Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Laki-laki Misterius


__ADS_3

Indra pun ketawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi temannya itu.


"Eh kenapa malah ketawa. Emang ada yang lucu, temannya sholat bukannya bersyukur kok malah diketawain. Diem ngak lo, kalo masih ketawa lagi gue perban tu mulut lo," ancam Ridho.


"Lagian aneh aja, biasanya lo paling anti yang namanya mesjid. Lah..sekarang, tiba-tiba aja pulang dari mesjid, emangnya lo bisa sholat?" Indra memegang perut karna menahan tawanya.


"Siapa bilang gue nggak bisa sholat, gini-gini gue dulu rajin sholat sama mama gue."


Tiba saja Ridho teringat sama mamanya yang tidak pernah meninggalkan sholat walaupun lagi sakit.


"Ma maafin Ridho ma, Ridho lupa sama pesan mama buat jangan tinggalin sholat, sejak kepergian mama Ridho lupa sama kewajiban Ridho sendiri, udah sepuluh tahun lamanya hidup Ridho nggak jelas karna masih belum bisa ikhlas melepaskan kepergian mama," gumam Ridho dalam hati sambil tak terasa air matanya pun menetes dengan sendirinya.


"Hey bro." Indra melambai-lambaikan tangannya di muka Ridho. "Lo kenapa udah gila lo ya, kok malah nangis. Wah ada yang nggak beres sama nih anak, harus diperiksa kejiwaannya nih. Ayo ikut gue ke rumah sakit jiwa." Indra menarik-narik tangan Ridho.


"Apa-apaan sih lo main tarik-tarik aja." Ridho memplototkan matanya. "Gue itu nggak gila, cuman gue nangis karna_


"Karna apa? Karna lo beratem sama Sinta," potong Indra.


"Bukan, bukan itu. Gue nangis karna gue, karna gue.. Ah udah lah lupain aja. Gue mau ke dalam dulu."


"Lo nggak ngumpul sama temen-temen kita bro? Anak-anak Rasta pada kangen sama lo, kemaren lo nggak datang pada lesu muka tuh anak, nggak ada semangat-semangatnya karna lo ngak datang," kata Indra dengan ekspresi biasa saja.


"Yaudah sekarang gue kesana,lo tunggu disini dulu, gue mau ambil kunci motor dulu di dalam sama ganti sarung dengan celana." Ridho membuka gerbang rumah nya lalu masuk kedalam untuk ambil kunci motor sama ganti sarungnya.


"Ya udah ayo berangkat," ucap Ridho yang udah muncul dengan motor kesayangannya.


Di basecame geng Rasta terlihat anak-anak sudah berkumpul sambil berbincang-bincang.


"Nggak seru juga kalo ngak ada Ridho, biar pun tu orang ngeselin, tapi kalo ngak ada dia ngak seru," kata Fiko temen satu geng sekaligus temen satu sekolah tapi ngak sekelas.


"Iya juga ya, hidup gue terasa hampa kalo nggak ada dia," ucap Dino dengan raut wajah yang dibuat-buat sedih.


"Ah lebay lo Din," sahut Tito sambil menepuk bahu Dino dengan keras.


"Aww sakit tau bahu gue lo tepuk." Dino mengusap-usap bahunya yang terasa kebas akibat pukulan Tito yang di sambut tawa oleh semua teman-temannya.


Di saat mereka asik dengan ocehan yang nggak jelas. Tiba-tiba Indra datang dan disusul Ridho dari belakang.


"Eh akhirnya ketua kita datang juga,dari mana aja lo, kemaren kenapa nggak nongrong sama kita?" tanya Fiko sambil menatap ke arah Ridho yang sedang memakirkan motor nya


"Gue ketiduran semalam," jawabnya singkat.


"Tumben lo tidur cepet,abis minum obat tidur lo ya.. semalam," timpal Fiko.


"Ketua Ridho ada yang kangen sama lo tuh," ucap Tito sambil melirik ke arah Dino yang duduk di sampingnya.


