
Subuh itu, Ridho masih tertidur lelap, terdengar suara berisik yang berasal dari benda kecil mengganggu tidur lelapnya.
"Ini alarm berisik amat sih, ganguin orang lagi tidur aja. Mimpi indah gue jadi terpotong jadinya kan." Ridho memarahi benda kecil itu karna telah mengusik tidurnya. "Baru juga jam setengah enam udah bangunin aja," ucapnya kemudian.
"Lanjutin tidur lagi aja deh, mimpi gue sampai mana tadi ya? Eh tunggu dulu. Apa kata gue tadi, jam setengah enam? Astagfirullah... Sholat subuh gue telat."
Dengan mata yang masih mengantuk Ridho berlari ke kamar mandi dengan mata yang masih terpejam.
Setelah selesai sholat ia melanjutkan tidurnya kembali, ia tak mampu lagi menahan rasa kantuknya. Akibat semalam begadang sama anak geng Rasta, geng motor yang selalu mencari keributan di jalanan.
Membuat onar itu salah satu ciri khas geng motor tersebut. Meskipun sekarang Ridho tidak mau lagi berbuat ke onaran dan juga telah melarang teman-teman gengnya berbuat demikian, tapi tetap saja mereka tidak mau menanggapi ocehan Ridho. Dan dengan sangat terpaksa laki-laki itu hanya menjadi penonton apa yang dilakukan teman-temannya itu.
Di Sekolah
Di taman yang sunyi dan sepi, seorang gadis dengan balutan kerudung di kepalanya tampak sedang duduk di subuah bangku taman itu.
"Rahma," panggil seseorang.
Gadis itu menoleh ke asal suara.
Orang itu mendudukan tubuh di samping gadis itu. Ia pun tersenyum menatap wajah gadis polos itu.
"Lo ngapain disini, kita ke kantin Mpok Nani yuk," ajak orang itu yang tak lain ialah Ridho.
Gadis itu hanya mengiyakan ajakan laki-laki itu.
Saat mereka berdua hendak pergi dari taman itu, tiba-tiba saja Sinta datang menampar Rahma dengan sangat kuat.
Prakkk
Gadis itu meringis memegang pipinya yang terasa sakit, ada sedikit darah di ujung bibirnya.
Ridho yang menyaksikan hal itu sontak kaget dengan mata yang terbelalak.
"Apa-apaan sih lo Sin," bentak Ridho yang tampak emosi
"Kamu itu yang apa-apaan? Hanya karna cewek aneh ini kamu itu berani mutusin aku. Bukannya kamu itu benci sama dia, tapi kenapa sekarang kamu malah deket-deket sama dia dan tinggalin aku gitu aja?"
"Suka-suka gue dong mau deket sama siapa aja. Dan ingat baik-baik gue itu nggak pernah suka atau pun cinta sama lo. Dan jangan pernah lo lakuin hal ini sama dia, kalo ini terulang lagi lo akan berurusan sama gue," ucap Ridho mengancam. "Ayo kita pergi dari sini."
Dia menarik tangan Rahma dan membawanya menjauh dari situ. Rahma yang terseret berusaha melepaskan tangan dari genggaman laki-laki itu.
"Ridho."
"Iya ada apa?" tanyanya sambil menghentikan langkahnya.
Rahma melirik ke tangan yang berada di genggaman Ridho. "Tolong lepasin tangan ku," ujarnya dengan sedikit gugup.
Ridho juga melirik kearah tangannya dan akhirnya melepaskan tangan gadis itu. "Eh maaf gue nggak sengaja," ucapnya cengengesan.
"Cuma pegangan tangan aja jantung gue mau copot, apa lagi lebih dari ini? Entah apa yang terjadi sama gue. Cewek ini benar-benar beda sama yang lain. Dari banyak cewek yang pernah deket sama gue, belum pernah gue ngerasa kayak gini," pikirnya dalam hati.
"Lo nggak apa-apa kan, itu bibir lo berdarah pasti sakit ya?" Ridho merasa khawatir sama gadis di sebelah itu.
