Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Kejutan!


__ADS_3

Gelap. Tidak ada cahaya. Pemuda yang menggunakan kaos abu-abu itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Berharap setelah melakukan itu matanya akan memperoleh cahaya. Tapi nihil. Yang ia lihat hanyalah kegelapan.


Ada apa ini? Apa ada masalah dengan penglihatannya? pikirnya.


Keringat dingin sudah bercucuran di pelipisnya. Ia mulai ketakutan. Namun saat tiba-tiba lampu menyala, pemuda itu menghela nafas lega. Berarti tidak ada masalah dengan penglihatannya.


Tapi ada yang salah pada tubuhnya. Ia kesulitan bergerak. Pemuda itu menunduk baru sadar ternyata ia terikat di atas kursi berwarna coklat pudar.


Mencoba melepas tali yang melilit tubuhnya dengan sangat kuat sehingga membuatnya kesulitan bernafas. Ia memperhatikan sekeliling. Tempat ini sangat berantakan dengan kaleng-kaleng bekas berserakan, kardus-kardus ada di sudut sebelah kanan ruangan ini. Sofa-sofa reot, beberapa balok kayu, dan ada banyak sarang laba-laba di mana-mana bahkan kursi yang ia duduki sekarang.


Di mana ia sekarang?


"Kejutan!"


Suara itu? Ia mengenalnya. Pemuda itu memalingkan wajahnya ke arah pintu. Empat orang berpakaian serba hitam berdiri di sana.


"Lo?"


Salah satu dari orang itu mendekat. "Bagaimana dengan kejutannya? Menyenangkan?"


Pria manis beralis mata tebal itu menyeringai. Auranya terlihat menakutkan.


Kakinya mengayun mengenai perut pemuda yang menjadi musuhnya semenjak SMA itu. Membuat pemuda bernama Doni itu meringis kesakitan.


"Gue peringatkan ini terakhir kalinya Lo bikin masalah!"


Kali ini tangannya mengayun keras ke wajah Doni. Pria manis beralis mata tebal itu tampak marah. Bagaimana tidak? Gara-gara bajingan ini istri sahabatnya keguguran. Bagaimana ia tidak emosi kalo ini bersangkutan dengan nyawa.


Rasanya hatinya ngilu melihat sahabatnya seperti kemaren. Ia juga ikut merasakan kesedihannya.


"Gue tau Lo masih dendam, tapi kejadian itu udah lama dan itu menurut gue bukan sepenuhnya kesalahan Ridho. Sepupu Lo itu yang mancing emosi dia."


Doni mengepalkan tangannya berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Gue harap masalah ini selesai. Buang jauh-jauh dendam Lo itu!"

__ADS_1


Indra menjeda. Berusaha meredakan emosinya yang memuncak lalu menghembuskan nafas kasar.


"Kalo gue mau Lo bisa aja mati di tangan sekarang."


Sekali lagi Indra menendang perut pemuda itu lalu matanya beralih ke temannya yang masih berdiri dekat pintu. "Sekarang giliran kalian!"


Temannya yang bernama Tito maju berdiri di samping Indra. Menatap tajam musuhnya dengan seringai tak kalah menakutkan dari Indra.


Tangannya merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah jarum suntik lalu menusukkannya ke bahu Doni.


"Beres," ucapnya bangga. "Langsung mati dia."


Lalu ia tertawa seperti orang jahat yang mendapat lirikan tajam oleh Indra. Ia menutup mulutnya sebentar. "Maksud gue pingsan," ralatnya.


Sekarang giliran Fiko yang maju dengan membawa gunting. Mengangkat gunting itu tinggi di udara, kemudian ia putar di jari telunjuknya beberapa detik.


Dan detik berikutnya putaran itu berhenti lalu bersiap menggunting baju yang dikenakan Doni. "Hahaha langsung gila." Tersenyum puas melihat baju Doni hanya tinggal setengahnya hingga memperlihatkan perut yang agak buncit itu.


"Masuk angin tuh anak orang."


Fiko berdecak kemudian memutar bola matanya malas. Sedikit kesal dengan Dino, namun tetap saja menggunting celana jeans yang di pakai Doni sebelah kanan. Sedangkan yang sebelah kiri ia biarkan.


"Hahaha tambah gila." Dino mengeluarkan sebuah lipstik di saku celananya.


"Lipstik siapa?"


Tito yang heran memilih bertanya. Enggak mungkin itu punya Dino bukan? Kalo seandainya iya. Tito harus waspada!


"Lipstik nyokap gue curi."


"Hah?"


Spontan tiga temannya melotot. Dino punya bakat juga ternyata. Sayangnya bakatnya itu jadi maling, sungguh perbuatan tercela. Tampaknya mereka harus berhati-hati.


Tito diam sejenak. Beberapa hari yang lalu si Dino menginap di rumahnya dan bersamaan dengan itu boxer spongebob kesayangannya ilang.

__ADS_1


Atau jangan-jangan ...


"Lo yang nyuri boxer spongebob gue ya. Ngaku Lo."


"Boxer spongebob?"


Dino terpana beberapa detik kemudian tertawa. "Oh jadi itu punya Lo gue pikir punya ponakan Lo."


Fakta baru dari Tito yang tidak diketahui teman-temannya. Pemuda itu penggemar berat si kuning muka petak itu.


Fiko menggeleng-gelengkan kepala tersenyum sinis. Satu aib teman berantemnya itu sudah ia ketahui. Ini bisa ia jadikan senjata bukan? Kalo Tito macam-macam aib boxer spongebob akan tersebar di seluruh kantornya. Sungguh menakjubkan.


"Ngapain Lo senyum-senyum?"


Tito menjintak kepala Fiko agak keras. "Lo waras?"


"Aduh sakit," keluh Fiko sambil mengusap kepalanya. "Lo jangan kejam sama gue. Sekali lagi Lo menganiaya gue jangan salah gue kalo aib Lo gue sebar dalam beberapa detik."


Tito bungkam. Wajahnya memerah malu yang di balas senyum kemenangan oleh Fiko. Dalam hati ia tertawa puas.


"Boxer spongebob Lo ponakan Lo yang nyuri."


Dino memberi tahu dari pada disangka percuri oleh teman pecinta spongebob itu apalagi disangka maling kan berabe lagi urusannya. Seorang guru biologi yang selalu mematuhi norma-norma dan tata tertib lalu lintas mana mungkin seperti itu.


"Itu lipstik buat apaan?"


Indra yang sedari tadi diam dengan muka tanpa ekspresi itu akhirnya bertanya yang dijawab untuk make over muka Doni agar lebih cantik dan menarik.


Lipstik sudah mendarat di bibir coklat Doni yang membuatnya seperti bidadari. Eh bukan. Lebih tepatnya seperti penghuni rumah sakit jiwa.


"Abis ini bawa dia ke kolong jembatan!" titah Indra.


"Siap."


Ketiga orang bodoh itu memberi hormat kepada pria manis itu. Dibukanya ikatan tali yang mengikat tubuh Doni lalu menyeretnya keluar.

__ADS_1


Indra memasukkan satu tangan ke saku celana bahannya lalu berjalan santai mengikuti teman-temannya.


__ADS_2