"Siapa?" tanya Rido.


"Tuh si Dino."


"Apaan sih, siapa juga yang kangen sama orang songong kayak dia," sanggah Dino.

__ADS_1


"Tadi itu apa, lo bilang hidup lo hampa kalo nggak dia, sekarang malah nggak ngaku," ungkap Tito lagi.


"Udah-udah jangan bertengkar. Dari pada bertengkar mending kita seru-seruan buat kegaduhan di jalanan gimana?" saran Fiko.


"Boleh tuh," jawab Indra dan juga di setujui oleh yang lain kecuali Ridho, Ia hanya diam.


"Kalo lo gimana, kok lo diam aja, lo nggak setuju?" tanya Fiko pada Ridho yang sedari tadi tidak menanggapinya.


"Kalo menurut gue kita jangan buat kegaduhan lagi deh," ucap Ridho.


"Kenapa?" tanya Indra, "Lo takut?"


"Bukan itu tapi_


"Nggak ada tapi-tapian pokok nya lo harus setuju, gue heran sama lo biasanya paling nomor satu kalo buat kegaduhan dan tauran. Lo ketua geng kita pokoknya lo harus ikut." Ucapan Ridho dipotong oleh Fiko.


"Yaudah deh." Dengan sangat terpaksa Ridho pun menurut sama teman-temannya.


Semua ada geng Rasta pun menyusuri jalan malam untuk membuat kegaduhan di kota itu.


Geng Rasta adalah geng paling ditakuti, geng ini selalu membuat onar dan tidak akan memberi ampun pada lawannya. Sudah banyak korban yang mati ditangan geng pemberontak tesebut.


Geng Rasta yang di ketuai oleh Ridho yang beranggotakan 50 orang.


"Eh itu bukannya Rahma ya." Indra memberhentikan motor nya agak jauh dari Rahma dan di ikuti oleh yang lain.


"Rahma? Siapa itu Rahma?" tanya Fiko yang agak lupa dengan gadis itu.


"Itu loh cewek yang pake hijab di sekolah kita," jawab Indra sambil menunjuk gadis itu.


"Yuk kita kesana, kita kerjain habis-habisan tu cewek," ucap Fiko dengan senyuman menyeringai.


"Aduh gawat, mereka mau ngerjain Rahma gimana nih, gue harus apa? Gue harus tolongin Rahma, tapi gimana caranya. Nggak mungkin juga gue tolongin terang-terangan. Gue harus cari cara nih," gumam Ridho dalam hati dengan bingung.


"Aduh..." Ridho pura-pura kesakitan sambil memegang perutnya.


"Kenapa lo?" tanya Indra.


"Perut gue sakit kayaknya gue mau cari toilet dulu." Ridho berlari-lari kecil sambil memegang perutnya seolah-olah sedang kesakitan.


Teman-temannya menatap ke arahnya dari jauh dengan tatapan heran dan mereka pun segera mendekati Rahma yang membawa kantong kresek di tangannya.


"Eh mau kemana lo?" Indra mengadang Rahma dan menghalangi jalan nya


"Indra? ka-kamu ma-mau apa di sini?" tanya Rahma dengan wajah ketakutan. "Permisi a-aku mau lewat," sambungnya.


"E-ets lo nggak akan bisa kemana-kamana," ucap Indra lagi, tangannya bergerak mau menyentuh pipi Rahma, tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang menendang tangannya hingga ia meringis kesakitan.


"Ahhh Siapa lo?" tanya Indra pada seseorang itu.


Bukannya menjawab orang itu malah diam saja. Wajahnya di tutupi sarung, laki-laki itu terihat misterius, dengan beralaskan kaki sandal jepit. Sungguh membuat orang penasaran siapa sebenarnya laki-laki itu?

__ADS_1


"Kenapa kalian bengong aja ayo hajar dia," perintah Indra pada temannya.


Tanpa tunggu lama mereka pun menghajar laki-laki misterius itu.


