Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Apa alasan kamu?


__ADS_3

Air mata Rahma terus saja mengalir. Sudah berusaha ia menahannya, tapi tetap saja air matanya tidak mau berhenti keluar.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis, Nak?"


Suara ibu panti itu membuat Ridho menoleh. Ibu panti membawa napan berisi dua gelas teh itu tampak bingung. Ia meletakan tehnya di kursi panjang. Lalu menghampiri Rahma. Ia melirik Ridho meminta jawaban. "Rahma kenapa? tanyanya.


Ridho menggeleng bahwa ia tidak tau alasannya kenapa Rahma menangis. Apa mungkin karna kata-katanya?


Seperkian detik kemudian Rahma sudah berhenti menangis. Akhirnya ia berhasil menahannya. Ia juga malu menangis di depan ibu panti itu. " Aku permisi pulang dulu, Bu." Merogoh tasnya, mengambil sebuah amplop dan memberikannya kepada ibu panti lalu ia pergi.


Ridho menatap kepergian gadis itu yang semakin lama semakin menjauh. Lalu melirik amplop di tangan ibu panti. "Itu apa, Bu?" tanyanya ingin tahu.


"Oh ini." Terjeda sejenak. "Ini adalah donasi untuk anak-anak panti di sini. Setiap bulan Rahma akan memberi donasi buat panti ini." Ibu panti itu tersenyum. "Dia adalah gadis yang sangat baik. Ia juga sering membawa makanan untuk anak-anak panti. Jarang sekali ada orang yang seperti itu," ucapnya.


Ridho tampak diam mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut ibu panti itu. Ia juga mengakui kebaikan hati Rahma. "Bu apa dia pernah membawa Dimas ke sini?"


"Dimas?" Ibu panti mencoba mengingat siapa itu Dimas. Setaunya Rahma tidak pernah membawa siapapun ke panti ini. "Siapa itu Dimas? Ibu tidak pernah mendengar namanya?"


"Bukankah Rahma sudah menikah? Dan Dimas itu nama dari suaminya."


Ibu panti itu terkekeh. "Rahma itu belum menikah Ridho. Dia masih lajang."


"Jadi Rahma belum menikah?"


Ada rasa lega yang Ridho rasakan. Berarti masih ada harapan untuk dirinya untuk bersama gadis itu. Sekarang ia tau kenapa gadis itu tadi menangis. Itu semua karna kata-katanya. Dan itu berarti perasaan gadis itu sama dengan perasaannya.


Ibu panti mengangguk.


"Ridho permisi dulu ya, Bu." Mengeluarkan dua puluh lembar uang ratusan di dompetnya. "Ini buat anak-anak panti."


* * *


Ridho membawa mobilnya memecah kemacetan kota. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Seketika ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi di rumahnya.

__ADS_1


Flashback On


"Iya iya. Saya sudah urus semuanya."


Samar-samar suara itu terdengar. Hermana sedang berbicara dengan seseorang di balik telepon. Ridho mencoba menajamkan pendengarannya. Ia mengintip Hermana dari luar kamar laki-laki paruh baya itu diam-diam.


"Dulu anak saya pernah dekat dengan seorang gadis. Gadis kampungan itu sudah saya suruh menjauhi anak saya waktu itu. Dan ia pun menurutinya. Tenang saja saya yakin dia tidak akan berani mengganggu hubungan anak kita."


Ridho tertegun. Gadis kampungan? siapa yang papanya maksud? Rahma? Apakah gadis itu?


Pantas saja gadis itu menyuruhnya untuk menjauh. Dan ini semua karna papanya. Kenapa papanya tega sekali memisahkannya dengan gadis yang ia cintai. Benar-benar egois. Papanya egois. Ia tidak tau betapa sakitnya Ridho waktu itu. Dan tentunya gadis itu juga lebih sakit dari dirinya.


Ridho merasa dirinya benar-benar bodoh. Sudah lima tahun lamanya ia baru tau sekarang. Ketika harapannya untuk bersama gadis itu tidak ada lagi. Gadis itu telah bersama orang lain dan dia tidak mungkin menghancurkan kebahagiannya.


