
"Aduh bagaimana ini? Kalo aku ganti bakso dia, uang jajan ku nggak cukup buat beli makan lagi. Ah ya sudahlah mau bagaimana lagi walaupun tak sengaja, tapi tetap saja aku yang salah," batin Rahma.
Gadis itu mengela nafasnya lalu memesan bakso untuk pemuda yang bernama Ridho itu.
"Mpok saya pesan bakso satu. Nanti tarok di meja pemuda itu ya, ini uangnya." Rahma memberikan selembar uang 20 ribu.
"Baik, Neng."
Penjaga kantin itu tampak sibuk dengan pesanan makanan dari para siswa-siswi sekolah itu.
Beberapa saat, bakso pesanan untuk Ridho sudah siap. Penjaga kantin itu meletakkan bakso itu di meja dekat pemuda itu yang duduk di kursi panjang bersama dengan empat temannya.
Di sisi lain, Rahma memilih untuk meninggalkan kantin itu. Ia tidak jadi makan di kantin, karna uang jajannya tidak cukup untuk membeli makanan di sana. Gadis itu kembali ke dalam kelas. Kelas itu terlihat sepi. Tak ada orang di dalam ruangan itu.
Rahma duduk di kursinya, menundukkan kepalanya ke meja. Ia sedikit pusing, karna menahan rasa lapar di perutnya.
Gadis itu memejamkan mata, mencoba bersabar atas apa yang menimpanya hari ini.
Pulang sekolah semua siswa-siswi berhamburan keluar gerbang. Di sana juga tampak Rahma baru keluar dari gerbang sekolahnya. Gadis itu menunggu angkot ayahnya. Ia berdiri tepat di depan gerbang sekolah itu.
Tak lama angkot ayahnya datang. Gadis itu masuk ke dalam angkot itu.
"Nak gimana tadi di sekolah mu? Apa kamu nyaman sekolah di sana?" tanya pak Ridwan sambil menyetir. Sesekali ia menoleh ke arah samping. Tempat anaknya itu duduk.
"Alhamdulillah nyaman kok, Yah," jawab Rahma berusaha tersenyum. Sebenarnya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Nyatanya gadis itu tidak nyaman dengan suasana sekolah megah itu. Namun karna tidak ingin ayahnya kepikiran. Ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
"Syukurlah kalo begitu," ucap pak Ridwan.
Saat sampai di rumahnya, Rahma langsung ke dapur untuk makan tanpa mengganti seragam sekolahnya.
Gadis itu tak bisa lagi menahan rasa lapar yang ia tahan sedari tadi.
"Alhamdulillah," ucap Rahma setelah selesai makan. "Semoga kejadian tadi tak terulang lagi," gumamnya.
Di rumah kecil itu, Rahma sendirian di rumahnya. Ibunya menjual gado-gado di pasar sedangkan ayahnya menarik angkot lagi.
Di tempat lain, terlihat seorang pemuda yang sedang asik main PS bersama temannya di rumahnya.
"Yes gue menang," ucap pemuda itu. Pemuda itu berhasil mengalahkan Indra.
"Sekarang giliran gue sama Dino," ucap Tito yang ingin juga mendapatkan giliran bermain PS itu.
__ADS_1
"Lah gue sama siapa lawan mainnya?" tanya Fiko, pemuda itu sedikit kecewa.
"Lo main sendiri aja," sahut Dino dengan nada mengejek.
"Mana seru kalo main sendiri," ucap Fiko. "Ndra lo main lagi ya sama gue." Fiko menoleh ke arah Indra. Pemuda bernama Indra itu kelihatan tak bersemangat karna telah kalah dari Ridho.
"Nggak ah. Gue mau pulang. Emak gue nyuruh pulang." Indra memberi alasan, pemuda itu langsung mengambil tas ranselnya yang tergeletak di lantai dan langsung meninggalkan ruangan itu. Mereka masih menggunakan seragam sekolah. Kecuali tuan pemilik rumah itu. Ia adalah pemuda sombong bernama Ridho.
"Gue main sama siapa dong," ucap Fiko lagi.
"Lo lawan gue aja," sahut Ridho bersemangat. Ia sangat jago sekali bermain PS.
"Yaudah deh," ucap Fiko pasrah. Pemuda itu sudah tau ia akan kalah dari sang ketua.
