
"Gapapa, Intinya mau kamu libur sampe kapanpun kamu gak bakal dipecat, Iyapun dipecat aku yang bakal nafkahin kamu secarakan aku ini suami kamu." jelas Haikhal dengan senyum menggoda istrinya.
Hana hanya menatap dengan tatapan menjijikkannya mendengar penjelasan dari Haikhal. "Intinya gak bisa." balas Hana dengan wajah kesalnya akibat Haikhal yang bersikeras mengajaknya untuk pergi bulan madu.
"Ayolah sayang, Mau ya, Nanti aku yang bilang sama pemilik perusahaannya kalo kamu memperpanjang cuti." bujuk Haikhal.
"Gak bisa Haikhal, Gak bis seenaknya gitu." balas Hana mencoba membuat lelaki itu mengerti.
"Gak bisa gini, Dia imut banget waktu ngebujuk gue." guman Haikhal dengan menatap wajah yang tulus menolak permintaannya tersebut.
"Yaudah kalo gitu cari cara lain, Pokoknya gue harus bisa bawa dia bulan madu." gumannya kembali.
"Yaudah." jawab Haikhal yang nampak kecewa akan petusan Hana.
"Nah ngikut ginikan lucu." balas Hana dengan mencubit wajah suaminya dan langsung meninggalkan suaminya tersebut namun langkah kakinya kembali berhenti.
"Oiya, Mamakan masih dirumah sakit, Gimana kalo kita kerumah sakit?." tawar Hana kepada Haikhal yang masih diam saja.
"Boleh." jawab Haikhal dengan senyumnya dan ikut berdiri.
"Bentar aku ambil jaket dulu." ucap Hana dan berlalu mengambil jaketnya dan kembali keluar.
"Udah?." tanya Haikhal yang menunggunya. Hana menganggukkan kepalanya dan keduanya pergi meninggalkan kamar hotel dan menuju kerumah sakit.
Sesampai dirumah sakit keduanya langsung turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam. Saat berada didalam Hana melihat Julia istri ayahnya memarahi suster sedangkan Haikhal tidak memperdulikannya.
"Dimana wanita jalan itu, Kalian nyembunyiin dia dari saya." teriak Julia dengan kesalnya saat tidak menemukan Dewi.
"Maaf bu, Tapi kami tidak tau siapa yang anda cari." jawab suster yang mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Hana mengacuhkannya dan menaiki lift. "Itu anaknya." Julia langsung berlari menuju lift dan langsung masuk kedalamnya.
"Mana ibu lo." Julia mencoba menarik rambut Hana namun Haikhal dengan sigap menangkap tangan wanita tua itu.
"Anda siapa?." tanya Haikhal dengan wajah datarnya dan tatapan tidak suka menatap Julia.
"Oh udah ganti cowok lagi ya lo, Gak anak gak ibu sama sama murahan." teriak Julia dengan wajah kesalnya dengan lift yang terus berjalan dan diisikan oleh mereka bertiga saja.
"Apa jangan jangan cowok ini beli kamu ya, Kamu jual diri sama kayak mama kamu......."
"Berani sekali anda berbicara seperti itu kepada istri saya, Ada hak apa anda berbicara seperti itu kepadanya." potong Haikhal yang masih menatap tajam wanita yang ada dihadapannya.
"Ah emang bodoh, Mau lo nikah sama dia, Anak pelacur......."
Plakkkk.....
Julia mengangkat tangannya hendak membalas tamaran dari Hana namun lagi lagi Haikhal menangkap tangan wanita itu dan melemparnya keluar lift dan lift kembali tertutup seperti semula.
Lift kembali berjalan dan didalam itu tidak ada suara sedikitpun. Saat lift terbuka Hana langsung keluar dari lift tersebut dan menuju keruangan ibunya sedangkan Haikhal mengikutinya dari belakang namun langkah kakinya terhenti dan membiarkan Hana masuk terlebih dahulu. "Jangan biarkan orang yang berada dilift bersama saya dan istri saya tadi masuk kerumah sakit ini lagi." perintah Haikhal kepada satpam yang tengah berjaga.