"Nggak apa-apa, cuma berdarah sedikit aja kok."
"Maaf ya, ini semua gara-gara gue lo jadi kayak gini." Ridho memasang wajah bersalah terhadap gadis itu.
" Kenapa minta maaf, kan ini bukan salah kamu," tukas Rahma sambil sempet juga tersenyum.
__ADS_1
"Kita ke UKS ya, gue obatin memar di muka lo."
"Nggak usah," tolak Rahma.
"Pokoknya lo nggak boleh nolak, ayo ke UKS," ajaknya yang di ikuti oleh gadis itu dari belakang.
Mereka berdua pergi ke UKS, di sana tampak Ridho mencari kotak obat untuk mengobati Rahma dan setelah beberapa saat ia pun menemukannya.
Di ruang UKS itu tampaklah Ridho dengan telaten mengobati luka gadis itu, gadis telah berulang kali menolak biar dirinya saja mengobati. Tapi tetap saja Ridho tak menghiraukannya.
Ia terus menatap lekat wajah polos gadis itu yang terlihat merah akibat tamparan Sinta. Ia terpana melihat wajah gadis itu yang begitu dekat dengannya.
Gadis mengalihkan pandangan, jantung nya berdetak tak beraturan. Dengan cepat ia pun beranjak pergi.
"Lo mau kemana?" tanya Ridho.
"A-aku ma-u ke toi-let," jawab gadis itu yang tampak gugup.
Pulang sekolah Ridho menawarkan untuk mengantarkan Rahma pulang. Ia juga ingin ikut juga ke pasar, katanya penasaran sama tempat ibu Rahma jualan dan Rahma pun mengizinkan.
"Assalamu'alaikum bu." Rahma menyalami ibunya dan di ikuti oleh Ridho di belakang.
"Wa'alaikum salam, kamu udah pulang. Nak Ridho ikut juga?" tanya bu Fatimah sambil mengulurkan tangannya.
"Iya bu," jawab Ridho dengan ramah.
Ridho pun memperhatikan sekitarnya dan mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di situ.
Ia terus saja memperhatikan Rahma yang sedang melayani pelanggan. Dan sesekali ia tersenyum.
Suasana pasar yang lumayan ramai itu baru pertama kalinya Ridho lihat. Ia tak pernah ke pasar seperti ini sebelumnya.
Rahma menghampirinya dengan membawakan dua piring gado-gado serta dua gelas teh manis.
Ridho pun tersenyum. "Oh iya," jawabnya dan mulai memakan gado-gado itu.
"Ibu lo jualan di sini udah berapa lama?"
"Udah lumayan lama, sejak nenek meninggal 5 tahun yang lalu. Ibu yang melanjutkan jualan di sini." Gadis itu mengambil tehnya dan meneguk teh itu. Pemuda itu menanggapi dengan anggukan.
"Kamu punya cita-cita nggak?" tanya gadis itu sedikit ragu.
Ridho menghentikan aktivitas makannya sejenak. "Punya," ucap nya setelah itu mengambil teh lalu meneguknya.
"Kalo boleh aku tau, cita-citamu apa?" sambung gadis itu.
"Cita-cita gue...Ada lah pokoknya."
" Eh Bu Fatimah ini siapa? Gateng banget calon mantu ibu ya?" tanya ibu-ibu pelanggan.
"Bukan, itu teman sekolah anak saya," jawab bu Fatimah
Rahma yang mendengarkan agak sedikit ngak enak hati terhadap Ridho. Sedangkan Ridho, menanggapi dengan mengiyakan ucapan ibu-ibu itu dalam hati.
Malam hari Ridho telah rapi dengan celana jeans warna hitam dengan kaos putih dan juga jaget kulit yang juga berwarna hitam. Malam itu ia sangat tampan mengalahi ke tampanan orang yang paling tampan.
Ia bersiap untuk pergi nongrong bersama anak geng motornya.
"Lama banget lo," seru Indra yang sedari tadi menunggunya.
