Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Pertemuan


__ADS_3

Sebuah restoran kecil tampak ramai pengunjung. Restoran yang sederhana dengan menu luar biasa itu memang banyak yang menggemari makanannya. Salah satu menu yang banyak digemari adalah gado-gado buatan Bu Fatimah. Ibu dari pemilik yang punya restoran.


Walaupun restorannya kecil, namun penghasilannya lumayan. 50 puluh juta hari biasa seperti senin sampai jum'at dan 100 juta ke atas jika hari sabtu, minggu dan tanggal merah.


Restoran itu mempunyai sepuluh karyawan. Dua orang juru masak, dua orang helper, lima orang waiters dan satu kasir.


"Ra gimana keadaan ibumu?" tanya Rahma pemilik restoran itu pada salah satu waiters di sana.


"Alhamdulillah sekarang udah lumayan sehat, Buk," jawab Rara.


Rara baru mulai bekerja lagi hari ini setelah seminggu lebih libur kerja karna menemani ibunya yang dirawat di rumah sakit. Gadis berusia 18 tahun itu bekerja di restoran milik Rahma beberapa bulan yang lalu setelah lulus sekolah. Gadis itu tidak melanjutkan pendidikannya karna tidak mempunyai biaya.


Tepat pukul dua belas siang restoran kecil itu akan tutup sementara. Rahma mengajak para pekerja di sana untuk sholat berjama'ah yang akan diimamkan oleh Yudi. Juru masak di restoran itu.


Terdengar azan dikumandangkan oleh Yudi. Semua orang mendengarkannya dengan kyusu'. Pemuda yang baru berumur 20 tahun itu suaranya lumayan juga. Suaranya tidak buruk ternyata.


Setelah azan selesai, dilanjut doa dan qomat. Barulah setelah itu mereka sholat berjama'ah bersama.


"Audzubillahiminasyaithanirrajiim ... Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahilladzii ... anzala'abdihil kitaab. Walamyaj'allahuu 'iwajaa."


Terdengar suara Rahma melantunkan surat alkhafi. Suara indah menyejukkan hati itu selalu membuat orang yang mendengar tenang.


"Besok giliran Desi yang mengaji ya," ucap Rahma setelah selesai mengaji. Mengaji setelah sholat memang sering dilakukan. Mereka para pekerja akan dapat giliran masing-masing dalam mengaji. Dan siapa yang kurang bisa membaca al-qur'an tentu saja akan dibantu oleh Rahma dan para pekerja yang lain. Itu sudah pasti kewajiban seorang muslim bukan membantu dalam hal kebaikan.


Desi mengangguk, "Iya, Buk," sahutnya sambil tersenyum sopan.


* * *


"Lo yakin makanan di sini enak-enak?" tanya Ridho kurang yakin. Pemuda itu memandangi sekeliling hanya satu meja yang tersisa. Merasa aneh mengapa restoran kecil seperti ini rame sekali. Menurutnya tidak ada yang istimewa dengan restoran yang ia datangi ini.


Indra tampak diam sejenak. Ia menyeret Ridho ke meja yang kosong di sana. "Lo duduk dulu. Ntar nanti kalo lo udah cobain menu di sini pasti lo ketagihan," ucap Indra. Beberapa minggu lalu Indra mengunjungi restoran ini dan menunya sangat pas di lidahnya. Makanya ia mengajak Ridho juga untuk makan di sini lagi.


Ridho tampak membolak-balikan buku menu. Keningnya mengernyit 'gado-gado spesial' itu yang ia liat di buku menu.

__ADS_1


"Lo pesan apa?" tanya Indra. "Hari ini biar gue yang traktir lo," ucapnya bangga.


"Gue mau pesan ini," balas Ridho menujuk tulisan 'gado-gado spesial' di buku menu.


Indra tampak heran. Kenapa dari sekian banyak makanan kenapa temannya itu memilih gado-gado.


"Enggak ada makanan yang lebih bagus apa. Masa iya gue cuma traktir lo gado-gado," celetuk Indra. Ia berharap Ridho memilih makanan yang agak mahal di restoran itu. "Pesan makanan yang lain aja yang lebih mahal gitu.Tenang lo nggak bakalan bikin gue bangkrut."


