Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Manja


__ADS_3

Rahma tampak sibuk mengecek keuntungan dan pengeluaran restonya. Bulan ini keuntungan restorannya meningkat bahkan sangat jauh dari bulan lalu. Ia tersenyum, menyisihkan sedikit donasi buat anak panti. Lalu tampak berpikir sejenak. Uang keuntungan restoran itu akan ia tabung membantu suaminya untuk membeli rumah. Tapi apakah suaminya itu mau menerima bantuannya? Mungkin ia akan membicarakannya dengan suaminya itu nanti.


Tepat pukul 4 sore Rahma pulang ke kontrakan yang di tempatinya. Ia bergegas ke dapur memasak makanan untuk sang suami nanti. Semoga saja suaminya itu tidak pulang malam lagi seperti biasa. Ia harap begitu.


Satu jam berkutat di dapur Rahma akhirnya berhasil menghidangkan satu mangkok capcai dan ayam goreng balado. Hanya itu. Mampu membuat senyumnya merekah. Semoga saja suaminya itu menyukai masakannya.


Huuuuff


Menghela nafas. Badannya terasa lengket karna berkeringat. Ia harus membersihkan diri. Dan soal sholat ashar. Ia sudah melaksanakan kewajibannya itu di restonya sebelum pulang.


Setelah selesai membersihkan diri. Ia terperanjat kaget melihat suaminya yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Syukurlah hari ini suaminya itu tidak pulang telat lagi. Jadi tidak sia-sia ia memasak hari ini.


"Sayang..."


Mulai lagi dia dengan panggilan itu. Memasang tampang manja. Yang membuat Rahma ingin terbahak. Tapi ia tahan agar pria bertubuh atlatis itu tidak tersinggung.


"Kamu baru selesai mandi ya?" tanyanya dengan senyum manisnya.


Sudah tau masih saja bertanya. Ingin sekali Rahma lontarkan kata-kata itu, tapi ia urungkan. Hmmm sudahlah ia tau bukan hanya itu saja. Pasti masih ada lagi kelanjutan dari katanya itu.


Pria itu menjalan mendekat. Mengambil handuk yang berada di tangan istrinya.


Mau apa dia, pikir Rahma. Masih memperhatikan gerak gerik suaminya. Untung saja ia sudah pakai baju tadi di kamar mandi. Walaupun hanya memakai baju dress rumahan selutut. Setidaknya itu tidak terlalu berbahaya menurutnya. Dengan rambut panjang tergerai meneteskan tetes demi tetes air ke lantai.


"Rambutmu basah," ujar pria di depannya itu membuat pikirannya buyar. "Aku bantu mengeringkannya ya," lanjutnya.

__ADS_1


Rahma hanya bisa menganggukkan kepala. Berdiri sedekat ini kenapa ia selalu gugup. Dan jantungnya kenapa berdetak sekencang ini.


Ridho beranjak ke belakang sang istri. Mulai mengeringkan rambut wanita itu dengan handuk yang ia ambil alih. Wangi shampo yang entah apa mereknya itu yang tertangkap oleh indra penciumannya.


"Selesai."


Ridho membalikkan tubuh Rahma menghadapnya setelah ia rasa rambut istrinya itu sudah agak kering. Matanya menatap mata sang istri yang juga menatapnya.


Hanya pakaian sesederhana itu mampu membuat Ridho selalu tepesona. Ya ia selalu terpesona dengan apapun yang di pakai istrinya itu saat berada di rumah. Mungkin karna istrinya itu terlihat lebih cantik saat tidak menggunakan kerudungnya.


"Sayang."


"Iya."


"Kenapa kamu melihatku seperti itu aku sangat tampan ya," gurau Ridho. Mencairkan suasana yang mulai membeku.


"Awwh sakit sayang," rengeknya."Kamu kok jadi KDRT gini."


Ridho tampak mengusap-usap bahunya yang kena pukulan oleh istrinya. Meskipun tidak sakit. Ia sengaja membuat istrinya itu merasa bersalah.


"Maaf," gumam Rahma lirih. Tampak menyesal dengan tindakannya itu.


"Ada syaratnya kalo kamu mau dimaafkan."


Alis Rahma terangkat mendengar penuturan suaminya itu. "Syarat?" tanyanya.

__ADS_1


Ridho mengangguk. "Hmm." Mengulas senyum liciknya. Perasaan Rahma jadi tidak enak.


"Kamu harus mandiin aku."


Mata Rahma membelalak. Tuh kan. Suaminya itu sudah pasti meminta yang aneh-aneh.


"Emang kamu nggak bisa mandi sendiri?" tanyanya. Ayolah jangan meminta hal aneh seperti itu. Meskipun pria itu suaminya, tapi tetap saja ia malu. Walaupun sudah pernah melihat tubuh suaminya dan begitu juga sebaliknya saat pria itu meminta haknya. Tapi tetap saja ia masih merasa malu akan hal itu.


"Bisa sih. Tapi aku mau kamu yang mandiin aku sesekali."


Pria itu tersenyum jahil. "Ayolah sayang," rengeknya lagi dengan nada manja.


"Kalo nggak mau yaudah nggak pa-pa," ambeknya. Lalu hendak berlalu ke kamar mandi.


Dengan cepat Rahma mencekal tangan kekar suaminya. "Iya aku mau."


Senyum Ridho terbit. Jurus andalan yang ia pakai ketika meminta yang aneh-aneh dari istrinya itu berhasil juga.


"Beneran sayang." Yang di jawab anggukan oleh Rahma. "Ayo," ajaknya. Menarik tangan sang istri menuju kamar mandi.


* * *


Sehabis memandikan suami kesayangan itu. Rahma menyuruh Ridho untuk makan yang ia masak tadi. Pemuda itu menurutinya. Mereka makan bersama setelah itu Ridho tampak bercerita panjang lebar.


* * *

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate lima bintang dan komen.


__ADS_2