He'S My Husband

He'S My Husband
Siapa bilang


__ADS_3

"Em." Herlin menggeliat dan membuka perlahan matanya.


"Haikhal? Hana?." ucapnya saat masih sedikit buram melihat orang yang ada dihadapannya. Haikhal dan juga Hana menoleh kepada Herlin begitupun dengan Dewi yang juga sadar akan suara Herlin yang memabggil Haikhal dan juga Hana.


"Kenapa bangun?." tanya Haikhal.


"Nih bocah nyuruh mamanya buat tidur selamanya sampe nanya gitu." ketus Herlin saat Haikhal menanyakan kenapa dirinya bangun.


"Bukan gitu, Mama kan........"


"Apa." Herlin langsung melototkan matanya kepada anaknya tersebut dengan mata yang masih merah.


"Hem." Hana nampak menertawakan suaminya tersebut begitupun dengan Dewi yang menggelengkan kepalanya akibat kelakuan besan dan menantunya tersebut.


Haikhal menatap istrinya dan tersenyum lebar sebab istrinya sudah tidak sedih lagi. Herlin berjalan mendekat kearah semuanya. "Kalian ngapain kesini? Seharusnya kalian berdua istirahat pasti tadi malem capek." ucap Herlin dengan wajah biasa saja.


Hana langsung menoleh ke arah mertuanya tersebut. "Kenapa ngeliatin mama gitu sayang? Beneran capek kan?." tanya Herlin dengan merapikan rambut yang tidak berantakan tersebut.


"E-enggak ma." jawab Hana dengan senyumnya.


"Hem?." Herlin terlihat bingung akan jawaban dari menantunya tersebut.


"Mama gak boleh kami kesini?." tanya Haikhal saat istrinya yang tidak tau ingin menjawab apa.


"Enggak, Siapa bilang." jawab Herlin.


Dua hari berikutnya.


Hana dan Haikhal tinggal bersama di apartemen Haikhal dan juga sudah diizinkan oleh ibu Hana maupun ibu Haikhal. "Hari ini aku masuk kerja ya." ucap Hana dengan mendudukkan tubuhnya diatas kursi dapur dengan Haikhal yang menyiapkan makanan.


Dua hari ini Hana yang selalu menyiapkan sarapan dan makan siang dan malam, Karna sudah meminta persetujuannya untuk kembali bekerja saat makan malam membuat Haikhal menyiapkan makanan untuk istrinya. "Sarapan dulu." ucap Haikhal dengan senyumnya sambil menyodorkan makanan yang ia siapkan.

__ADS_1


Hana tersenyum lebar dan mengambil makanan tersebut dan memakannya dengan perlahan. "Nanti kalo dikantor ada yang seenaknya nyuruh kamu ngerjain pekerjaan mereka gak usah dikerjain ya, Kalo mereka marah bilang sama aku, Kamu gak boleh cape cape." ucap Haikhal dengan menuangkan air untuk istrinya tersebut.


"Mereka minta bantuan, Gak mungkin kan aku gak bantuin." jawab Hana. Haikhal membuang nafas panjang, Dia mengerti bahwa istrinya memiliki hati baik dan tulus dan rela membantu siapapun yang meminta tolong kepadanya.


"Aku berangkat dulu." pamit Hana saat makanan sudah habis. Haikhal meraih tangan istri nya dan mencium pucuk kepala wanita itu.


"Inget jangan sampe kecapean." Hana hanya diam saat suaminya memberikan peringatan tersebut namun dia tidak terlalu terbawa suasana dan langsung meninggalkan apartemen tersebut untuk menuju kekantoenya dan kembali bekerja.


"Halo." ucap Haikhal yang langsung menghubungi Devan, Orang kepercayaannya sekaligus temannya.


"Kenapa lagi." balas Devan sebab selalu disuruh suruh oleh Haikhal, Mulai dari pekerjaan hingga mencari informasi tentang Hana, Ya dialah orang yang mencari informasi tentang Hana dan dia juga sangat dekat dengan ibu Haikhal.


"Pindahin Hana ke bagian asisten gue." pinta Haikhal.


"Beneran? Jadi gue......."


"Lo tetap, Lo yang ngerjain semua yang susah, Hana cuma ngerjain yang mudah dan keinginan gue." potongg Haikbal.


"INGET APA YANG GUE BILANG." tegas Haikhal dan langsung mematikan telponnya.


"Emang ya kalo cinta itu buta, Haisss." ucap Devan dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Tapi gue bukan asisten dia, Tapi gue bawahan dia." sambungnya yang pasrah saja dan sudah menjadikan hal tersebut makanan sehari hari.


"Hah, Hah." Hana ngos ngosan dan menuju ke lift dengan banyaknya orang yang menunggu disana.


Devan menuju kelift satunya lagi. Lift yang didepan Hana terbuka, Semuanya langsung masuk namun Hana tertinggal dengan muatan lift yang sudah pas. "Udah gak bisa masuk." ucap salah satu pekerja.


"Aissss." Hana berlari ke lift satunya lagi yang hampir sja tertutup. Lift kembali terbuka sehingga membuat Devan dan dua asistennya menatap kepada Hana.


"P-pak Devan." Hana menurunkan tangannya yang menahan lift dan memundurkan langkah kakinya dengan sopan.

__ADS_1


"Kalo dibiarin dia nunggu gue bakal di omelin sama Haikhal." guman Devan.


"Masuk." ucap Devan dengan wajah datarnya kepada Hana.


"S-saya?." tanya Hana dengan wajah bingungnya.


"Siapa lagi kalo bukan kamu, Cepat." balas Devan yang masih menggunakan wajah datarnya.


"Ah iya makasih pak." Hana langsung masuk kedalam lift. Devan membuka ponselnya.


"Inget apa yang gua bilang." pesan dari Haikhal membuatnya membuang nafas kesal.


"Kamu Hana dari bagian promosi?." tanya Devan basa basi padahal dia sudah tau akan hal tersebut.


Hana langsung menoleh kepadanya. "I-iya saya pak." jawab Hana takut jika Devan memarahinya sebab mendengar rumor rumor dikantor.


Ting...


Lift terbuka. "Ikut keruangan saya dan kalian pergi ketempat masing masing." ucap Devan yang langsung keluar dari lift dan menuju keruangannya dengan diikuti oleh Hana yang sedikit ketakutan.


"Jangan bilang gue mau dipecat." guman Hana dengan wajah sedihnya dan ikut masuk kedalam ruangan Devan. Dengan kepala yang menunduk Hana berdiri didepan meja Devan.


"Kasih ruangan yang paling nyaman dan yang paling penting didekat ruangan gue." pesan dari Haikhal kembali masuk dan Devan hanya membacanya saja.


"Udah hampir satu bukan lebih kamu gak masuk kerja, Kemana kamu?." tanya Devan dengan wajah datarnya.


"Inget satu lagi, Gak usah banyak tanya sama dia, Awas aja dia ketakutan entar." pesan dari Hanya kembali masuk.


"Saya......"


Dengan membuang nafas kesal Devan langsung berdiri dari duduknya sehingga membuat Hana sedikit kaget. "Mulai sekarang kamu jadi asisten CEO disini, Ruangan kamu dilantai 12 ruangan asisten, Udah ada bacanya disana." potong Devan. Hana terdiam, Matanya membulat aat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Devan.

__ADS_1


"M-maksud bapak?." tanya Hana dengan wajah bingung sebab sudah mengambil cuti hampit satu bulan, Dia malah dipindahkan ke posisi yang menurutnya jauh lebih tinggi dari posisi sebelumnya.


__ADS_2