He'S My Husband

He'S My Husband
CHAPTER03


__ADS_3

Pagi ini matahari bersinar terang, menerangi setiap langkah semua orang. Tetapi, tidak dengan seorang gadis yang sedang berdiri didepan gerbang sekolah menengah atas yang bertuliskan SMA Grissham. Gadis itu berkacak pinggang sembari celingukan untuk memastikan tidak ada orang disana, senyum indah mengembang dibibirnya saat tidak ada satu orangpun disana. Dengan lihai gadis itu memanjat gerbang yang menjulang tinggi dihadapannya, ini bukan pertama kalinya dia memanjat gerbang itu. Sudah berkali-kali gadis itu terlambat dan memanjat gerbang, dan berkali-kali juga dia selalu dihukum. Hari ini dia berharap tidak akan ketahuan oleh para guru dan para osis, untuk hari ini dia ingin aman tanpa hukuman. Setelah masuk kedalam sekolah, dia berjalan dengan mengendap-endap melewati koridor sekolah. Sampai didepan kelasnya dia langsung menormalkan kembali cara berjalannya, dengan santai dia masuk kedalam kelas tanpa menoleh kearah meja guru. Baru saja dia ingin duduk dibangkunya, suara seorang laki-laki menghentikannya.


"Siapa yang mengizinkan kamu untuk duduk,"ujar laki-laki itu membuat gadis itu menoleh.


Gadis itu mematung saat melihat wajah laki-laki dihadapannya, kemudian dia senyum-senyum sendiri.


'Astaga he is very very handsome. Harus dideketin nih yang model kayak gini mah' ucapnya dalam hati.


Laki-laki itu mengernyit bingung melihat tingkah gadis didepannya. "Are you crazy?"tanya nya heran sontak membuat para murid yang berada dikelas itu tertawa.


"Enak aja! Cantik gini di bilang gila. Yang bener aja,"jawabnya ketus.


Laki-laki itu mengedikkan bahu nya acuh. "Keluar dan Hormat bendera sampai jam pelajaran saya selesai!"perintah laki-laki itu yang tak lain adalah Aldarren Grissham Alando.


Gadis itu membulatkan matanya tidak terima. "Enak aja. Lagian saya cuma telat 45 menit, Pak."


"Cuma kamu bilang? Sekarang cepat keluar dan kerjakan hukumanmu!"perintah Darren.


"Gak mau,"tolak gadis itu.


"Tidak mau? Well, siapa namamu?"tanya Darren.


"Kepo kayak dora. Mending Bapak yang gantengnya kebangatan suruh saya keluar kelas aja tanpa hukuman kan enak,"balasnya dengan santai.


"Oh, silahkan kamu keluar. Nanti saya akan memanggil orang tua kamu ke sekolah,"ujar Darren tak kalah santai sembari membaca nametag gadis itu.


"Jangan manggil-manggil orang tua dong, Pak! Gini aja deh Bapak boleh hukum saya apa aja. Tapi izinin saya masuk jam pelajaran Bapak sekarang,"balasnya.


Darren mengangguk-anggukan kepalanya. "Apa aja ya? Hm, baik silahkan duduk."


Gadis itu bersorak kegirangan dalam hati dan duduk dibangkunya. Pelajaran dilanjut kembali, gadis itu memandang kepapan tulis tanpa minat. Mata hanzelnya terfokus pada Darren yang sedang menjelaskan materi pelajaran fisika saat ini. Gadis itu tidak memperhatikan materi pembelajaran, namun dia memperhatikan orang yang sedang menjelaskannya. Bel istirahat berbunyi membuat dia menghentikan aktivitasnya yang sedari tadi memperhatikan Darren.


"Baiklah pembelajaran hari ini cukup sampai disini. Kalian hafalkan materi tadi karena di pertemuan selanjutnya kita akan ulangan harian,"ucapnya membuat para murid bersorak tidak terima.

__ADS_1


"Kok main ulangan aja sih, Pak gak seru ah."


"Nanti aja, Pak ulangannya."


"Nyontek boleh, kan Pak."


"Gak apa-apa kok, Pak. Kita siap ulangan kapan aja,"ucap seorang gadis yang berpenampilan seperti tante-tante girang, membuat semuanya berdecak kesal. Dia adalah Renata Indriani.


"Huh! Apa-apaan sih lo Renata gak asik. Paling juga lo nyontek,"balas laki-laki tampan dengan pakaian urak-urakan tidak terima. Dia adalah Deni Almansyah ketua kelas XII IPA 3.