Air matanya jatuh. Menyesal itu yang ia rasakan. Seharusnya ia tidak menyerah waktu itu. Seharusnya ia tak pergi. Seharusnya ia tak menuruti papanya. Ini terlambat sungguh terlambat.


Flashback Off


"Rahma belum menikah?"


Mobil Ridho berhenti tepat di depan restoran. Ia membuka pintu lalu melangkahkan kakinya dengan lebar masuk ke dalam restoran.


"Mau pesan apa, Pak?" tanya seorang pelayan restoran.


"Rahma," reflek Ridho. Ia mengeluarkan apa yang ada di otaknya. Rahma? gadis itu yang ada di pikirannya saat ini.


Pelayan bernama Rara itu menyerngit. "Maksudnya apa, Pak?" tanyanya. "Apakah Anda temannya ibu Rahma?" tebaknya.


Ridho sedikit malu. Kenapa ia keceplosan, namun pada akhirnya ia mengangguk, "I-iya. Rahmanya ada?"


Rara terdiam sejenak menatap pemuda tampan di hadapannya itu. Sedikit kagum dengan ketampanannya. "Sebentar Pak saya panggilkan."


* * *

__ADS_1


Rahma masih berdiri di ujung sana. Ia sedikit ragu untuk menemui pemuda yang duduk di pojok restoran itu.


Ridho melambaikan tangannya. Memberi isarat agar Rahma mendekat. Dengan perasaan kalut Rahma mendekati pemuda itu.


"Duduklah," ucap Ridho saat Rahma tampak ragu untuk duduk di dekatnya.


"Ada apa?" tanya Rahma. Hatinya bertanya-tanya mengapa pemuda ini ingin menemuinya.


"Kamu jujur sama aku apa alasan kamu menyuruh aku menjauhimu waktu itu?" Ridho mencoba mencari jawaban dari gadis di hadapannya itu. Ingin tau langsung kebenarannya dari mulut gadis itu.


Rahma tak menjawab. Sulit sekali baginya untuk berbohong lagi. Hanya diam yang bisa ia lakukan.


"Aku sudah tau alasannya. Ini karna papa aku, kan." Memberi jeda ucapannya. "Kamu nggak usah dengerin omongan dia. Kamu jangan jauhin aku hanya karna kamu merasa tak pantas untukku."


Rahma membiarkan Ridho melanjutkan kata-katanya. Menjadi pendengar yang baik hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.


"Kamu tau itu semua membuatku sakit. Hatiku sakit saat kamu menyuruh ku untuk menjauh. Aku benar-benar sakit."


Rahma menangis mendengar itu. Ia juga sakit sama seperti Ridho. Sakit menahan perasaannya. Air mengalir deras di pipinya.


Ridho menatap gadis itu. "Rahma?"


"Maukah kamu menjadi pendampingku? Melalui hari-hari dengan ku? Aku berjanji akan membuatmu bahagia." Ridho menghela nafasnya. Dadanya sesak melihat Rahma yang masih menangis. "Rahma maukah kamu menikah dengan ku?"


Rahma mengusap air matanya lalu tersenyum. "I-iya a-aku mau. Aku mau menikah dengan kamu, Ridho," jawabnya.


Senyum bahagia tergambar di wajah Ridho. Rasanya ia ingin berteriak. Tapi ia takut disangka gila lagi oleh pengunjung di sini. Ia hanya bisa berteriak dalam hati. Mengucapkan 'alhamdulillah' berulang kali.


"Terima kasih," ucapnya. "Aku akan batalin pertunanganan ku dengan gadis pilihan papa."


Ridho benar-benar lega. Mungkin selama ini allah menguji kesabarannya. Menjauh mungkin cara allah untuk menjauhinya dari dosa. Hingga akhirnya allah mempersatukannya kembali dengan usia yang sudah cukup untuk menikah.


Ridho bersyukur sangat-sangat bersyukur. Ternyata allah mempunyai cara yang lebih indah. Hijrah? itu adalah cara terbaik agar hidup lebih terasa bahagia. Dan Ridho sudah merasakan efeknya. Mengenal Rahma membuatnya sadar bahwa hidupnya dulu sangat suram. Tidak ada kebahagian. Yang ada hanyalah kebencian dalam dirinya.

__ADS_1


* * *


Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang dan komen.


__ADS_2