"Baik tuan." jawab Satpam dan pergi meninggalkan tempat itu untuk memberitahu pekerja yang lainnya.
Haikhal menarik nafas panjang akibat masih sedikit emosi akibat ucapan yang keluar dari mulut wanita yang tidak dikenalinya namun dia mencoba tenang. "Mama tidur?." guman Haikhal saat melihat ibunya dan juga ibu mertuanya tertidur lelap.
Matanya beralih kepada istrinya yang nampak memperhatikan istrinya yang hanya diam dan menatap lekat ibu mertuanya. "Mama orang baik, Gak mungkin mama yang ngerebut papa dari tante Julia." guman Hana dengan tatapan tanpa arti menatap ibunya.
Setelah mengerti apa yang membuat istrinya terdiam Haikhal berjalan mendekat dan memegang bahu istrinya dengan tersenyum lebar. "Sayang." panggil Haikhal dengan nada sangat lembut sambil mengusap bahunya.
Hana menundukkan kepalanya dan menarik nafas panjang. "Lo pasti kaget ya sama kejadian tadi, Gue kasar sama orang." ucap Hana tanpa menatap lelaki itu.
__ADS_1
"Enggak, Siapa bilang." jawab Haikhal dengan senyumnya sambil mengusap kepala wanita tersebut. Hana yang awalnya menundukkan kepalanya menatap lekat wajah lelaki yang tersenyum tulus menatapnya saat ini.
"Lo nyeselkan nikah sama......"
"Gak ada yang salah, Gak ada yang nyesel." potong Haikhal dengan tersenyum lebar berharap istrinya tidak berpikir kemana mana tentang hal lain.
"Tapi gue......." Haikhal meraih tubuh kecil itu dan mendekapnya sambil tangannya mengusap kepala wanitanya dengan penuh kasih sayang.
"Gak usah mikirin hal lain, Aku sama sekali gak nyesel udah nikah sama kamu, Karna aku udah tau dan udah nyari tau semuanya tentang kamu sejak lama, Kamu hebat udh ngelewatin semuanya sendiri." bisik Haikhal dengan memberikan beberapa kecupan didahi wanita itu.
Hana hanya diam dan memejamkan matanya, Dia tidak tau ingin mengatakan apa saat ini dan tidak terlalu memperdulikan ucapan Haikhal sebab yang dipikirkannya saat ini adalah masalah keluarganya. Namun Haikhal dia terus saja mengoceh dengan tangan yang terus memberikan kelembutan dan tubuh memberikan kehangatan kepada istrinya.
Hingga merasa tenang berada didekapan suaminya, Hana membalas pelukan hangat tersebut dan mengusapkan keoalanya didada bidang lelakinya tersebut. "Seenggaknya sekarang gak seburuk dulu." ucap Hana dengan suara rendah sehingga membuat Haikhal tidak terlalu mendengarnya.
"Nak." Dewi terbangun namun tidak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh anak dan menantunya tersebut. Hana menoleh kepada kepada ibunya dengan merenggangkan pelukannya dari Haikhal sedangkan Haikhal hanya mengikutinya saja.
"Mama." Hana yang masih menginginkan pelukan tersebut dengan terpaksa melepaskannya dan menghampiri ibunya. Begitupun dengan Haikhal yang juga ikut mendekat.
"Ada yang sakit?." tanya Hana dengan memegang bahu ibunya tersebut.
"Gak ada sayang." jawab Dewi dengan senyumnya dan berusaha untuk duduk. Haikhal yang sangat sadar langsung mebantu ibu mertuanya untuk duduk dengan Hana yang membenarkan posisi bantal untuk ibunya bersandar.
"Kalian kenapa kesini?, Seharusnya kalian istirahat." ucap Dewi dengan nada rendah sebab baru bangun tidur.
"Kita gak capek makanya kesini ma." jawab Hana dengan senyumnya.
"Em." Herlin menggeliat dan membuka perlahan matanya.
"Haikhal? Hana?." ucapnya saat masih sedikit buram melihat orang yang ada dihadapannya. Haikhal dan juga Hana menoleh kepada Herlin begitupun dengan Dewi yang juga sadar akan suara Herlin yang memabggil Haikhal dan juga Hana.
__ADS_1