He'S My Husband

He'S My Husband
Kehilangan banyak darah


__ADS_3

"Udah Ra." Devan langsung memeluk wanita itu yang hendak mengamuk kepada Haikhal.


Haikhal hanya diam dan kembali menundukkan kepalanya. "Lo kenapa tahan gue, Lo juga bersalah dalam ini, Lo juga gak bisa ngejaga dia dengan baik dari musuh musuh lo, Udah cukup dulu dia kecelakaan karna urusan bisnis lo dan nyelamatin adik lo, dan sekarang dia kecelakaan lagi pasti karna kalian semuaaaa." teriak Ara yang histeris dan langsung menangis dipelukan Devan.


Devan hanya diam dan tidak menjawab perkataan wanita itu meskipun dia sangat ingin tau cerita itu namun dia memilih untuk diam saat ini.


Cklekkkkkk


Dokter keluar dan Haikhal langsung menghampirinya. "Gimana keadaan istri saya?." tanya Haikhal dengan wajah hawatirnya.


"Kondisi nona saat ini tengah kritis, Beliau kehilangan banyak darah dan......"


"Sembuhin istri saya, Saya mohon, Ambil seluruh daraah saya gapapa asalkan dia sembuh." potong Haikhal dengan menggenggam tangan Dokter.


"Stok darah yang dibutuhkan sementara masih ada tuan, Nona tidak memerlukan donor darah, Namun nanti jika membutuhkan donor darah akan kami beritahu secepatnya, Saya permisi terlebih dahulu." pamit dokter dengan sopannya dan langsung meninggalkan Haikhal dan yang lainnya.


"Hana, Hikssss." Ara terus saja menangis hingga tubuhnya melemah didalam dekapan Devan.


"Ra." ucap Devan yang langsung membantu Ara untuk duduk. Ara nampak masih terisak, Wajahnya basah akibat sedari tadi menangis, Dia tau betul apa yang terjadi dan akibat jika Hana kembali seperti awal dan mengingat seluruhnya.

__ADS_1


Haikhal kembali mematung hingga suster keluar baru diizinkan satu persatu untuk menjenguk dengan dibawah awasan suster. "Saya masuk." ucap Haikhal dan masuk kedalam ruang ganti terlebih dahulu untuk mengenkan pakaian khusus penjenguk.


Setelah selesai suster membawanya untuk melihat keadaan Hana. Tangannya langsung menggenggam tangan istrinya yang sudah bersih itu, Tubuhnya mematung saat melihat istrinya saat ini lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. "Sayang cepet bangun ya." bisik Haikhal yang mencoba menhan air matanya.


"Gimana keadaan Hana?." Herlin datang dengan nafas yang naik turun dengan cepat dan hanya melihat Devan didepan ruangan itu.


"Hana masih didalem tante, Dia belum sadar dan sekarang udah ngizinin ngejenguk cuma satu satu." jawab Devan dengan wajah bersalahnya sambil mengusap kepala Ara yang masih berada dipelukannya.


"Gue bener bener gak tau diri, Udah untung Hana nyelametin adek adek gue, Gue malah jahat sama dia, Mulut gue seenaknya aja ngomongin dia, Gue bener bener minta maaf Han, Gue bakal nebus semua kesalahan gue sama lo dengan cara apapun." guman Devan yang benar benar merasa bersalah saat ini.


Haikhal keluar dari ruangan dengan tatapan kosongnya. "Sayang." Herlin langsung menghampiri anaknya dan mengambil kedua tangan anaknya tersebut.


"Semuanya kacau gegara gue, Haikhal yang terakhir kali nangis pas papanya meninggal sekarang nangis lagi, Dulu dia nangis dipelukan Hana dan ditenangin sama Hana, Now dia balik lagi ngadu sama tante Herlin." guman Devan kembali yang tambah merasa bersalah.


"Sayang." Herlin mengusap kepala putranya tersebut agar Haikhal tenang.


"Hana bakal baik baik aja ma, Ini semua cuma mimpi, Semuanya bakal balik kayak semula lagi." ucap Haikhal dengan air mata yang terus menetes.


"Iya sayang, Iya, Hana bakal baik baik aja dan semuanya bakal balik lagi kayak semula." jawab Herlin dengan mengusap kepala anaknya tersebut.

__ADS_1


"Dia gak jawab Haikhal ngomong tadi ma, Dia masih belum sadar, Hana kuat, Dia beneran kuat, Dia bakal ngelewatin semuanya dan balik lagi sama kita." ucap Haikhal kembali. Herlin tidak bisa mengatakan apa apa lagi dan hanya mengusap kepala anaknya berharap hal tersebut akan membuat anaknya tenang.


Setelah tiga jam berlalu.


Dokter kembali masuk, Semuanya sudah melihat kedalam apa lagi Ara yang semakin histeris dan tubuhnya semakin melemah sedangkan Haikhal dia kembali seperti semula, Dia hanya diam mematung dengan tatapan kosong memikirkan istrinya yang tidak menunjukkan pertanda baik.


Herlin memegang bahu Devan saat Devan terus berada disisi Ara memeluk wanita itu dan memberikan sandaran kepadanya. "Ara kecapean sayang, Bawa dia keruangan sebelah aja ya, Minta dokter periksa kesehatan dia, Dia baru pulang dari luar negri." ucap Herlin dengan senyumnya menatap Devan.


Devan hanya diam menatap Herlin. "Gapapa pergi aja, Biar tante nemenin Haikhal, Nanti kalo Hana bangun tante susul kalian." ucap Herlin kembali dengan senyumnya.


"Devan permisi tante." pamit Devan dengan sopannya dan meninggalkan Haikhal dan Herlin didepan ruangan tersebut.


Devan menggendong tubuh kecil Ara dengan menutup wajahnya menggunakan jaket miliknya dan membawa Ara masuk kedalam salah satu ruangan yang tidak ditunggu. "Tolong periksa apa dia baik baik aja atau enggak." Ucap Devan kepada dokter.


"Baik tuan." jawab Dokter dan mengikuti perintah Devan tadi dan memeriksa Ara sedangkan Devan hanya diam menatap dojter tersebut memeriksa Ara.


"Beliau hanya sedikit kelelahan tuan, Dibiarkan dia istirahat seperti ini akan membuatnya kembali segar keesokan paginya." ucap dojter dengan senyumnya.


"Baik terima kasih, Ruangan ini akan saya pakai." ucap Devan dan langsung mendudukkan tubuhnya disamping ranjang tempat Ara terbaring.

__ADS_1


Dojter mengiyakannya dan izin untuk pergi dan Devan tidak perduli akan hal tersebut. Lelaki itu menatap lekat wajah wanita yang tengah tertidur dengan wajah dan nata yang sedikit membengkak. Tangannya menyentuh kepala wanita itu dan mengusapnya perlahan dan lembut. "Maafin aku, Aku yang udah buat keadaan jadi kayak gini sampe kamu jadi kayak gini juga." ucap Devan dengan wajah merasa bersalahnya dan tangan yang terus mengusap kepala Ara.


__ADS_2