang barangnya di ruang tamu dan berjalan menuju dapur.
"Em." Hana tersenyum lebar menatap lelaki itu dan sedikit menjinjitkan kakinya melihat suaminya tengah memasak apa.
"Kamu suka seafood?." tanya Hana saat melihat kemeja makan pula yang sudah ada beberapa jenis makanan.
"Gak terlalu, Cuma kamu pasti suka kan?." tanya balik Haikhal dengan senyumnya. Hana menganggukkan kepalabya saat mendapatkan pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Haikhal meninggalkan masakannya dan menarik kursi. "Silahkan duduk tuan putri." ucap Haikhal dengan senyumnya.
"Hem." Hana tersenyum lebar dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi tersebut.
Haikhal menyiapkan makanan untuk istrinya dengan memasukkan satu jenis makanan terlebih dahulu. "Coba makan." ucap Haikhal dengan menyuapi wanitanya tersebut. Dengan senang hati Hana menerima suapan tersebut.
"Enak?." tanya Haikhal dengan masih tersenyum lebar kepada suaminya.
"Iya." Hana mengangguk dengan wajah senang sebab makanan itu memang enak dan mengambilnya satu untuk Haikhal dan menyuapinya.
Haikhal terdiam sejenak sehingga Hana kembali menyodorkan makanan tersebut baru dia melahapnya. "Enakkan." ucap Hana dengan senyumnya.
"Iya." jawab Haikhal dengan senyum tak kalah lebar kepada istrinya tersebut.
"Masakannya." Haikhal meninggalkan istrinya dan melihat makanan yang sudah matang itu sedangkan Hana dia hanya memperhatikannya saja.
"Gak terlalu buruk hidup gini." guman Hana dengan senyumnya menatap Haikhal yang membawakan makanan terakhir kemeja makan.
Disela sela makan mereka Haikhal mengajukan beberapa pertanyaan kepada istrinya dan dijawab dengan baik oleh wanita itu. "Gimana hari ini?." tanya Haikhal dengan tatapan tulusnya menatap istrinya tersebut.
Hana menurunkan sumpit yang ada ditangannya dan menatapa Haikhal dengan tatapan lesu sehingga senyum diwajah Haikhal memudar dan terlihat kebingungan. "Kenapa?." tanya Haikhal sedikit panik akan istrinya yang nampak tidak bersemangat lagi.
"Aku dipindahin." Hana menundukkan kepala sehingga Haikhal mengerutkan dahinya kebingungan akan ucapan wanita itu.
"Dipindahin?." Haikhal masih nampak bingung.
"Cih, Awas aja lo Devan kalo ngelakuin hal yang gak sesuai keinginan gue." guman Haikhal yang kesal akan Devan dan berpikir jika Devan tidak becus melakukan tugasnya.
Hana mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya yang terlihat lucu saat panik. "Hahaha" Hana tertawa sehingga membuat Haikhal yang awalnya panik kebingungan mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa panik gitu, Aku dipindahin dari bagian pemasaran jadi asisten ceo, Seharusnya seneng bukan malah kayak gitu wajahnya." jelas Hana singkat dengan wajah sedikit kesal namun senang.
Haikhal membuang nafas panjang. "Syukur deh kalo dia seneng." guman Haikhal dengan senyum senangnya saat istrinya juga ikut senang.
"Tapi, Kata orang orang CEO perusahaan gue tuh kejam."
Uhukkkkk
Haikhal langsung tersedak saat mendengar ucapan istrinya. "Eh." Hana mengambilkan air untuk suaminya dan membantu lelaki itu untuk minum.
"Makanya makan tuh pelan pelan, Gak ada yang mau ambil makanan kamu." ucap Hana dengan mengusap punggung lelaki tersebut.
Hana menarikkan beberapa tisyu dihadapannya dan mengusap mulut yang sedikit basah sebab air sedangkan Haikhak hanya memegang dadanya yang terasa sedikit sakit sebab tersedak. "Sakit dadanya?." tanya Hana dengan wajah hawatirnya dan memegang tangan suaminya yang berada didada.
Haikhal terdiam dan menatap wajah istrinya yang ada dihadapannya. Wanitanya nampak hawatir sehingga membuatnya langsung mengangguk dengan wajah kesakitan. Hana mengusap lembut dada suaminya dengan menyingkirkan tangan Haikhal dari dada. "Masih sakit?." Hana benar benar nampak hawatir akan lelaki tersebut.
Haikhal langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya sedangkan Hana dia menarik kursi yang ada disamping suaminya dan duduk diatasnya. "Maaf gegara aku ngajak kamu ngobrol jadi gini." ucap Hana yang benar benar hawatir.
"Gapapa, Udah gak sakit kok." balas Haikhal dengan senyumnya sambil memegang dan mengusap lembut tangan istrinya yang berada dipahanya.
"Yaudah kamu keluar duluan, Biar aku beresin ini." ucap Hana dengan senyumnya saat belum terlalu nyaman dengan posisi seperti tadi.
"Gapapa, Biar aku yang beresin semuanya, Kamu pergi bersih bersih aja." jawab Haikhal dengan senyumnya.
"Gak bisa, Biar aku yang beresin ini, kamu masak aku yang beresin kan adil jadinya." balas Hana dengan senyumnya.
"Yaudah." jawab Haikhal dengan senyumnya dan berdiri dengan perlahan dan menuju ke ruang tamu namun langkah kakinya terhenti.
"Kenapa? Masih sakit?." tanya Hana dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Enggak, Aku duduk disini aja, Nemenin kamu." jawab Haikhal yang kembali duduk ditempat awal dan tersenyum menatap istrinya. Hana hannya membalas jawaban suaminya dengan senyuman saja dan membereskan bekas makan keduanya dengan makanan sisa yang dipindahkan ketempat lain dan diletakkannya ditempatnya sebab makanan yang tersisa masih cukup banyak.
Sedangkan Haikhal dia benar benar memperhatikan istrinya dengan bibir yang tanpa henti membentuk senyuman. "Bahagia banget kalo orang yang kita sayang jadi milik kita." guman Haikhal dengan senyumnya sebab mendapatkan perlakuan sangat baik dari istrinya.