Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Kacau


__ADS_3

"Cepat katakan!" Ridho tampak tak sabar, ingin cepat wanita yang duduk di sofa ruangan itu keluar. Ia memilih berdiri dari pada duduk di sofa yang sama. Rasanya enggan berdekatan dengan mantan pacar.


"Apa kamu benar-benar nggak ada rasa sedikit pun padaku?"


Ridho mengerutkan kening. Pertanyaan macam apa ini? pikirnya.


"Satu-satunya orang yang gue cintai cuma istri gue," jawabnya setelah beberapa detik. Ia menekankan kata istri agar Sinta mengerti. Ridho sama sekali tidak mempunyai rasa sedikit pun pada mantan pacarnya ini. Baik itu dulu, Sinta hanya sebagai tameng agar ia terbebas dari hukuman di sekolah. Mengingat betapa bandelnya ia dulu.


"Kenapa?" wanita itu bertanya lagi. "Kenapa kamu nggak bisa cinta sama aku?"


Belum sempat Ridho menjawab pertanyaannya. Sinta berdiri dan tiba-tiba memeluknya yang reflek ia dorong hingga wanita itu jatuh ke sofa. Ridho marah hendak menyeretnya keluar, melangkah tergesa-gesa. Namun, sayang kakinya malah tersandung meja, membuatnya jatuh menimpa tubuh wanita itu.


Yang tidak menguntungkan lagi. Rahma datang menjatuhkan rantang yang ia bawa karna syok melihatnya seperti berselingkuh. Salah paham dengan keadaan ini.


Cepat-cepat Ridho berdiri dengan wajah panik. "Rahma ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelasin!" teriaknya, kala wanita yang dicintainya itu berlari begitu saja.


Ridho mengejarnya tapi wanita itu lebih dulu masuk ke lift yang kebetulan terbuka. Ia menggeram kesal sambil menekan tombol lift dari luar berkali-kali.

__ADS_1


Beberapa menit ia menunggu pintu lift terbuka. Buru-buru Ridho masuk sambil menelpon seseorang.


"Usir wanita yang ada di ruang saya," perintahnya pada orang di seberang telepon.


Setelah orang di seberang menjawab, "Oke." Ia menutup sambungan.


Ting


Pintu lift terbuka di lantai dasar. Ridho berlari tergesa keluar dari lobby. Ia semakin resah ketika tidak menemukan wanita itu di luar.


Saat sampai di rumah ia juga tidak menemukannya. Pintu terkunci. Sudah pasti Rahma tidak ada di dalam.


Ridho terus berpikir, mungkinkah ia di resto?


Akhirnya setelah berpikir cukup lama ia memutuskan untuk pergi ke sana. Namun, lagi-lagi ia tidak menemukan wanita itu.


Pikiran Ridho kacau. Kemungkinan terburuk telah ia bayangkan. Bagaimana kalau wanita itu meminta pisah dengannya? Ridho tidak akan sanggup kehilangannya lagi.

__ADS_1


Ridho menggeram frustasi. Seharusnya ia tidak membiarkan Sinta masuk ke ruangannya. Ia benar-benar bodoh telah tertipu oleh wanita itu.


Ia menambah kecepatan kendaraan untuk melampiaskan rasa kesal. Menyalip beberapa pengendara di depannya. Rambut yang berantakan di terpa angin dan jas yang berkibar tidak ia pedulikan.


Pria itu berkendara tak tentu arah sampai samar-samar bunyi dering terdengar dari ponsel membuatnya memelankan laju kendaraan lalu berhenti di tepi jalan.


Ia berharap itu Rahma. Ridho merogoh saku jas bersiap untuk menerima panggilan. Tapi saat ia melihat layar ponsel yang tertulis itu bukan nama yang ia khususkan untuk istrinya melainkan 'Banu' sekretarisnya.


Dengan malas ia mengangkat telpon. "Ada apa?" tanyanya setelah mengucap salam terlebih dahulu.


"Anda kemana aja, Pak? Sebentar lagi ada jadwal meeting dengan klien."


Reflek Ridho mengecek jam tangan. Sudah jam satu lewat dua puluh menit. Satu jam lebih ia meninggalkan kantor bahkan ia sama sekali belum makan, sholat pun belum dilaksanakan. Ridho beristighfar bisa-bisanya ia melupakan kewajibannya.


"Saya segera ke sana," ucapnya.


Pria itu menyimpan ponsel kembali di saku jas. Kemudian, menghidupkan kendaraan kembali sambil melirik kanan kiri. Mencari Masjid.

__ADS_1


__ADS_2