
"Kamu mau kemana, mama masih...." Hana menghentikan langkah kakinya saat ingat jika dia sudah dikenalkan oleh Haikhal kepada ibunya.
"Hana sayang." suara panggilan yang memanggil namanya terdengar jelas sehingga Hana membalikkan tubuhnya.
"Iya ma?" wajah bingung terlihat dari raut wajah wanita tersebut.
"Mau kemana?" tanya Herlin dengan berjalan mendekat kearah Hana.
"Hana masih ada kerjaan dikantor ma, Jadi Hana harus kekantor sekarang karna sekarang gak libur." jawab Hana yang sedikit mencoba membujuk Herlin
"Emangnya kamu kerja dimana nak?" tanya Herlin.
"Perushaan HR Entertainment ma." jawab Hana. Herlin langsung menoleh kepada Haikhal dan Haikhal menganggelengkan kepalanya dengan memberikan isyarat bibir.
"Jangan bilang dulu." isyaratnya terhadap ibunya.
"Emangnya gak dikasih libur, Kamu kan mau nikah minggu depan." ucap Herlin dengan mengusap kepala wanita itu.
"Belum minta izin ma, Lagian acaranya masih satu minggu lagi, Jadi gapapa kalo Hana pamit mau ke kantor?" tanya Hana dengan wajah polosnya.
"Aku udah minta izin tadi kekantor kamu, Kamu gak usah hawatir karna gak masuk, Kita kerumah sakit aja sama mama buat ketemu mama kamu." jelas Haikhal dengan meletakkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Hana dan juga Herlin menoleh kearahnya.
"Tapi......."
"Udah gapapa, Ayo udah diizinin sama Haikhal." ajak Herlin langsung tanpa sadar untuk apa mereka kerumah sakit. Hana kembali menoleh kearah Haikhal dan Haikhal tersenyum lebar kepadanya sambil menganggukkan kepalanya berbanding terbalik dengan Hana yang menatap kesal kepadanya.
"Y-yaudah ma." jawab Hana yang sedikit pasrah namun segera tersenyum untuk menghilangkan wajah murungnya.
Mereka masuk kedalam mobil dengan Hana yang nampak masih belum terbiasa akan Haikhal dan juga mamanya sebab mereka baru saling bertemu. "Kamu gapapa?." tanya Haikhal dengan menggenggam tangan kecil wanita yang duduk disampingnya itu.
Hana yang tidak suka langsung menatap tajam lelaki itu dan menepis tangannya. Hana melotot dan hendak mengeluarkan suara namun Haikhal mendekatkan mulutnya ketelinga wanita itu. "Inget mama ada dibelakang, Kalo gagal nikah gagal juga satu miliyarnya." bisik Haikhal dan tersenyum lebar menatap wanita itu.
Hana yang masih kesal langsung membuang nafas panjang dan tersenyum lebar menatap Haikhal namun dia langsung memalingkan wajahnya dari lelaki itu. Haikhal tersenyum dan hal tersebut dapat terlihat oleh Herlin yang baru saja memperhatikan mereka.
Setelah perjalanan yang cukup panjang mobil terparkir bagus diparkiran rumah sakit dan mereka keluar dari mobil tersebut. "Disini mama kamu dirawat sayang?." tanya Herlin yang langsung merangkul lengan Hana sedangkan Haikhal hanya diam dan memperhatikan keduanya saja.
__ADS_1
"Iya tante." jawab Hana.
"Panggil mama bukan tante." ucap Herlin.
"I-iya ma." balas Hana dengan senyumnya.
"Yaudah ayo masuk." ajak Haikhal. Hana menundukkan kepalanya dan langsung menyusul Haikhal dan juga Herlin. Saat diperjalanan masuk Hana merasa tidak nyaman sebab dia rasa kedatangannya disana membuat suasana sedikit aneh namun Haikhal langsung meraih tangan wanita itu.
"Kenapa gugup gitu." bisik Haikhal dengan senyumnya. Hana menoleh kearahnya.
"Gapapa, Cuma ngerasa aneh aja sama suasana sekarang." bisik Hana pula.
"Pasti Haikhal belum ngomong apa apa sama Hana." guman Herlin yang bisa mendengar sedikit percakapan keduanya.
"Lo inget ruangan mama?." tanya Hana saat Haikhal masuk tepat keruangan ibu Hana.
"Masa iya gak inget ruangan mertua." goda Haikhal dan langsung masuk keruangan sedangkan Hana nampak kesal.
