Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Pertunanganan?


__ADS_3

Siang itu Ridho tampak sibuk dengan setumpuk berkas di meja kerjanya. Ia tampak fokus memandang laptop di depannya sambil mengetikkan jarinya di keyboard laptop itu. Ia harus membuat dirinya sibuk agar tidak memikirkan kejadian kemaren.


Tok tok tok


Suara ketokan pintu dari luar ruangan itu terdengar.


"Masuk," ucap Ridho yang terus fokus pada layar laptop.


"Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Pak," ujar seorang sekretaris Ridho.


Ridho menyerngit, "Siapa?"


"Ibu Merry, Pak."


Ridho ingat Merry itu adalah salah satu teman sekelasnya saat kuliah di London. Mengapa gadis itu ke sini dan dari mana juga ia tau kalo Ridho berada di sini. Sedikit heran, tapi Ridho berusaha tidak memikirkannya. Memikirkan Rahma saja sudah membuat ia pusing. Ia tak ingin memikirkan hal yang tak penting. "Suruh dia masuk!"


Sekretaris itu menggangguk, "Baik, Pak."


Tak lama gadis bernama Merry itu masuk. Gadis dengan wajah bule itu tampak tersenyum sumbringah saat melihat Ridho.


"Hay," sapanya.


Ridho menoleh memperhatikan penampilan gadis itu. Gadis itu sangat cantik, tapi sedikit pun ia tidak tertarik. Apa lagi melihat pakaian Merry yang kurang bahan itu membuatnya bergindik jijik. Ia tak suka dengan perempuan seperti itu. Mengumbar auratnya ke sana ke mari. Ridho sedikit berfikir apa gadis itu tidak punya malu berpakaian seperti itu. Ia saja malu melihatnya.


"Ada apa?" tanyanya cuek tanpa melihat gadis itu.


"Lama tidak bertemu. Apa kamu tak merindukanku?"


"Tidak sama sekali," jawabnya singkat.


Merry tampak terkejut. Ia tampak tidak percaya dengan jawaban pemuda itu.


"Kamu tau tidak kalo sebentar lagi kita akan bertunangan. Papa kamu dan papa ku sudah sepakat bahwa seminggu lagi kita akan bertunangan."


Gadis itu tersenyum senang. Ia sudah membayangkan akan bertunangan dengan pemuda tampan di hadapannya itu. Benar-benar beruntung sekali ia mendapatkan laki-laki itu. Laki-laki impiannya.


Papa Merry dan papa Ridho adalah teman dekat. Dulu saat Hermana pergi ke London ia sering menginap di rumah papanya Merry. Tomi papa dari Merry itu adalah orang Indonesia sedangkan ibunya asli Inggris.


Sudah lama Hermana berencana menjodohkan Ridho dengan Merry agar terjalin hubungan pertemanan yang erat dengan Tomi.

__ADS_1


Ridho tampak kaget mendengar ucapan Merry. Apa-apaan ini? Kenapa papanya tidak memberitahunya? Kenapa memutuskannya sendiri?


Hermana benar-benar egois. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Ridho. Mana mungkin Ridho mau bertunangan dengan gadis berpakaian kurang bahan itu. Melihatnya saja Ridho enggan apalagi bertunangan.


Ridho berdiri lalu keluar dari ruangan itu. Ia akan menanyakan pada papanya soal ini. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu menelpon papanya.


"Hallo?"


Terdengar suara Hermana dari seberang.


"Aku nggak mau tunangan sama Merry, Pa!"


Ridho langsung mengungkapkan isi hatinya pada papanya itu tanpa basa basi.


"Kenapa? Merry kan cantik. Banyak laki-laki di luar sana menginginkan dia jadi pasangan. Papa rasa tidak ada yang salah dengan dia."


"Tapi masalahnya aku nggak mencintai dia, Pa." Ridho menghela nafasnya sebentar. "Pokoknya aku nggak mau, Pa. Tolong batalin pertunanganan itu."


"Nak, sekali ini aja kamu dengarin papa. Ini semua untuk kebaikan kamu. Merry itu orang sangat yang cocok untuk jadi pendamping hidup kamu."


Seketika sambungan terputus.


* * *


Jam menunjukkan pukul 8 malam. Para pekerja restoran sudah pada pulang. Rahma masih tampak menghitung pengeluaran dan keuntungan restoran kecil itu.


"Alhamdulillah keuntungannya semakin lama semakin meningkat." Meletakan amplop di atas meja. Amplop itu akan ia berikan ke panti asuhan yang pernah ia kunjungi bersama Ridho dulu.


Biasanya Rahma tiap bulan akan memberikan donasi pada panti tersebut.


