Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Baru pulang


__ADS_3

Ridho mengangkat tubuh Rahma dari sajadah lalu memindahkannya ke atas kasur. Istrinya itu ketiduran di atas sajadah sehabis melaksanakan sholat isya dan sholat sunnah.


"Kamu sudah pulang?"


Rahma terbangun saat suaminya telah memindahkannya. Mungkin merasa terganggu dengan pergerakan suaminya itu.


Ridho hanya menanggapi dengan tersenyum. Pemuda itu mengganti pakaiannya dengan kaos polos berwarna hitam dan celana pendek selutut.


"Udah makan?"


Wanita itu bertanya lagi. Terlihat jelas ada kekhawatiran di raut wajahnya. Dari tadi ia menunggu suaminya pulang. Entah kenapa sebentar saja tidak bertemu dengan suaminya itu ia merasa sangat rindu. Dari tadi dia tidak sabar untuk melihat wajah tampan suaminya. Ingin melihat wajah tampan itu tersenyum padanya. Ingin mendengar suara lembut pria itu. Dan nyatanya pria itu baru pulang jam segini. Sesibuk itukah suaminya hingga pulang malam-malam begini?


Ridho terdiam. Ia agak ragu menjawab. "Belum," balasnya.


"Yaudah aku ambilin makanan buat kamu," ucap Rahma, kemudian ia pergi ke dapur memanaskan makanan sebentar lalu kembali ke kamar.


"Kamu emangnya udah makan?" tanya Ridho yang melihat hanya sepiring makanan dibawa istrinya itu.


Rahma hanya merespon dengan gelengan kepala. Ia belum makan sama sekali dari tadi. Dari tadi wanita itu menunggu suaminya pulang.

__ADS_1


"Kenapa?"


Ridho menyerngitkan keningnya. Ingin tau alasan dari istrinya itu.


Wanita cantik di hadapannya itu hanya tersenyum. "Aku akan makan setelah suamiku makan."


Ridho tampak terharu mendengar perkataan wanita itu. Matanya berkaca-kaca menatap bola mata istrinya. "Maaf," gumamnya. Ia merasa bersalah telah lama pulang sehingga istrinya itu tidak makan karenanya.


"Ayo makan! Ntar keburu dingin."


Rahma memindahkan piring ke tangan Ridho. Tangannya terulur mengusap kedua pipi suaminya yang sudah basah kena air mata. Kenapa suaminya itu cengeng sekali? Tidak menyangka seorang Ridho yang berwajah sangar ternyata cengeng juga. Andai saja teman-temannya tau jika pria itu menangis. Mungkin akan mendapat ejekan dari teman-temannya.


"Baiklah," balas Rahma. Ia tidak mau pria cengeng dihadapannya itu menangis lagi karna dirinya.


Ridho menyendok makanan menyuapi sang istri lalu menyendok makanan untuk dirinya.


Setelah makanan habis pria itu meletakan piring di atas nakas. Meneguk air putih yang disediakan istrinya.


"Sayang," panggil Ridho dengan nada manja. Akhir-akhir ini setelah menikah pria sangar itu jadi sangat manja pada Rahma. Pria itu merebahkan kepalanya di paha istrinya.

__ADS_1


"Iya kenapa?"


"Usap kepalaku," pintanya. Lagi-lagi dengan nada manja.


Rahma menurutinya. Ia mengusap-usap kepala sang suami hingga pria itu tertidur. Sudut bibirnya tertarik melihat sang suami telah tidur di pahanya. Wajah tampan itu terlihat polos saat tertidur. Ia memindahkan kepala Ridho ke atas bantal. Memandangi wajah tampan itu. Ia mencium kening sang suami lalu tidur di sampingnya. Memeluknya erat hingga akhirnya ia pun tertidur.


* * *


Ridho tampak asik memainkan rambut panjang istrinya. Menatap wajah istrinya lekat. Ia mengalungkan tangan ke pinggang sang istri. Tersenyum saat mata sang istri terbuka.


"Sayang sudah bangun sholat yuk," ajaknya.


Rahma melirik jam yang menujukan setengah empat. Rahma mengerti sang suami pasti mengajaknya sholat tahajud. Ia tersenyum lalu mengangguk.


Sedetik kemudian bibir Ridho dan bibirnya bersentuhan.


Deg


Jantung keduanya berpacu cepat. Itu kali pertama bagi keduanya. Sejenak suasana hening. Hanya bunyi jarum jam yang terdengar.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate lima bintang dan komen


__ADS_2