Laki-laki itu sangat kuat dan gesit untuk menghidar dari pukulan lawannya. Tidak sedikitpun tubuhnya tersentuh oleh lawannya. Dengan satu lawan tiga ia mampu mengalahkan ketiga lawannya.


Di saat pertarungan itu, Rahma mencoba melarikan dirinya, namun sayangnya dengan cepat Indra menarik tangannya.


Tangan yang satunya lagi beralih membuka kerudung warna maroon yang di pakai Rahma saat itu, bersamaan dengan itu terdengar bunyi sirine mobil polisi dengan panik nya tanpa sengaja Indra mendorong tubuh Rahma hingga kepalanya ke bentur tiang. Dan akibatnya Rahma pun jatuh pingsan karna benturan yang sedikit keras dengan kepala tidak menggunakan kerudung.


Indra dan teman-temannya kalang kabut melarikan dirinya agar tidak ketanggap sama polisi.


Laki-laki misterius menghampiri Rahma yang telah pingsan di tepi jalan itu.


Laki-laki itu membuka sarung yang menutupi wajahnya dan ternyata laki-laki misterius itu adalah Ridho cowok tertampan di sekolahnya.


Ridho terpana melihat Rahma yang telah pingsan tanpa menggunakan kerudung itu.


Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut panjang hitam dan lebatnya.


Membuat jantung Ridho berdetak kencang tak karuan. Ia terpaku melihat gadis itu yang terlihat jauh lebih cantik dari pada menggunakan kerudung.


"Astaga, gadis ini ternyata sangat cantik tanpa menggunakan hijabnya. Sungguh beruntung sekali orang yang jadi suaminya nanti," gumam Ridho dalam hati sambil menatap wajah gadis itu.


"Eh apaan sih, dia kan lagi terluka kok gue malah bengong gini, dia pasti sangat malu kalo tau dengan rambut terbuka seperti ini, eh kerudung nya mana ya.." Ridho mencari kerudung Rahma dan setelah ia menemukannya ia pun memakaikan kerudung itu kepada Rahma.


"Nah kalo kayak gini pasti dia nggak malu. Tetap cantik kok pakai kerudung, memang gadis yang luar biasa. Kenapa dulu aku membencimu, padahal kamu gadis yang baik. Aku benar-benar bodoh telah membencimu." Ridho masih bergumam sambil menggendong Rahma dan membawanya pulang.


"Assalamu'alaikum," ucap Ridho ketika berada di depan pintu rumah Rahma.


"Wa'alaikum salam," jawab seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu yang tak lain adalah Bu Fatimah.


"Astagfirullah Rahma kenapa nak?" tanya Bu Fatimah yang kaget melihat putrinya pingsan lagi dan ada darah di kening putrinya itu.


"Tadi Rahma pingsan di jalan bu," jawab Ridho.


"Ya sudah, tolong bawa Rahma masuk nak."


Ridho membawa Rahma masuk kedalam dan menidurkannya di sofa ruang tamu yang terlihat lusuh.


Bu Fatimah mengambil air panas di dapur untuk mengompres dahi Rahma yang sedikit berdarah. Bu Fatimah sangat khawatir melihat putrinya itu.Ia mengompresnya dengan pelan-pelan dan hati-hati.


"Nak terima kasih banyak ya, kamu udah dua kali menolong anak ibu Rahma."


"Ah sama-sama Bu, itu juga kebetulan saya lewat di sana," ucap Ridho dengan senyuman Ramahnya.


'"Oh ya namamu siapa Nak?" tanya Bu Fatimah dengan lembut.


"Nama saya Ridho bu, ini lumayan larut saya pulang dulu ya bu," pamit Ridho.


"Oh ya sudah Nak, hati-hati ya."

__ADS_1


"Ridho pulang ya Bu, assalamu'alaikum," pamit Ridho sambil mencium punggung tangan bu Fatimah


"Wa'alaikum salam," jawab bu Fatimah.


__ADS_2