
"Maaf tuan, Nona dan nyonya, Pasien tidak terselamatkan." ucap domter dengan menundukkan kepalanya.
"Hah? Mama tadi baik baik aja." ucap Hana meskipun dia tidak tau kondisi ibunya bagaimana.
"Apa kalian gak salah diagnosa? Tadi mama baik baik aja loh." balas Haikhal dengan wajah tidak percayanya.
"Maaf sekali lagi tuan, Nyonya benar benar......"
"Mama." Hana langsung menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa di cegah oleh siapapun.
"Sayang." Haikhal langsung menghampiri istrinya begitupun dengan Herlin yang mengikuti keduanya. Hana langsung menghampiri jenazah ibunya tersebut dan berdiri disampingnya. Wanita itu langsung terdiam dan membeku saat melihat wajah wanita yang selama ini menemani hidupnya sudah meninggalkannya.
Hana kembali mendekat dan mengangkat tangannya yang gemetaran itu. Tangannya menyentuh kepala ibunya yang sudah memiliki rambut itu dan mengusapnya perlahan. Tangis yang sempat ia tahan barusan akhirnya pecah juga. "Mama." Hana langsung memeluk tubuh ibunya tersebut, Air matanya mengalir dengan deras diwajah cantiknya, Haikhal membiarkan istrinya menangis saat ini sedangkan Herlin dia hanya menatap Hana yang tengah menangis itu.
"Aku harus kuat, Kalo aku ikutan nangis nanti Hana makin sedih." guman Herlin dengan menarik nafas panjang mencoba menahan air matanya.
"Permisi nona, Kami harus mengurus jenazah agar jenazah segera dibawa kerumah duka dan......"
"Mama masih baik baik aja, Dia cuma kecapean, Mama masih hidup."
"Mama bangun, Hana disini." ucap Hana dengan masih terisak menangis dipelukan ibunya.
"Tapi nona....." Haikhal menyuruh pengurus jenazah meninggalkan istrinya sebentar.
"Sayang, Mama udah gak sakit lagi sekarang, Dia pasti gak suka liat kamu gini, Arwah mama masih ada loh disini, Dia merhatiin kita, Kamu gak boleh terlalu sedih kayak gini, Kasih mas mas ini urus jenazah mama ya sayang supaya mama lebih cepet istirahat dirumah barunya." bujuk Haikhal dengan nada suara yang rendah dan lemah lembut.
Hana terdiam dan menatap lekat wajah suaminya tersebut. Haikhal ikut menatapnya, Hatinya sakit saat melihat wanita yang ia cintai menangis terisak dihadapannya namun dia tidak bisa berbuat apa apa selain membiarkannya dan sedikit menenangkannya. Tangan lelaki itu mengusap lembut air mata yang ada diwajah wanitanya dan hal tersebut membuat Hana langsung melemparkan tubuhnya kedalam pelukan suaminya.
__ADS_1
Wanita itu kembali menangis, Wajahnya ia tenggelamkan didada bidang suaminya itu dan Haikhal menganggukkan kepalanya kepada pengurus jenazah agar mengurus jenazah mertuanya itu.
Haikhal sedikit menjauhkan tubuhnya dari ranjang. Hana terus saja menangis dengan tangan yang meremas baju suaminya, Sedangkan Haikhal dia terus mengusap kepala istrinya. Hana memundurkan kepalanya dan menatap lekat wajah suaminya. "Iya sayang kenapa?, gapapa kok kalo masih mau nangis, Gak ada orang disini." ucap Haikhal dengan senyum tipisnya.
"Hiksss." Hana kembali memeluk suaminya itu.
"Mama udah gak ada, Aku gak punya siapa siapa lagi di dunia ini, Hikssss." Hana masih terus menangis sedangkan Herlin memilih untuk meninggalkan keduanya.
"Enggak, Siapa bilang kamu gak punya siapa siapa, Aju suami kamu, Mama aku juga mama kamu, Jadi gak usah ngerasa sendiri ya sayang." balas Haikhal dengan memejamkan matanya dan memeluk erat istrinya itu.
"Jenazah sudah selesai di urus tuan." ucap petugas lain.
"Kita pulang kerumah dulu, Abis itu baru nganter mama ya sayang." ucap Haikhal dengan mengusap dahi yang dipenuhi keringat itu.
