He'S My Husband

He'S My Husband
Gue benci Hana


__ADS_3

"Gue benci Hana, Gue benciiii." teriak Shindi saat mengetahui jika istri dari Haikhal adalah Hana.


"Hana?." Dimas terdiam saat mendengar nama tersebut, Nama tersebut adalah nama anak pertamanya dari wanita yang sudah tidak ia ketahui kabarnya saat ini.


"Kenapa sama Hana?, Bukannya dia udah meninggal nak?." tanya Dimas dengan berharap agar anaknya itu masih hidup.


"Gue benci Hana." teriak Shindi kembali yang terlihat prustasi.


Seminggu berlalu.


Semuanya memilih untuk kembali kerumah masing masing begitupun dengan Hana dan Haikhal yang juga ikut kembali ke apartemen. Haikhal membuka perlahan pintu kamarnya dan terlihat istrinya masih saja termenung menatap keluar jendela dengan tatapan kosong dan rambut yang berantakan sebab baru bangun.


Haikhal perlahan berjalan mendekat dengan membawa makanan didalam nampan dan meletakkan nampan tersebut diatas meja dihadapan istrinya tersebut. Hana sama sekali tidak memperdulikannya dan masih saja termenung, Haikhal berjalan kebelakang istrinya dan merapikan rambut yang berantakan itu sehingga membuat Hana mendongakkan kepala menatapnya.


Haikhal tersenyum saat istrinya menatapnya dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi yang ada disamping istrinya tersebut. "Sarapan ya." ucap Haikhal dengan senyumnya dan mengusap kepala istrinya itu.


Hana hanya diam dan tidak merespon apapun dan hanya menatap lelaki tersebut. Hana seminggu belakangan ini seperti saat inilah sikapnya, Dia hanya diam dengan tatapan kosongnya, Tidak menjawab perkataan dan pertanyaan dari orang orang sekitar dan tidak masuk bekerja lagi begitupun dengan Haikhal yang menyerahkan pekerjaan kepada Devan sebab dirinya ingin berfokus terhadap istrinya sedangkan Ara dia selalu menyempatkan diri untuk mengembalikan Hana ke awal.


"Ya tuhan, Bukan sekali Hana kayak gini, Ngebuat dia balik lagi itu cuma dengan cara dia hilang ingatan, Tapi itu gak bisa lagi dan ia pun kejadian pasti ingatan dia yang dulu bakal balik lagi dan makin parah." guman Ara dengan menatap langit langit kamarnya tersebut.


"Kamu pasti gak bisa ngeluapin emosi kamu sebelumnya karna banyak orang disekitar kamu kan makanya kamu kayak gini." ucap Haikhal namun tidak di ubris oleh Hana.


"Sekarang disini, Di balkon apartemen cuma ada kita berdua aja, Kamu mau ngeluapin emosi sama tangis kamu gimanapun silahkan, Kamu harus balik lagi kayak dulu, Jangan kayak gini." sambungnya dengan memegang pipi istrinya tersebut.


Hana menoleh kearahnya, Mata wanita itu menatap lekat wajah lelaki yang ada dihadapannya. "Gapapa kok kalo mau nangis sayang." ucap Haikhal dengan senyumnya.


Mata wanita itu berbinar, Dia tidak mengedipkan matanya sedikitpun dengan menatap lekat suaminya. "Hiksssss." tangis yang seminggu ini ditahannya akhirnya pecah juga.


Haikhal langsung memeluk erat tubuh istrinya tersebut. Hana terus menangis dan tangisnya semakin lama semakin kencang. "A-aku udah gak punya siapa siapa lagi di dunia ini, Aku gak tau siapa papa aku dan mama dia ninggalin aku sendiri, Hikkkkksssss." tangis wanita itu yang benar benar terisak didalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Enggak, Aku suami kamu dan selamanya bakal jadi suami kamu." jawab Haikhal, Hana tidak menjawabnya dan terus saja terisak dipelukan suaminya itu.


Dia benar benar kehilangan ibunya dan tidak bisa meluapkan emosinya sebab tidak ingin terlihat lemah dihadapan banyak orang hingga hari ini dia meluapkan seluruh emosinya dihadapan suaminya dengan tangis yang bemar benar pecah dan isakan yang cukup kencang. Kesedihan tidak bisa ditutupi lagi olehnya saat ini, Dia benar benar lemah dihadapan suaminya itu hingga berjam jam lalu baru dia tenang dan terlelap.


