
"Bawa semua menu kesini." pinta Haikhal dan kembali menatap istrinya dengan tersenyum lebar sedangkan Hana menatap kesal akan Haikhal yang sudah mulai lancang dan menciumnya didepan umum pula.
"Masih mau dicium lagi" goda Haikhal kepada istrinya tersebut.
"Cih." Hana dengan wajah kesal membuang muka dari Haikhal yang terus saja menatapnya hingga makanan sampai keduanya menyantap dengan lahap makanan makanan tersebut.
"Enak?." tanya Haikhal saat istrinya makan dengan cukup lahap.
"Em." Hana menganggukkan kepalanya dengan mulut penuh sehingga kembali membuat Haikhal tersenyum akan tingkahnya.
Setelah selesai makan keduanya meninggalkan ruang makan tersebut. "Ayo kita pergi ke pantai ngeliat langit sore."ajak Hana dengan menarik tangan Haikhal yang berjalan lambat.
Haikhal terdiam sejenk tanpa bergerak sedikitpun dan menelan kasar silivanya sebab takut akan pantai. "Ayo." ajak Hana kembali saat suaminya tidak bergerak dari tempat awal.
"Em, Ki-kita kan belum mandi, Gimana kalo mandi, Bersih bersih abis itu baru jalan jalan." jawab Haikhal yang mwncoba biasa saja tanpa menampakkan ekspresi takut sedikitpun.
"Gak ada waktu, Nanti mataharinya keburu terbenam, Ayo." rengek Hana kembali sehingga membuat Haikhal tidak tega menolaknya dan mengikuti kemana langkah kaki istrinya membawanya.
Hana berlari mencari tempat yang cocok untuk melihat mata hari terbenam dan dia mendapatkannya dimana tempatnya tepat ditepi pantai. "Hah." Haikhal mencoba tenang dan releks saat melihat pantai saat ini demi kesenangan istrinya.
Dia berjalan mendekat dengan perlahan menuju istrinya. "Loh, Haikhal kan dia takut pantai ataupun laut." guman Ara yang sangat ingat Hana yang menceritakannya sendiri kepadanya.
"Huh, Gimana? seneng?." tanya Haikhal dengan senyum takutnya namun Hana tidak sadar sebab dia kesenangan melihat pemandangan yang sangat indah.
"Iya." jawab Hana dengan wajah senangnya.
Devan yang berkeliling pantai melihat Ara namun mata Ara tidak tertuju kepada matahari terbenam melainkan kearah lain sehingga matanya ikut menatap kemana mata Ara menatap. "Loh." mata Devan membulat saat Haikhal berada tepat ditepi pantai dan beralih menatap kepada wanita yang ada disampingnya dan ternyata itu adalah Hana.
"Hah." Haikhal menggelengkan kepalanya mencoba melawan rasa takutnya dan kembali mencoba menatap kematahari yang hendak terbenam itu namun ombak kecil mendekat sehingga membuatnya sontak menarik istrinya kebelakang dan keduanya terjatuh.
__ADS_1
"Auuuu." Hana yang sedikit kesakitan memegang pinggulnya.
"Kamu kenapa sih." ketus Hana saat pinggangnya sedikit sakit.
"Enggak, Hah, Hah, Gak boleh main disini." ucap Haikhal yang sangat takut kejadian lalu kembali terulang. Hana langsung memasang wajah bingungnya saat mendengar ucapan lelaki itu.
"Kenapa? Apanya gak boleh." tanya Hana dengan wajah yang masih saja bingung.
"Enggak, Kita harus pergi." ucap Haikhal dengan tubuh yang gemetaran ketakutan saat melihat ombak kecil kembali mendekat. Hana kembali menatap kedepan dan dia tidak menemukan keanehan apaun diarah tatapan suaminya.
"Hey kenapa?." tanya Hana dengan memegang wajah suaminya yang benar benar terlihat ketakutan.
Haikhal tidak menjawabnya, Dia benar benar takut meskupun sudah berusaha melawan rasa takutnya dia tetap takut akan ombak laut ataupun lautan saja. "Haikhal kamu kenapa." tanya Hana dengan wajah hawatirnya akan suaminya tersebut.
Haikhal yang benar benar ketakutan langsung tidak sadarkan diri dengan terjatuh tepat ditubuh istrinya. "Eh." Hana yang tidak kuat menahan tubuh Haikhal yang jauh lebih beesar darinya terduduk.