* * *


Suasana panti tampak damai. Anak-anak panti tampak berlarian ke sana ke mari. Mereka bermain dengan riangnya. Rahma tampak tersenyum melihat hal itu. Menurutnya ada kebahagian tersendiri melihat anak-anak itu tampak ceria. Perlahan kakinya melangkah ke halaman panti dengan senyum merekah di bibirnya.


"Kak Rahma?"


Jio tampak senang melihat kedatangan Rahma. Seulas senyum terbit di bibir anak itu. Sudah lama juga Rahma tidak berkunjung ke sana. Terakhir dua minggu lalu gadis itu berkunjung. Sebuah kotak box berisi makanan dijinjingnya. Sudah kebiasaannya membawa makanan yang berasal dari restorannya ke sini.


"Jio." Rahma berjalan mendekat. "Ibu mana?" tanyanya.

__ADS_1


Jio sedikit mendongak menatap Rahma lalu memutar bola matanya mencari keberadaan ibu panti. "Itu lagi ngobrol sama, Bang Ridho." Menujuk ke arah teras. Ada kursi panjang di sana.


Rahma sedikit terkejut. Apa yang harus ia lakukan. Jujur ia senang bisa bertemu lagi dengan pemuda itu, tapi ia juga takut akibat kejadian beberapa hari lalu. Ia takut Ridho akan bersikap acuh terhadapnya. Dan itu membuatnya sakit.


"Rahma."


Terdengar teriakan ibu panti menyorakinya. Ibu panti itu tampak antusias. Momen yang paling langka dua orang itu datang bersamaan.


Rahma tampak tegang. Ia menatap Ridho sejenak dari kejauhan lalu beralih ke ibu panti.


Ridho juga menatap gadis itu. Ada kerinduan yang sangat dalam di dirinya terhadap gadis itu. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ia rindu, tapi keadaan yang membuatnya tidak mengatakan itu. Gadis itu tidak menyukainya dan ia harus terlihat biasa di depan gadis itu. Apalagi menurutnya gadis itu tidak sendiri lagi.


"Nak Rahma kenapa bengong di situ. Ayo duduk di sini ada Nak Ridho juga," ucap ibu panti itu. Ada apa dengan dua orang ini, pikirnya.


Rahma gelagapan. "I-iya, Bu." Melangkahkan kakinya. Sedikit gugup saat berada di dekat pemuda yang duduk di depannya. Mata mereka bertemu lalu Rahma mengalihkan pandangannya. Jelas sekali sorot ke rinduan di matanya. Rahma mencoba menahan perasaannya. Ia tidak mau berdosa akibat perasaannya itu. "Bu ini ada sedikit makanan buat anak-anak panti," menyodorkan kotak makanan yang di jinjingnya pada ibu panti.


Ibu panti itu menerimanya, mengambil alih di tangan Rahma. "Ibu ke dapur dulu ya. Bikinin kamu minum." Ibu panti berdiri lalu masuk ke dalam panti.


Rahma hanya diam tak bersuara. Ia tak tau mau bicara apa pada pemuda di hadapannya itu.


"Apa kabar?" Ridho berusaha tersenyum. Senyum terpaksa itu berusaha ia keluarkan. Ia harus terlihat biasa saja.


Rahma tertegun. Tidak menyangka Ridho menanyakan kabarnya. Ia pikir pemuda itu marah. Ternyata dugaannya tidak. Syukurlah pemuda itu masih bisa tersenyum kepadanya.


"Alhamdulillah a-aku baik," balasnya masih gugup.


"Enam hari lagi aku akan bertunangan dengan gadis pilihan papa. Kamu datang ya!" Ridho masih berusaha mengeluarkan senyum terpaksanya.


Deg


Tenggorokan Rahma tercekat. Dadanya sesak. Sakit itu yang ia rasakan. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Namun dengan sekuat tenaga ia menahan tangisnya. Apa ini? Pemuda itu akan bertunangan? Dan itu artinya dia benar-benar tidak akan berjodoh dengan pemuda yang ia harapkan jadi pendamping hidupnya?


"Oh ya jangan lupa ajak Dimas juga! Dimas beruntung mendapatkan kamu. Jujur dari dulu sampai sekarang perasaan ku masih sama. Aku cinta kamu Rahma."


Runtuhlah sudah pertahanan Rahma. Ia sudah susah payah menahan tangisnya. Dan kata-kata Ridho itu merobohkannya begitu saja. Air matanya jatuh tanpa permisi dan itu membuat Ridho heran. Apa ada yang salah dengan kata-katanya?


* * *


Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang dan komen

__ADS_1


__ADS_2