
Ruko dua lantai berapa minggu lalu dibeli Ridho dengan uang pinjaman dari Indra sekarang sudah disulap menjadi kafe dadakan bernuasa religi.
Dinding dan lantai dirombak menggunakan kayu yang dipadukan dengan furniture modern.
Beberapa qoute islami serta kalimat motivasi berhijrah menghiasi dinding kayu dan meja dengan cat khusus yang didesain dengan tulisan indah. Seperti, "Perbanyaklah ibadah saat mudamu. Walaupun banyak godaan dan cobaan saat kamu berusaha menjalaninya. Paksalah dirimu untuk taat walau berat. Karena jika kamu tua, kamu hanya mau, tapi kadang tak mampu."
"Lo harus sholat supaya makin kece. Bukan kece dihadapan manusia, tapi kece dihadapan Allah."
"Keluarin hartamu untuk sedekah biar berkah."
"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-an'am 6: Ayat 32)
"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran ) Allah bagi kaum yang berpikir. (QS. Az-zumar 39: Ayat 42)
"Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memerdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memerdayakan kamu tentang Allah." (QS. Fatir 35: Ayat 5)
Sofa dan kursi yang nyaman dan ada panggung kecil dipojok ruangan. Lampu gantung berjejer rapi. Bagian depan ruko tertulis tulisan 'Islamic The Coffee.' Pintu dirubah dengan kaca bening tebal. Musala kecil terletak di lantai atas lengkap dengan tempat wudhu dan toilet.
__ADS_1
Sebagian ruangan tersisa diisi dengan meja, kursi dan sofa sama seperti di lantai dasar. Sebagian dinding di beri kaca yang memperlihatkan suasana jalanan ibukota dan kampus seberang jalan.
Semua sudah beres. Beberapa karyawan sudah ia rekrut untuk bekerja di kafe. Besok Islamic the Coffee resmi dibuka.
Pria berjins hitam mengulas senyum tipis. Akhirnya ia punya usaha sendiri. Saat kuliah di London ia pernah belajar dari seorang teman menjadi barista dadakan. Meracik kopi dengan varian rasa. Tidak disangka apa yang ia pelajari terpakai sekarang. Takdir memang tidak bisa ditebak.
***
Brosur Islamic the coffee Ridho sebarkan di area kampus dekat kafe.
Beberapa dari mereka ada yang tertarik dan ada juga tak acuh.
Dominan yang tertarik dari mereka adalah kaum perempuan.
"Oke, Mas. Saya akan coba." Salah satu dari mereka menyelipkan rambut di balik telinga, mencoba menarik perhatian pria tampan di depannya. "Kapan bukanya, Mas?"
"Insya Allah besok," balas pria berkaos hitam itu. Lalu tampak sibuk berbicara menjelaskan menu apa saja yang tersedia di kafenya.
__ADS_1
Setelah menyebar brosur di area kampus, bermodal motor matic biru pria berkulit putih itu menyusuri jalanan. Menyelipkan brosur pada beberapa kendaraan yang berhenti di lampu merah. Dan terakhir Ridho membagikan brosur di kantor Indra melalui temannya itu.
"Kehen huga ihe ho," ujar Tito dengan mulut penuh oleh keripik kentang saat mereka berkumpul di rumah Indra. "Hue Hoain Hukses, Bro."
Indra menabok pria itu sambil protes, "Habisin dulu makanan di mulut lo! Baru ngomong!"
Tito nyengir. Giginya masih sibuk mengunyah jajanan lain yang disediakan pemilih rumah.
"Aamiin." Ridho membalasnya dengan sedikit tertawa.
"Gue boleh ikutan nyanyi nasyid gak, Bro?" tanya Fiko yang dari tadi menyimak.
"Emang lo bisa lagu nasyid yang dominan bahasa arab itu?" Tito menatapnya sangsi.
"Ya bisalah. Gue kan pecinta lagu nasyid tau."
"Ilih." Bibir Tito terangkat nyinyir. Mana mungkin ia percaya.
__ADS_1