He'S My Husband

He'S My Husband
TAMAT


__ADS_3

Dojter mengiyakannya dan izin untuk pergi dan Devan tidak perduli akan hal tersebut. Lelaki itu menatap lekat wajah wanita yang tengah tertidur dengan wajah dan nata yang sedikit membengkak. Tangannya menyentuh kepala wanita itu dan mengusapnya perlahan dan lembut. "Maafin aku, Aku yang udah buat keadaan jadi kayak gini sampe kamu jadi kayak gini juga." ucap Devan dengan wajah merasa bersalahnya dan tangan yang terus mengusap kepala Ara.


"Mama pulang aja, Biar Haikhal yang nungguin Hana disini." ucap Haikhal saat hari sudah cukup larut.


"Gapapa sayang, Mama tunggu disini juga aja." jawab Herlin dengan senyumnya. Haikhal tidak menjawabnya dan kembali bolak balik didepan ruangan istrinya menunggu dokter untuk keluar lagi memberikan kabar baik.


"Hah." Ara terbangun dan Devan yang berada disampingnya juga ikut terbangun.


"Hana, Gimana keadaan Hana?." tanya Ara dengan wajah kembali hawatirnya.


"Tenang dulu ra, Kamu baru sadar." ucap Devan dengan. memegang bahunya agar tenang.


"Gimana gue mau tenang, Hana lagi kritis sekarang." ketus Ara dan langsung berdiri namun Devan menahannya dan memeluknya.


"Istirahat dulu, Dokter bilang kamu kecapean tadi, Kita sekarang diruangan sebelah ruangan Hana, Kalo terjadi apa apa sama Hana kita pasti bakal kedengeran." ucap Devan yang mengantuk.


"Tapi Hana sekarang dia........"


"Dia masih dalam penanganan dokter, Kamu gak usah hawatir." ucap Devan dengan tatapan tulusnya menatap Ara. Hati yang keras akhirnya melunak saat melihat wajah Devan yang cukup memelas menatapnya akhirnya wanita itu langsung memeluk tubuh lelaki yang ada dihadapannya tersebut.


Tengah malam saat Herlin tertidur Haikhal menyudut, Dia menatap sekeliling dan tangannya langsung meremas rambutnya. "Ah." lelaki itu kembali histeris dan memukul kepalanya sendiri.


Cklekkk

__ADS_1


Devan keluar dan terlihat Haikhal tengah memukul kepalanya sendiri sehingga membuatnya langsung menghampiri lelaki itu menahan tangannya. "Lo kenapa khal." ucap Devan yang berusaha keras agar tangan itu melepaskan rambut.


Haikhal terus saja memberontak namun Devan dengan sekuat tenaga menahan tangan lelaki itu agar tidak menyakiti dirinya sendiri. "Gue gak bisa jagaian Hana, Gue selalu ngebiarin dia celaka." teriak Haikhal sehingga membuat Herlin yang tidak jauh dari sana terbangun dan langsung mencari sumber suara.


Terlihat Devan tengah berjongkok dengan memegang erat kedua tangan anaknya. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri anaknya tersebut. "Hey kamu kenapa." ucap Herlin dengan memegang tangan anaknya.


Haikhal langsung menoleh kepada ibunya tersebut. "Maafin Haikhal ma, Haikhal gak bisa jaga Hana dengan baik, Haikhal beneran lalai ngejagain Hana." ucap Haikhal dengan nada merengeknya hendak menangis namun dia menahannya.


"Enggak, Ini bukan karna itu, Gak usah kayak tadi, Kamu harus tenang." balas Herlin. Haikhal tidak menjawabnya begitupun dengan Devan yang hanya diam memperhatikan anak dan ibu itu.


Dua minggu berlalu.


Hana masih belum sadarkan diri, Ara selalu menyempatkan diri untuk kesana dan menngundur pekerjaannya hanya untuk menjaga Hana, Haikhal selalu setia berada disisi istrinya tersebut dengan Herlin yang selalu memastikan kesehatan anaknya tersebut.


"Sayang bangun ya, Semuanya bakal baik baik aja kok abis ini, Bngun ya sayang." ucap Haikhal dengan mengusapkan kepala istrinya yang masih tidak sadarkan diri itu.


Hana menggerakkan jarinya perlahan sehingga Haikhal yang menggenggam tangannya tersadar dan langsung menoleh kewajah wanita itu. Mata wanita itu perlahan terbuka dan menatap langit langit rumah sakit terlebih dahulu. "Sayang, Akhirnya, Dokter." teriak Haikhal memanggil dokter agar memeriksa lebih lanjut keadaan istrinya tersebut.


Dokter langsung datang dan memeriksa Hana. "Keadaan nona masih belum stabil, Namun dia sudah melewati masa komanya berminggu minggu ini." ucap Dokter dengan senyumnya.


"Haiisss lama banget sih selesainya, Gue mau kerumah sakit." ketus Ara sehingga Devan yang duduk dibadapannya menoleh kearahnya.


Mereka tengah rapat dan menejer langsung melototkan mata kepada Ara. "Gue udah selesai, Gue mau kerumah sakit." ucap Ara dengan wajah kesalnya dan langsung keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ara." teriak manager dengan kesalnya.


"Tidak apa, Silahkan pergi hal yang sudah saya ingin sampaikan juga sudah saya sampaikan, Silahkan." ucap Devan kepada manager.


"Maafkan Ara pak." ucap manager.


"Tidak apa apa." jawab Devan yang ikut keluar dari ruangan dan disusul oleh manager.


Manager langsung berlari menyusul Ara dengan Devan yang juga satu arah dengan mereka. "Anda tidak usah memarahinya." ucap Devan dengan wajah datarnya dan masuk kedalam mobilnya.


Manager tidak menjawabnya dan hanya menatap datar lelaki itu dan Devanpun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kerumah sakit juga.


Dokter langsung meninggalkan ruangan dan Haikhal tidak henti hentinya tersenyum dan mengucapkan syukur atas bangunnya istrinya. "Apa ada yang sakit?." tanya Haikhal dengan memegang kepala istrinya.


Hana hanya diam dan menatap lekat lelaki yang ada dihadapannya mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. "Ah." Hana merengek dengan memegang kepalanya sehingga Haikhal kembali menghawatirkannya.


"Dokter." teriak Haikhal kembali sehingga membuat kaki dokter berhenti melangkah.


Dokter kembali masuk kedalam ruangan. "Ah, Kepala aku sakit." rengek Hana dengan nada rendah sebab tidak terlalu lancar berbicara.


Dokter langsung mengecek mengapa Hana kesakitan kepala saat sudah selesai Dokter langsung tersenyum menatap Haikhal. "Saya melupakan hal ini, Ingatan nona sudah kembali, Ini kabar baik dan masalah sakit kepala itu wajar sebab ingatannya mulai mengingat hal hal lalu." ucap Dokter dengan senyumnya.


"Gimana ingatan Hana bisa balik lagi?." tanya Ara yang tiba tiba datang dengan wajah kesal dan tidak terimanya.

__ADS_1


__ADS_2