Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Ngambekan


__ADS_3

Esok hari Ridho mengajak Rahma ke tempat usaha barunya. Karena kondisi sang istri sedang hamil muda jadi ia meminjam mobil Indra untuk pergi ke tempat tersebut. Ia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Kehilangan lagi.


Pria berkemeja cream cukup trauma dengan kejadian itu. Hal tersebut menyisakan luka perih. Seperti belati yang ditancap ke jantung lalu dicabut dengan tenaga ekstra. Sakitnya sungguh luar biasa.


"Ke mana?" Itu adalah pertanyaan ketiga kalinya keluar dari mulut Rahma.


"Nanti kamu akan tau." Ia menyodorkan gamis senada dengan warna bajunya. "Ayo ganti baju!"


Rahma menyebik, sedikit ngambek karna pertanyaannya tak mendapat jawaban yang pasti. Namun ia ambil juga baju yang disodorkan itu setelah beberapa saat ia abaikan.


***


"Mobil siapa?" tanya Rahma heran. Siapa pula yang memarkirkan mobil di depan rumah orang. Sungguh tak sopan.


"Mobil Indra," balas Ridho membuat Rahma menoleh. Pria gagah itu membukakan pintu untuk istrinya, lalu mempersilakan masuk.


"Kita kemana, sih?" Pertanyaan yang sama lagi. Kali ini dengan nada terdengar kesal.


Ridho gelagapan dibuatnya. "Ke kafe," balasnya jujur. Ia melirik wanita di sisi yang diam saja setelah mendapat balasan. Setelah melihat raut wajah itu normal kembali ia bernapas lega.


Entah kenapa Ridho termasuk ke dalam kubu suami takut istri. Mirip seperti lagu si Sule yang pernah ia dengar sewaktu kecil.


Mungkin karna cinta ia jadi begini. Mungkin ia tidak ingin wanita itu meninggalkannya. Mungkin saja ia sudah berubah menjadi Ridho si penakut. Walau dulu ia sangat pemberani.


Mobil melambat ketika hampir sampai di tempat tujuan. Lalu berbelok ke kanan, lalu berhenti.


"Ayo!" Setelah membuka pintu mobil, Ridho menarik tangan Rahma, lalu mengajaknya masuk ke Islamic The coffee.


Ketika masuk Ridho sudah disambut oleh ke empat teman karibnya. Salah satu dari mereka mendekati pria yang datang bersama istrinya itu.


"Gue mau nyumbang lagu nasyid, Bro," ucap pria dengan rambut tersisir rapi itu. Di belakang kawannya menyusul tiba-tiba menimpal," Jan diijinin, Bro. Ntar orang-orang pada kabur denger suara dia."


Fiko melirik sinis kawan sebangku semasa sekolah. "Paan sih lo. Jan jadi setan yang suka menghasut gitu deh."


Ridho terkekeh sedangkan Rahma mengernyitkan kening. Pria gagah itu menoleh pada istrinya. "Islamic The Coffe ini kafe kita, Sayang. Hari ini pertama buka," jelasnya. "Kamu suka gak desainnya? Kalo gak suka nanti aku rubah."

__ADS_1


Rahma memandang takjub sekeliling, kemudian mengangguk," Suka kok. Tapi dari mana Abang dapet modal untuk bikin kafe?"


Ridho mengulas senyum lembut. Padangan beralih ke arah Indra yang duduk sambil menikmati menu. "Dari Indra."


Wanita bekerudung pashmina hitam mengikuti arah pandang suaminya. "Kenapa gak pake uang aku aja."


"Gak bisa, Sayang. Uang kamu milik kamu bukan milik aku. Kecuali uangku baru milik kamu."


"Kan bisa pinjem juga. Ngapain harus minjem ke orang lain, sih." Wajah cantik itu cemberut lagi. Ridho tak mengerti kenapa sekarang sang istri mudah sekali ngambeknya.


"Indra bukan orang lain, Sayang. Dia sahabat aku."


"Lalu aku Abang anggap apa?"


"Ya, Istri."


"Terus kenapa gak mimjem uangnya ke aku aja?" Mata wanita itu sekarang berkaca-kaca. Sikapnya sekarang berubah seperti anak kecil dadakan.


Ridho menggaruk-garuk kepala, bingung mau menanggapi apa. Sedangkan dua kubu yang sedang berdebat tadi bengong seperti patung dengan mulut sedikit terbuka.


"Uangnya gak sedikit, Sayang. Emangnya kamu punya?"


"Berapa emang?"


"700 juta."


Tiba-tiba saja Rahma berjalan menuju Indra. "Berapa nomor rekening kamu?"


Indra menyemburkan kopinya mendengar pertanyaan itu. "Buat apaan?" Ia melirik Ridho yang sudah berada di belakang Rahma. Pria itu menggelengkan kepala agar Indra tidak memberikan.


"Gue gak hapal nomornya."


"Masa iya gak ada di ponsel nomornya."


"Gak bawa ponsel."

__ADS_1


Dan benda yang disebut langsung berkhianat hingga menimbulkan bunyi dering.


"Nah itu apa?"


Ketauan banget boongnya. Pria manis itu berperang sorot mata pada Ridho. Mereka seperti berbicara melewati mata batin.


*Gue harus apa?


Bilang itu ponsel si Dino*?


Indra langsung melirik Dino yang masih sibuk main ponsel dengan raut muka serius.


Dino lagi main ponsel tolol. Jelas banget bukan dari ponsel dia.


Cari alasan lain.


Apa?


Pura-pura sakit perut!


Dan perang mata batin lewat mulut digerak-gerakkan itu berakhir. Rahma menoleh ke belakang dan mendapati suaminya ada di belakang.


"Aduh." Indra memegang perutnya dengan raut wajah dramatis. "Kayanya panggilan alam memanggil. Gue harus ke toilet dulu."


"Toilet di lantai atas, Ndra," jawab Ridho tanpa ditanya.


Indra beranjak dengan terbungkuk-bungkuk. Hingga mengeluarkan gas yang sangat busuk. Tepat mengenai hidung Dino lalu merambat ke mana-mana.


Pria berkacama itu mengumpat. "Kalo mau buang angin liat-liat tempat dong." Hampir saja isi perutnya keluar karna ulang temannya.


Indra nyengir, kemudian lari ke atas.


Rahma dan Ridho menutup hidungnya.


"Uwek."

__ADS_1


Cairan bercampur serpihan roti jatuh ke lantai kafe. Orang-orang terpana.


__ADS_2