Mata Ara dan juga Devan membulat sehingga keduanya berlari mendekat kearah Hana dan juga Haikhal. "Haikhal." Hana menepuk pelan wajah Haikhal mencoba membuatnya sadar namun Haikhal sama sekali tidak merespon menandakan jika dia benar benar tidak sadarkan diri.
"Lo gapapa?." tanya Ara dengan membantu Hana untuk berdiri.
Hana menggelengkan kepalanya dan langsung berlari menyusul Devan yang membawa suaminya entah kemana.
Devan meletakkan Haikhak diatas ranjang dan dokter dengan segera membawa Haikhal kedalam ruangan dan memeriksanya. "Gimana?." tanya Hana dengan wajah hawatirnya, Dia benar benar hawatir akan keadaan suaminya tersebut.
Devan tidak menjawab sehingga membuat Hana mencoba mengintip kedalam. Devan yang sudah menahan kesal sejak lama membentak kesal Hana. "Lo gak tau ya kalo Haikhal takut sama laut ataupun pantai, Lo masih juga ngebawa dia main ke pantai, Dia takut sama ombak, Lo mau bunuh dia? Apa gak cukup dengan lo ninggalin dia bikin dia sedih minta ampun? dan lo sekarang mau bunuh dia, iya? dengan cara ngebawa dia ketempat yang dia takutin, Jawab." teriak Devan dengan mendorong bahu Hana dengan kesalnya.
Hana yang sudah terbiasa dibentak hanya memasang wajah bingungnya. "Dia gak bilang kalo dia takut sama ombak." jawab Hana dengan wajah tidak mengetahui apapun.
"Halah, Hana lo gak usah pura pura bego deh, Lo tau semuanya tentang Haikhal." bentak Devan yang bertambah kesal.
__ADS_1
Hana hanya diam dia sama sekali tidak mengerti akan apa yang dikatakan oleh Devan saat ini. "Kalo sampe terjadi apa apa sama Haikhal, Gue sendiri yang bakal bunuh lo." tegas Devan dengan mencengkram dagu Hana.
"Devan." teriak Ara saat baru sampai sebab tertinggal Jauh oleh Hana.
"Lo gak ada hak ngancem dia kayak gitu." tegas Ara dengan melototkan matanya kesal akan Devan yang terlalu berlebihan menurutnya.
"Lo gak usah ikut campur, Lo gak usah belain cewek gak tau di untung kayak dia." balas Devan yang semakin kesal.
"Jaga mulut lo, Lo......"
"Gimana dok keadaan suami saya?." tanya Hana saat dokter sudah keluar.
"Tuan tidak apa apa nona, Beliau hanya sedikit kelelahan." jawab dokter dengan senyumnya sehingga membuat Devan mengerutkan dahinya bingung.
"Apa boleh saya masuk?." tanya Hana.
"Masih belum sadar juga lo mau nemuin dia di......."
"Devan cukup." bentak Ara yang benar benar kesl akan Devan yang selalu menydutkan Hana.
"Boleh nona, Silahkan." jawab dokter dengan senyumnya. Hana membuang nafas panjang dan tersenyum dan masuk kedalam ruangan tersebut.
Hana masuk dengan sangat perlahan agar suaminya tidak terganggu. Haikhal menoleh kepintu dan terlihat istrinya yang masuk, Hana yang sadar akan Haikhal yang sudah sadarpun langsung tersenyum lebar dan dibalas senyuman hangat dari Haikhal. "Sini sayang." ucap Haikhal dengan senyumnya tanpa menampakkan wajah aneh lagi.
Hana dengan wajah bersalah namun masih juga tersenyum berjalan mendekat kearah suaminya tersebut. "Kamu gapapa kan?." tanya Hana dengan wajah masih hawatir.
Haikhal langsung tersenyum menatap istrinya tersebut. "Donter jawab apa tadi pas kamu nanya?." tanya balik Haikhal.
"Dokter bilang kamu kecapean." jawab Hana yang tidak percaya.
__ADS_1
"Nah itu udah dapet jawabannya, Aku gapapa kok, Gak usah hawatir." balas Haikhal dengan senyumnya dan meraih tangan istrinya tersebut.
"Eh?." mata Haikhal menatap dengan wajah bingunga kebagian dagu istrinya.