Satu bulan kemudian.


Hana menaiki bis dan hanya termenung mengingat perhatian perhatian yang diberikan oleh Haikhal. "Hem." wanita itu tertawa kecil saat mengingat beberapa tingkah lucu suaminya yang sering panik tidak karuan.


Masa masa sedih kehilangan ibunda tercinta sudah ia lewati dengan ditemani oleh suaminya, Haikhal bemar benar merawat dan mengembalikan sikap Hana seperti normal kembali dengan menemani Hana selama satu bulan ini, Membawa berkeliling dunia untuk menghilangkan sedih sehingga saat ini, Detik ini wanita itu sudah tampak baik baik saja dan bahagia hidup bersama suaminya.


"Khal." Devan masuk dan meletakkan kopi diatas meja Haikhal.


"Em." jawab Haikhal yang masih berfokus kepada pekerjaannya.


"Ini udah jam makan siang kan, Sekalian beli makan buat Haikhal sama pak Devan." ucap Hana dengan senyumnya dan berhenti di sebuah restoran.


"Kenapa sih lo masih mau sama Hana dan sampe nikahin dia?." tanya Devan. Haikhal menatap tajam kearahnya sebab tidak suka akan pertanyaan tersebut namun dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Khal lo denger gue ngomong gak sih." Hana menghentikan langkah kakinya didepan pintu yang sedikit terbuka itu.


Haikhal sama sekali tidak memperdulikannya dan masih saja diam. "Apa sih yang istimewa dari dia tuh, Dia udah nyakitin lo, Keluarga dia gak jelas, Dia punya ibu yang perebut suami orang, Ibunya perusak rumah tangga orang, Latar belakangnya dia gak cocok banget sama lo, Dia anak haram dan......"


Pranggg....


Hana menjatuhkan makanannya saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Devan. Haikhal menoleh kedekat pintu begitupun dengan Devan dan Hana dengan segera membereskan makanan yang tumpah. "Hana." Haikhal langsung berdiri dan berlari kedekatnya dan Hana yang sudah membersihkan lantai langsung berlalu pergi.


"Sayang." Haikhal mengejarnya sehingga membuat seluruh karyawan menoleh kearahnya.


"Maafkan saya pak, Saya sudah lancang." Hana membuang apa yang ada ditangannya dan langsung berlalu pergi menuju lift dan berdiri sebentar disampingnya.

__ADS_1


"Hah." Devan hanya membuang nafas kasarnya saat melihat Haikhal yang menyusul Hana.


Ting


Lift terbuka, Hana langsung masuk dan terlihat ada Zahra dan juga adiknya didalam lift namun Hana tidak mengenalinya begitupun dengan Haikhal yang juga tidak memperdulikannya. "Sayang, Tunggu." Haikhal berlari menuju lift.


"Eh kakak cantik." sapa Clay saat melihat Hana.


"Eh kamu." Hana tersenyum dan menekan tombol 1 agar lidt segera tertutup.


Zahra menoleh kepada siapa yang disapa oleh adiknya yang pendiam itu. "Kakak." ucap Zahra yang juga terlihat mengenali Hana.


Belum sempat Hana menjawab dan sadar akan panggilan Zahra lift tertutup dan membawanya turun. "Haisss." Haikhal terlihat prustasi dan langsung menuju ketangga darurat untuk mengejar istrinya.


"Zahra, Clay." panggil Devan yang berniat ingin menyusul Haikhal.


"Kak, Aku ketemu kakak yang nyelamatin aku tujuh tahun lalu." ucap Zahra dengan wajah senangnya.


"Mana?." tanya Devan yang berharap dapat bertemu.


"Clay tadi dibawah hampir ditabrak motor, Untung ada kakak cantik yang bantuin Clay, Cuma kakak cantiknya tangannya luka, Lukanya lumayan gede, Tadi Clay juga ketemu." ucap Clay.


"Kamu hampir kecelakaan tadi?." tanya Zahra yang sama sekali tidak mengetahui akan hal tersebut.


"Hah?." Devan langsung berjongkok untuk mengecek keadaan adiknya tersebut.


"Apa yang luka sayang?, Siapa yang nyelamatin kamu?." tanya Devan dengan wajah paniknya dan untungnya adiknya tidak ada luka sedikitpun.


"Kakak cantik." jawab Clay dengan polosnya.

__ADS_1


"Mana dia sayang?." tanya Zahra.


__ADS_2