"Mama." Haikhal menyapa dengan senyum cerah dan ramahnya dan menghampiri calon mertuanya tersebut.
"Ayo sayang." Herlin langsung meraih tangan Hana dan masuk kedalam ruangan tersebut.
"Gimana keadaan mama?, Apa ngerasa lebih baik abis dipindahin kesini?." tanya Haikhal dengan senyumnya dan meletakkan barang bawaannya disamping ranjang.
"Iya nak, Mama jauh lebih baik sekarang." jawab Dewi dengan senyumnya.
"Syukur deh, Oiya Haikhal bawa......"
"Halo mamanya Hana." sapa Herlin dengan wajah girang sehingga membuat Dewi menoleh kearahnya dan Herlin langsung mendekat dengan Haikhal yang mundur.
Dewi nampal bingung dan menatap kearah anaknya yang juga baru nampak olehnya. "Ini mamanya Haikhal, Tante Herlin ma." ucap Hana saat melihat wajah kebingungan ibunya.
"Mama bukan tante." saut Herlin saat Hana lagi lagi memanggilnya tante. Hana hanya tersenyum sedangkan Haikhal juga begitu menatap calon istrinya tersebut.
"Aku bawa ini buat kamu." Herlin langsung mengeluarkan barang yang ia bawa.
__ADS_1
"Gak usah bawa apa apa, Kalian ngejenguk aja aku seneng." ucap Dewi yang memang welcome kepada siapapun.
"Gak boleh gitu dong, Sebagai calon besan harus baik." goda Herlin dengan sedikit tawanya. Dewi hanya ikut tersenyum sedikit menarik berbincang dengan Herlin.
"Masalah pernikahan mereka kamu udah tau lama?." tanya Herlin kepada Dewi. Haikhal mengambil barang yang hendak diletakkan oleh Dewi kesamping ranjang dan dia membantunya.
"Enggak, Baru tau kemaren, Haikhal dateng kesini bilang kalo dia calon mantu aku." jawab Dewi santai.
"Haisss, Berarti kalian berdua beneran nyembunyiin semuanya dari kami." Herlin melototkan matanya menatap putranya tersebut.
"Enggak ma, Gak nyembunyiin, Cuma belum ngasih tau aja." jawab Haikhal dengan santainya.
"Kamu duduk." Haikhal menarik kursi yang tidak didudukkan itu dengan Herlin yang duduk diatas ranjang. Hana menggelengkan kepalanya, Saat ini dia hanya diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun, Selain memang dirinya yang memang tidak banyak bicara, Dia juga tidak tau ingin menjawab apa akan apa yang dibicarakan ivu dan calon mertuanya tersebut.
"Berani banget kalian nyembunyiinnya selama ini, Tapi gapapa mama seneng kok kalo tau tau udah mau nikah gini." jawab Herlin dengan senyumnya.
"Iyakan mamanya Hana." sambungnya dengan menggenggam tangan Dewi.
"Nama saya Dewi." ucap Dewi.
"Iya Dewi." balas Herlin dengan senyumnya. Haikhal hanya tersenyum lebar begitupun dengan Hana, Sebab keduanya sudah lama tidak melihat senyum dari wajah ibu masing masing.
"Kalian kenapa masih berdiri disini." ketus Herlin kesal saat Haikhal dan Hana tidak bergerak sedikitpun. Keduanya terdiam dengan wajah bingungnya akan ucapan Herlin.
"Pergi ajak Hana ukur baju, Cari gaun buat pernikahan kalian minggu depan." Herlin melototkan matanya kepada Haikhal dan Haikhal langsung menatap kepada Hana.
"Ga......"
"Yaudah, Mama disini temenin mama Dewi." ucap Haikhal dengan meraih tangan Hana.
"Tenang, Udah sana pergi." usir Herlin lembut.
"Yaudah ayo." ajak Haikhal dengan senyumnya dan langsung dibalas senyuman oleh Hana.
"Cincinnya juga, Nanti Hana kamu mau apa apa tinggal ambil aja, Gak mau Haikhal bayar telpon mama ya sayang." sambung Herlin, Hana hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Herlin tersebut dan keduanya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Hana langsung melepaskan tangannya yang digenggam oleh Haikhal. "Kenapa dilepas?." tanya Haikhal dengan senyumnya, Hana hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut sebab dia dan Haikhal kembali menjadi pusat perhatian.