Ke esokan harinya di sekolah, Ridho, Indra, Tito, Dino, dan Fiko makan bersama lagi di kantin. Mereka berlima sudah berteman sejak SMP.
Terdengar ocehan mereka di kantin itu.
"Bro bokap lo kemana sih? Kok nggak pernah kelihatan di rumah lo selama gue di sana?" tanya Tito pada Ridho.
"Bokap dia ke luar kota. Beliau orang sibuk, jadi jarang pulang." Indra yang sudah berteman dengan Ridho sejak kecil menyauti pertanyaan Tito.
"Oh gitu." Tito mengangguk. "Rumah sebesar itu cuma tiga orang doang dong penghuninya," ucapnya.
"Bro lo mau Kemana?" teriak Tito bingung.
Ridho tak mengubrisnya sama sekali. Ia tetap berjalan menjauh dari teman-temannya itu.
"Lo sih." Indra menyikut bahu Tito.
"Dia kenapa?" tanya Tito melirik Indra meminta jawaban.
"Dia itu paling nggak suka kalo bahas soal bokapnya," jawab Indra, ia melanjutkan memakan cemilan di atas meja.
Di tempat lain Ridho berjalan di koridor sekolah. Pertanyaan Tito selalu terngiang-ngiang di telinganya. Tanpa memperhatikan jalan ia pun menabrak seseorang.
"Maaf," ucap orang itu.
"Lo sengaja ya nabrak gue," tuduh Ridho.
"Nggak. Bukannya kamu yang jalannya sambil ngelamun kok jadi nyalahin saya," jawab orang itu. Ia adalah Rahma.
__ADS_1
"Lo berani sama gue. Selama ini nggak ada yang berani nyalahin gue. Gue selalu benar tau nggak." Ridho tampak emosi.
Pemuda itu mencengkram tangan gadis itu dan menariknya. Pemuda itu menarik tangan Rahma menuju kelas. Kelas terlihat kosong. Ridho mengunci pintu kelas itu.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Rahma dengan nada ketakutan.
"Lo pikir mau apa kalo laki-laki dan perempuan berdua dalam satu ruangan," ucap Ridho yang membuat gadis itu semakin takut.
"A-aku mohon lepasin tangan aku. Aku beneran nggak sengaja tadi," pinta Rahma. Gadis itu hampir saja menangis.
"Nggak akan. Duduk lo," titah Ridho pada gadis itu.
"Aku minta maaf. Aku beneran nggak sengaja," ucap Rahma.
"Duduk," bentak Ridho yang membuat gadis itu terlonjak.
Ia menurutinya dan duduk di sebuah bangku.
"Aku minta maaf," ucap Rahma lagi. Tubuhnya gemetaran karena takut.
"Kenapa lo?" tanya Ridho bingung. "Lo berpikir kalo gue mau macem-macem sama lo. Jangan berpikir aneh-aneh tentang gue. Lo itu sama sekali bukan tipe gue. Ogah banget kalo gue mau macem-macem sama lo," tegasnya dengan nada tinggi.
"Alhamdulillah," batin Rahma bersyukur.
Ia terlihat lega dengan ucapan pemuda itu.
Pemuda bernama Ridho itu mengambil tasnya. Mengeluarkan sebuah buku di dalam tasnya.
Ia melempar buku itu pada Rahma. "Kerjain tugas gue," ucapnya. "Tugasnya harus selesai sebelum bel nanti. Dan ingat! Harus benar semuanya. Kalo ada sedikit saja yang salah. Lo harus terima hukuman dari gue."
Rahma mengambil buku itu. "Ba-baik akan aku kerjakan," sahutnya.
Ia mengerjakan tugas pemuda itu. Tugas itu juga sudah ia kerjakan di bukunya. Hanya dengan waktu lima menit tugas itu selesai.
"Sudah selesai." Rahma memberikan buku itu pada Ridho lagi.
Ridho menyerngitkan keningnya tak percaya gadis itu mengerjakan tugasnya secepat itu.
"Lo yakin ini semua jawabannya benar." Ridho membolak-balikan bukunya.
"Hmm," gadis itu mengangguk. "Insya allah," ucapnya.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen, dan rate 5 bintang juga ya ....