
Rahma turun dari taksi setelah membayar ongkosnya pada pria berbaju biru yang merupakan sopir taksi itu.
Dengan rantang di tangan kanan, wanita yang memakai kerudung pashmina syar'i itu berjalan menuju lobby gedung kecil di depannya.
Saat sampai di dalam gedung ia menanyakan letak ruang Direktur pada resepsionis yang berjaga.
"Ruang Direktur di lantai tiga, Bu. Paling ujung sebelah kanan." Resepsionis yang bernama Wina itu menjawab sopan setelah menanyakan keperluan Rahma ke sana. Dan ternyata wanita di depannya ini istri atasannya. Pantas saja ia merasa tak asing dengan wanita berkerudung ini. Wanita ini pernah beberapa kali ke sini walaupun tidak begitu sering.
Rahma mengucap terimakasih pada Wina sebelum berlalu menuju lift yang tidak jauh dari sana. Tidak lupa melempar senyum ramah pada resepsionis muda itu. Wina balas tersenyum. Ternyata masih ada orang seperti itu di dunia ini, pikirnya. Seraya membandingkannya dengan seseorang.
***
Ting
Pintu lift terbuka, dengan senyuman merekah Rahma melangkah menuju tempat tujuannya. Lantai tiga paling ujung sebelah kanan. Ia mengingat jawaban resepsionis tadi. Terus ia berjalan melewati ruangan demi ruangan hingga netranya menangkap ruangan yang lebih besar dari ruangan lain.
"Ini pasti ruangannya," gumamnya. Membaca keterangan di pintu terlebih dahulu sebelum hendak masuk.
__ADS_1
"Assalamu'alaiku-
Ucapannya terhenti kala melihat pemandangan di dalam ruangan setelah membuka pintu. Wanita itu menutup mulutnya dengan mata melebar bersamaan rantang meluncur begitu saja di tangannya. Sesaat ia membeku. Air kepedihan lolos dari netranya tanpa bisa ia cegah.
Dan ternyata foto yang ia dapat adalah kebenaran. Kebenaran yang ia lihat di depan matanya saat ini.
"Rahma ini tidak seperti yang kamu liat. Aku bisa jelasin," teriak salah satu orang di dalam ruangan itu saat ia berbalik dan berlari menuju lift kembali.
"Rahma!"
***
"Kenapa dia tega membohongiku?" gumam Rahma sembari terus menangis. Jongkok memeluk lututnya di dalam lift yang hanya di isi ia sendiri. "Kenapa dia tega?" Wanita itu terus menangis menumpahkan rasa sesak di dadanya. Kesal dan marah kepada pria yang dicintainya.
"Apa kebaikannya selama ini hanya pura-pura?"
"Apa aku yang terlalu bodoh karna percaya?"
__ADS_1
Berbagai dugaan di otaknya. Semakin miris saat ia mengingat bagaimana perlakuan pria itu dulu padanya.
Setelah pintu lift terbuka, Rahma menghapus air matanya. Tidak ingin orang tau bahwa ia baru saja menangis. Wanita itu berjalan cepat keluar dari lobby tanpa menghiraukan sapaan resepsionis tadi. Sungguh sulit baginya saat ini untuk bicara.
Rahma pulang. Bukan pulang ke rumah suaminya. Tetapi ke rumah yang di tempati orang tuanya.
Untuk saat ini ia tinggal sanggup bertemu dengan pria itu. Ia akan menenangkan diri di sini beberapa hari.
"Tumben kamu ke sini?" tanya ayahnya saat melihat putri satu-satunya menyelonong masuk tanpa salam.
"Kalo masuk rumah itu salam dulu," kata pria berusia setengah abad lebih itu lagi. Tidak biasanya putrinya itu lupa mengucap salam begini.
"Assalamu'alaikum," ucap Rahma pelan hampir tak terdengar.
Ridwan dan istrinya sama-sama mengerutkan kening. Sepertinya suasana hati putrinya dalam keadaan buruk.
"Dia kenapa?" tanyanya pada sang istri yang duduk di sebelahnya. Fatimah, ibu dari Rahma itu menjawab dengan gelengan kepala. Apa mungkin karna keguguran watu itu? pikirnya.
__ADS_1