__ADS_1
"Biasa, ada urusan yang perlu gue urus," ujarnya
"Jadi gimana nih, kita terima tantangan anak geng Ranjes nggak?" tanya Tito.
"Kalo gue sih, terima aja," ucap Ridho dengan entengnya.
"Tapi lo harus hati-hati sama ketua geng Ranjes, dia itu katanya mau balas dendam sama lo atas kematian temannya yang lo bunuh," timpal Dino memperingatkan.
"Tenang aja gue akan hati-hati."
"Jadi kapan balap motor nya?" tanya Ridho nggak sabaran.
"Satu minggu lagi, lo siapin aja diri lo." Tito menepuk-nepuk pundak temannya itu.
"Oh iya Bro, lo beneran udah putus dari Sinta?" tanya Indra penasaran.
"Iya," jawabnya singkat.
"Gila lo men cewek cantik mulus kayak gitu lo putusin," seru Indra lagi.
"Ya mau gimana, gue nggak suka. Gue ngak bisa lagi bepura-pura suka sama dia."
"Dari dulu sampai sekarang lo putus sama mantan lo, alasan lo itu-itu aja deh heran gue sama lo. Tipe cewek yang lo suka itu seperti apa sih?" Indra menggeleng-geleng heran terhadap temannya itu.
"Gue juga nggak tau, yang jelas ada satu cewek yang perasaan gue beda padanya."
"Beda gimana?" Kali ini Fiko melontarkan pertanyaan.
"Ya beda lah pokoknya, selama ini gue nggak pernah merasakan jatuh cinta sama siapa pun. Dan sama dia perasaan gue beda, dia adalah bidadari surga gue." Ridho membayang hal yang terjadi di UKS tadi.
"Cewek yang lo maksud siapa sih?" tanya Dino jadi penasan.
"Bidadari surga? Jangan bilang cewek yang lo suka Rahma," seru Indra menebak.
"Emang bener dia," jawab Ridho santai.
"Wah wah ada yang nggak beres nih. Apa pria misterius pake sarung dan sendal jepit itu juga lo?" Indra melontarkan pertanyaan lagi dan di jawab anggukan oleh Ridho.
"Bukan lo benci sama cewek itu nggak bro, setau gue lo sering marah-marah sama tuh cewek." Kini Tito yang bertanya.
"Itu dulu, sekarang mah nggak," ujar Ridho.
Ridho mengingat-ingat saat ia memarahi Rahma tanpa ada sebab yang jelas, pemuda itu terlihat sangat menyesal melakukan hal itu.
"Gue ingatin sama lo semua, jangan sampe kejadian waktu itu terulang lagi, terutama lo Indra. Se enak jidat lo aja megang-megang Bidadari surga gue."
"Iya iya gue minta maaf. Lagian lo juga kenapa juga nggak bilang dari awal," ucap Indra kembali menyalahkan Ridho.
"Gue nggak heran sih. Kalo Ridho suka sama tuh cewek. Dia emang cantik, cantiknya alami lagi. Udah gitu sholehah juga. Gue juga pengen punya istri kayak gitu nanti," timpal Dino yang mulai menghayal.
"Ngayal lo ketinggian, menurut ceramah ustad yang pernah gue denger nih ya. Kalo akhlak kita baik jodoh kita akhlaknya juga baik dan begitu juga sebaliknya kalo akhlak kita buruk ya jodoh kita juga seperti itulah, jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri Din. Nah lo sholat aja nggak pernah mau punya sholehah," ujar Fiko meledek.
" Apa bedanya sama lo, lo kan juga nggak pernah sholat," ucap Dino ketus.
"Udah udah.. Kok kalian malah jadi berantem sih." Ridho menghentikan pertengkaran mereka dan bergegas pergi.
"Mau kemana lo Bro?" tanya Tito saat Ridho mau beranjak dari sana.
"Gue mau pulang!" cetusnya dan menghidupkan mesin motor dan menghilang dari pandangan teman-temannya itu.
__ADS_1
* * *
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman....