He'S My Husband

He'S My Husband
Asisten CEO


__ADS_3

"M-maksud bapak?." tanya Hana dengan wajah bingung sebab sudah mengambil cuti hampit satu bulan, Dia malah dipindahkan ke posisi yang menurutnya jauh lebih tinggi dari posisi sebelumnya.


"Apa perlu saya ulangi?." tanya Devn dengan tatapan tajamnya. Devan nampak sangat tidak suka akan Hana namun akibat perintah dari atasannya membuatnya terpaksa berhubungan dengan Hana.


"Ah, B-baik pak saya mengerti." jawab Hana dengan kepala masih menunduk namun tidak meninggalkan tempat tersebut.


"Kenapa masih disini." ketus Devan saat Hana masih tidak beranjak. Hana sedikit membungkuk dan dengan segera meninggalkan ruangan tersebut dan kembali kelantai bawah dimana barang barangnya terletak.


"Hana." Tio langsung menghampirinya. Hana tidak memperdulikannya dan membereskan seluruh barang barangnya.


"Eh kamu mau kemana?, Kok beres beres." semuanya berkumpul dihadapan Hana saat melihat wanita baik itu beres beres.


"Hana kamu mau kemana?." tanya orang yang selalu menyuruhnya.


"Kamu dipecat Han?." semuanya langsung menoleh kepada Fera yang selalu iri akan Hana dengan tatapan tajam membuat Fera terdiam dan semakin kesal.


"Enggak, Saya gak dipecat." jawab Hana menjawab seluruh pertanyaan orang yang menanyakan hal yang sama.


"Jadi kamu mau kemana?." tanya Tio dengan tatapan tidak relanya.


"Gue dipindahin jadi asisten CEO." jawab Hana dengan wajah sedihnya.


"Dih, Lo baru kerja udah jadi asisten CEO aja, Lo ngegoda CEO ya sampe jadi sistennya." teriak Yani orang yang selalu menyuruhnya namun iri akan Hana yang naik terlebih dahulu.


"Jaga mulut anda." Tio melototkan matanya tidak suka, Meskipun Bu Yani jauh lebih tua darinya dia sama sekali tidak peduli saat mendengarkan perkataan bu Yani tadi.


"Gak usah di denger, Gue ke atas dulu ya. Semuanya saya pamit." pamit Hana dengan senyumnya.


"Aku bantu." Tio membantu membawa barang barang Hana itu dengan diterima dengan senang hati oleh Hana. Keduanya masuk kedalam lift dan menuju kelantai 12 yang dimana letak ruangan baru Hana.

__ADS_1


Sesampai di lantai 12. Keduanya langsung turun dan terlihat Devan mejunggu didepan ruangan asisten. "Ini ruangan kamu." ucap Devan dengan wajah datarnya.


"Cih emang buah jatuh gak jauh dari pohon." umpatnya dan langsung meninggalkan Hana dan juga Tio.


"Demi apapun gue gak rela Haikhal sama dia, Udah tau keluarga kayak gitu masih aja, Nanti kalo ini kejadian sama dia baru dia tau rasa dan nyesel, Gue gak mau dia kayak dulu lagi cuma karna Hana." umpat Devan dengan kesalnya.


"Ah gue ada ide, Tapi ini pasti bakal ngebuat Haikhal marah sama gue." ucapnya yang ragu apa yang akan ia perbuat kepada Hana.


"Makasih ya." ucap Hana dengan senyumnya kepada Tio.


"Iya gak usah sungkan." jawab Tio dengan senyumnya pula.


"Yaudah kalo gitu aku balij ketempat kerja aku dulu, Semoga kamu betah ya disini, Nanti aku bakal sering main kesini." ucap Tio dengan senyumnya. Hana hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan Tiopun langsung meninggalkan ruangan tersebut.


"Hem, Bakalan jarang ketemu sama dia." guman Tio dan memasuki lift


"Haikhal." terdengar teriakan dari sebrang telpon sehingga membuat Haikhal menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Mama, Hana sekarang....."