Ridho memutar bola matanya jengah. Indra memang sekarang mempunyai banyak uang. Tapi kenapa harus sok-sok an. Apa salahnya ia memilih gado-gado. Kenapa harus protes. Toh yang makan gado-gado bukan Indra. "Gue sukanya gado-gado," jawab Ridho singkat.


Indra menghela nafas lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan. Pelayan itu mencatat semua pesanan lalu berlalu pergi.


"Ini pesanannya," ucap Rara tersenyum ramah. Ia meletakan makanan itu di atas meja Indra dan Ridho.


"Terimakasih," balas Indra.


Ridho memulai mencicipi makanan yang ia pesan. Seketika matanya membelalak. Gado-gado ini mengingatkannya dengan seseorang. Dengan lahapnya ia memakan gado-gado itu membuat Indra tercengang-cengang. Sudah berapa hari temannya itu tidak makan. Sungguh ia jadi kasihan.


"Laper banget ya, Bro?" tanya Indra melihat piring berisi gado-gado tadi sudah kosong. Secepat itukah sahabatnya itu makan. Bahkan ia baru saja memakan dua sendok makanannya. Benar-benar ajaib memang.


"Terus kalo nggak laper. Kenapa lo makan kayak orang kelaparan gitu. Cepet banget habis makanannya." Indra yakin temannya itu pasti berbohong. Ia malu mengakui kalo ia tidak makan seminggu. Begitu pastinya pikiran Indra.


"Enak."


Hanya itu saja jawaban dari sahabatnya itu. Tapi Indra benar-benar tidak yakin. Walaupun sebenarnya Ridho benar-benar jujur. Ia mengatakan apa yang ia rasakan saat memakan gado-gado itu.


Sesaat kemudian hati Ridho memanas saat melihat dua orang di sudut sana sedang mengobrol. Dua orang itu keliatan dekat sekali. Tanpa sadar ia membanting gelas yang ada di atas meja. Dia marah sangat emosi.


"Mungkin nggak ada harapan lagi buat gue."


Semua mata tertuju kearahnya. Banyak berpikir kalo pemuda tampan itu terkena gangguan jiwa.


"Sayang banget ya ganteng-ganteng kok gila."

__ADS_1


Para pengunjung tampak berbisik-bisik membicarakan pemuda itu.


"Ada apa ini?"


Suara itu. Suara yang Ridho rindukan. Suara yang sudah lama ingin Ridho dengar. Suara gadis yang sangat dicintainya. Sampai sekarang ia masih mecintai gadis itu.


Ridho meneteskan air mata lalu mengusapnya kasar. Ini benar-benar sakit. Melihat gadis itu bersama laki-laki lain. Dimas. Laki-laki itu Dimas. Kayaknya ia telah berhasil merebut hati gadis pujaan hatinya. Dimas benar-benar laki-laki yang beruntung.


Perlahan Ridho membalikkan badannya menghadap gadis itu. Ia harus menahan dirinya agar tidak terlihat menyedihkan.


Rahma terlihat kaget sekaligus bahagia. Ridho telah kembali. Pemuda yang membuatnya rindu. Tapi ia sadar ia tak pantas bersama pemuda itu.


"Ridho," gumamnya lirih. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Ia benar-benar rindu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Sungguh sangat lama ia menunggu agar bisa bertemu dengan pemuda itu.


Ridho menatap Rahma lalu beralih ke arah Dimas kemudian pergi begitu saja.


Indra menyusul Ridho setelah membayar makanan ke kasir.


* * *


"Rahma kamu nggak pa-pa?"


Dimas tampak khawatir. Dari tadi gadis itu hanya diam mematung.


"Aku nggak pa-pa." Rahma berdiri dari duduknya. "Aku mau pulang," ucapnya hendak pergi.


"Biarku antar," tawar Dimas.


"Nggak usah. Aku pulang sendiri aja."


* * *


Di dalam taksi Rahma masih tampak melamun. Pertemuan tadi membuatnya kepikiran. Tanpa sadar air matanya menetes. "Maaf." Hanya itu yang terlontar di pikirannya. Perasaannya benar-benar kalut sekarang. Ia benar-benar rindu dengan pemuda itu. Sangat rindu.

__ADS_1


* * *


Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang dan komen.


__ADS_2