"Lo kali yang nyontek!"bentak Renata tidak terima.


"Udah napa. Cabe sama buaya gak usah ribut berisik,"celetuk gadis yang sedari tadi memperhatikan Darren.


"DIAM LO ALE-ALE!"bentak keduanya.


Gadis yang disebut ale-ale itu langsung memasang wajah polosnya. "Kalian berdua kok teriak-teriak sih,"ucapnya dengan polos.


"Udah Le gak usah ganggu orang yang lagi pdkt,"teriak laki-laki tampan dengan pakaian urak-urakkan sama seperti Deni. Dia adalah Daniel Juan Giantama.


Gadis yang sedari tadi memperhatikan Darren adalah Alea Syafanni, gadis biang onar yang selalu membuat masalah. Gadis cantik dan manis yang memiliki senyum indah, gadis itu memiliki nice body yang mampu membuat kaum adam terpesona. Alea adalah anak dari seorang Martin Haryanto, dan Ismawati Pawestri. Martin adalah pengusaha sukses dan juga terpandang. Alea adalah anak bungsu, dia memiliki Kakak yang bernama Satya Almausufi Martine.


"Heh emang lo pikir gue mau sama lo? Gak ya,"balas Renata.


"Cih, gak usah munafik deh lo cabe! Lo kan dari kelas sepuluh emang naksir sama gue,"ucap Deni dengan percaya diri.


"Lo!"bentak Renata.


"Sudah-sudah! Kalian semua silahkan istirahat dan kamu Alea ikut saya keruang guru,"ujar Darren.


"Pak saya mau istirahat dulu, saya belum sarapan. Nanti aja dah hukumannya,"balas Alea.


Darren menggelengkan kepalanya. "Ikut keruangan saya, atau saya panggil orang tua kamu untuk datang ke sekolah."

__ADS_1


Alea pasrah, Alea menyerah. Jika menyangkut orang tuanya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan malas Alea mengikuti langkah kaki Darren. Sesampainya diruang guru, Alea disambut oleh tatapan berbeda dari guru. Ada yang menatapnya tidak suka dan ada pula yang menatapnya suka, namun Alea hanya mengabaikannya saja.


"Loh Alea, kamu buat masalah apa lagi?"tanya seorang wanita yang masih muda dengan nada lembut.


Alea hanya memutar bola matanya malas, dia sangat tidak suka dengan wanita seperti itu. Wanita yang hanya berpura-pura baik didepan semua orang. Alea tidak menjawab pertanyaan wanita itu, dengan santai dia duduk di sofa.


"Dasar anak tidak tahu sopan santun! Gak perlu baik Bu sama anak modelan kayak dia, dia hanya murid bandel yang hanya mengandalkan kekuasaan dan kekayaan orang tuanya saja. Bu Vanya hanya buang-buang waktu saja jika menyapa anak itu,"ucap seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang sangat menor dan pakaian ketat di umurnya yang terbilang sudah tua.


"Tidak boleh seperti itu Bu, sebagai guru kita harus mengajarkan sopan santun dan tata krama kepada murid. Lagi pula saya tidak apa-apa walau sikap Alea seperti ini kepada saya,"balas wanita itu yang tak lain adalah Vanya Talisya kepada wanita paruh baya itu.


Alea hanya menganggap ucapan dua orang itu sebagai angin lalu, Alea pikir tidak ada gunanya meladeni orang yang hanya ingin mencari sensasi untuk di perhatikan semua orang. Seperti inilah hari-hari Alea disekolah, namun menurut Alea itu semua adalah kebahagiaan untuknya. Dipandang buruk, dan tidak disukai oleh orang-orang adalah hal yang paling dia sukai. Alea sangat tidak suka dipandang baik oleh orang-orang, dia lebih suka dipandang buruk.


Wanita paruh baya itu tersenyum kepada Vanya dan menatap sinis kepada Alea. "Bu Vanya sangat baik dan memiliki hati yang mulia, siapapun yang menjadi suami Bu Vanya pasti sangat beruntung. Orang baik akan mendapatkan pasangan yang baik, dan orang yang buruk akan mendapatkan pasangan yang buruk. Pasti orang tua Bu Vanya baik, dan juga pintar dalam mendidik anaknya. Karena orang tua yang buruk tidak pintar dalam mendidik anaknya dan menjadikan anaknya buruk seperti dirinya,"sindiran wanita paruh baya itu tertuju pada Alea.


"Ah, iya Bu. Orang tua saya sangat baik,"balas Vanya dengan nada bangganya.


Cukup! Alea sudah cukup sabar selama ini, dia tidak bisa diam saja saat orang tua nya dihina seperti ini. Alea sangat tidak suka jika ada orang yang menghina orang tuanya, dia tidak akan terima. Akan Alea pastikan orang yang telah menghina dan menyakiti orang tuanya itu tidak akan tenang, dia akan melakukan apapun cara untuk membalas perbuatan orang itu melibihi apa yang diperbuat oleh orang itu.


BRAK!


Alea memukul meja yang berada di hadapannya sembari berdiri dan melangkah mendekati dua orang itu, dengan tangan mengepal menahan amarah. "CUKUP! Bu Ratri boleh menghina saya apapun itu. Tetapi, tidak dengan ORANG TUA SAYA! Saya diam selama ini bukan berarti saya takut. Saya masih menghargai Ibu, saat Ibu menghina saya tapi untuk kali ini. IBU SUDAH SANGAT KETERLALUAN DENGAN MENGHINA ORANG TUA SAYA! Apapun itu jika menyangkut orang tua, saya tidak akan diam saja. Dan untuk Ibu Vanya yang BAIK HATI DAN TERHORMAT! Saya tidak perlu Ibu perlakukan baik hanya untuk mencari SENSASI SAJA! Kalian berdua menjijikan, lebih menjijikan daripada SAMPAH!"bentak Alea.


Beberapa guru dan beberapa murid yang berada diruangan itu menghentikan aktivitasnya dan terfokus pada Alea, mereka sangat terkejut melihat Alea yang sedang marah. Ini kali pertamanya Alea menunjukan kemarahannya, selama ini Alea tidak pernah marah walau banyak yang menghinanya.


Wanita paruh baya yang disebut bu Ratri itu tersenyum miring kepada Alea. "Wah hebat ya kamu, berani sekali membentak guru. Dasar anak tidak tahu sopan santun,"balas bu Ratri dengan sinis.


"Benarkah? Saya rasa andalah yang tidak tahu sopan santun! Bukannya mendidik murid anda malah mengurusi hidup orang lain. Ck, guru macam apa anda? Saya rasa anda tidak pantas menjadi guru. Anda tidak perlu mengurusi hidup saya! Anda bukan siapa-siapa saya. Saya hidup dengan uang orang tua saya bukan uang anda, saya diurus dan di besarkan oleh orang tua saya bukan anda. Berkaca sebelum berkomentar itu perlu! Lihat penampilan anda dan sikap anda Ibu Ratri yang terhormat. Pakaian ketat, make up tebal. Apa pantas itu disebut sebagai guru! Sadar diri dong, umur udah tua bukannya tobat malah nambah dosa. Dasar ya nenek-nenek gak ada otaknya,"ujar Alea sarkas.


Perkataan Alea membuat bu Ratri emosi. "KAMU! ANAK TIDAK TAHU SOPAN SANTUN. KAMU GAK PANTAS UNTUK BERADA DISINI!"bentak bu Ratri.


"Oh, ya. Anda apa saya yang tidak pantas? Saya rasa anda harus berkaca. Astaga saya lupa, pasti setiap anda ngaca kacanya pecah ya? Ck, tenang aja nanti saya belikan kaca yang tidak takut berhadapan dengan wajah anda itu,"ucap Alea dengan santai.


Ucapan Alea mampu membuat beberapa orang disana menahan tawanya, wajah bu Ratri saat ini sudah memerah karena emosi. Saat bu Ratri hendak menampar Alea seseorang menghentikannya.

__ADS_1


"Anda sebagai guru tidak seharusnya berbuat memalukan seperti ini, apalagi umur anda yang sudah tua seharusnya mencontohkan yang baik kepada para murid. Sekarang Anda dan Bu Vanya dan kamu Alea keruangan kepsek, saya akan menghubungi orang tua kamu untuk datang kesini. Dan untuk para guru dan para murid silahkan lanjutkan aktivitas kalian kembali,"ujar orang itu yang tak lain adalah Darren. Sebenarnya dia menyaksikan semuanya dari awal, namun dia memilih diam karena ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan. Dan apa yang dilakukan Alea membuatnya kagum.


__ADS_2