Hana menganggukkan kepalanya dan dibalas senyuman lagi oleh Haikhal. "Ayo sayang." ajak Haikhak dan memapahnya untuknya berjalan meninggalkan rumah sakit begitupun dengan Herlin yang juga mengikuti Mereka.
"Hah, Hah." Devan datang dengan nafas yang naik turun dengan cepat namun tidak dipedulikan oleh Hana dan Haikhal.
"Nanti aja kamu nanya, Ayo." potong Herlin saat tau jika Devan hendak bertanya banyak.
"Bisa bantu gue bawain mobil?." tanya Haikhal dengan wajah sedih namun tidak terlalu terlihat.
"Ah iya, Oke oke." jawab Devan yang langsung masuk kedalam mobil bagian kemudi sedangkan Hana sudah masuk terlebih dahulu. Herlin masuk dibagian sebelah kemudi dan tidak ingin banyak bicata saat ini.
Haikhal menatap ibunya, Ibunya masih diam dan tidak merespon kematian Dewi saat ini sehingga membuatnya membuang nafas panjang dan hanya mencoba menenangkan istrinya yang masih terlihat belum menerima kenyataan.
Haikhal terus saja mengusap kepala istrinya itu dengan merangkul tubuh wanita itu sedangkan ambulance mengikuti dari belakang. "Em maaf, Ini alamatnya dimana?." tanya Devan yang kebingungan.
__ADS_1
"Ini." Haikhal memberikan ponselnya yang berisi peta untuk membawanya menuju kekediaman Hana dan Devan menerimanya dan mengikuti maps tersebut.
Sesampai mereka di rumah.
Hana langsung turun, Para warga sekitar sudah ada disana dan bersiap untuk ikut mengabtarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Hana hanya diam saja dengan menatap jenazah ibunya tersebut.
"Hana." Ara langsung menghampiri Hana yang sudah lama menangis itu namun Hana tidak memberikan respon dan hanya diam menatap dengan tatapan kosong jenazah ibunya itu.
"Tante." ucap Ara dengan menghampiri peti itu. Matanya langsung terpejam saat melihat wajah pucat yang sudah tidak bernyawa itu dan kembali memeluk Hana.
"Haikhal bilang mama bakal sedih kalo kita sedih." ucap Hana dengan memeluk Ara yang sudah menangis dipelukannya, Meskipun dia saat ini juga menangis sedangkan Haikhal hanya diam.
"Meskipun gue tau kalo ngehentiin dia nangis bakal bikin dada dia sesek, Cuma sebelum dia mau nangis lagi gue bakal alih sedihnya dia supaya gak nangis dan gak sesih lagi." guman Haikhal dengan menatap wanitanya tersebut.
"Udah sayang ya, Mama kamu mau dibawa ke pemakaman." ucap Herlin dengan memegang bahu Hana dan juga Ara.
"Hana boleh cium mama sebentar?." tanya Hana dengan mata yang membengkak dan masih berbinar.
"Iya sayang." jawab Herlin dengan senyumnya. Hana tidak menjawabnya dan mencium wajah ibundanya tersebut.
Matanya terpejam, Air matanta menetes perlahan namun dengan segera dia menjauhkan tubuhnya dari ibunya. Haikhal sadar akan hal tersebut namun hanya membiarkannya hingga peti jenazah diangkat dan ambulance kembali membawa jenazah menuju ke pemakaman yang terbilang cukup jauh dari rumah Hana.
Hana masih saja diam didalam mobil jenazah bersama dengan Haikhal dan Herlin. Haikhal terus terusan menggenggam tangan istrinya dengan Hana yang juga begitu.
Sesampai dipemakaman.
Peti dibawa gotong royong oleh Haikhal, Devan dan beberapa teman terdekat mereka dan tetangga rumah yang ikut. Herlin merangkul menantunya tersebut dan mengusap bahu wanita itu hingga menuju kepemakaman..
__ADS_1
Pemakaman berjalan lancar dengan Haikhal yang turun tangan begitupun dengan Devan, Ara masih saja menangis dan ditenangkan oleh managernya yang ikut menjenguk. Setelah selesai pemakaman satu persatu orang mulai meninggalkan tempat itu.
Hana langsung berlutut dihadapan makam ibu tercintanya tersebut. Mulutnya membisu, Air matanya kembali menetes saat melihat wajah ibunya yang dibingkai cantik itu.