"Gak usah banyak alasan kamu." potong Herlin yang masih terdengar kesal.


"Iya nanti Hana......." Herlin yang tidak ingin mendengarkan alasan dari mulut anaknya lagi langsung menutup telpon sedangkan Haikhal dia memilih untuk bekerja dirumah saja, Membaca dokumen dokumen yang dikirimkan pekerjanya kepadanya.


"Oh iya yang dibilang sama Hana kemarin perusahaan apa ya." ucap Haikhal yang ingat akan masukan dari istrinya kemarin.


"Perusahaan F?." guman Haikhal saat melihat dokumen tersebut ada dibagian paling bawah. Haikhal membuka dokumen tersebut dan mengambil tablet dan juga laptopnya.


Dia membaca seluruh isi dokumen dan membaca beberapa artikel tentang perusahaan tersebut dan mencari informasi akan perusahaan itu hingga dia benar benar yakin jika memang perusahaan itu bagus dia baru menutup laptopnya dan beralih ke tablet.

__ADS_1


"Terima kerja sama dengan perusahaan F dan berikan tanggung jawab ini kepada Tio Raditiya, Dia terlihat rajin dan pandai dalam mengurus hal ini." Haikhal mengirimkan pesan kepada Devan dan Devan langsung membacanya.


"Baik pak." balas Devan secara formal sebab pengirim adalah Haikhal sebagai bosnya bukan sebagai temannya.


"Hem, Projek yang dikerjain sama Hana tapi gak dikasih sma Hana." guman Devan dengan senyumnya.


"Maaf pak, Proyek ini hampir 80% dikerjakan oleh ibu Hana apakah ada perubahan?." Devan menanyakan hal tersebut kepada Haikhal.


"Tidak, Hana adalah asisten saya dan harus bekerja dibawah saya perintah saya bukan dibawah perintah anda." balas Haikhal pula.


"Cih, Seberharga apa sih nih cewe buat lo sampe segitunya." umpat Devan yang benar benar tidak senang akan Haikhal yang memanjakan Hana.


"Em, Seumur umur gue kerja disini, Gue gak pernah liat pemilik perusahaan ini langsung." guman Hana dengan merapikan barang barangnya.


"Denger denger dari rumor orang dikantor, CEO nya galak, Kejam, Gak pernah senyum sama misterius, Bener gak ya?." sambungnya lagi dengan wajah bingung.


"Hem, Tapi sebagai atasa dan pemilik entertainment terbesar dalam negri maupun luar negri emang pantes dia gitu, Mungkin dianya tegas bukan sama kayak yang dirumorin." Hana terus saja memikirkan bagaimana sikap CEO kantornya tersebut.


"Hah akhirnya selesai, Udah naik pangkat jadi asisten CEO, ya meskipun gak tau gimana kerjanya nanti." ucap Hana dengan mendudukkan tubuhnya diatas kursi dan duduk santai disana.


"Sebenernya posisi apapun gue diperusahaan ini cukup bangga sih, Perusahaan entertainment di dalam negri dan perusahaan ini juga cukup terkenal diluar negri, Ah seneng bisa kerja disini." Hana nampak sangat senang dengan posisinya yang semakin naik dan berputar putar diatas kursi tersebut.


"Tapi kok pak CEO nya gak dateng ya sampe sekarang." Hana menatap jam dinding dan terlihat jam sudah menunjuk pukul lima sore.


"Udah waktunya pulang." ucap Hana dengan senyumnya dan bersiap untuk kembali kerumahnya.


"Tio." panggil Devan saat Tio hendak menyusul Hana yang sudah masuk kedalam taxi.


"Iya pak, Saya?." Tio menghentikan langkah kakinya dan memperhatikan Devan yang berada dihadapannya dengan sesekali melihat kepergian taxi yang membawa Hana pergi.

__ADS_1


"Kamu liat apa?." tanya Devan dengan melihat kearah mana Tio melihat.


__ADS_2