
Ridho memacu motor matic-nya dengan kecepatan tinggi. Keahliannya dalam balap liar dulu cukup berfungsi saat ini. Perasaannya yang tidak enak membuatnya ingin cepat-cepat sampai di rumah. Namun, naasnya tiba-tiba saja kendaraan roda dua itu berhenti mendadak yang seketika membuatnya ingin mengumpat.
Pria itu terpaksa harus mendorong kendaraan roda duanya yang setelah diperiksa ternyata kehabisan bensin. Malam semakin larut, di sini tidak ada pom bensin. Di mana ia akan mencari saat jam segini?
Sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti di samping Ridho. Pria itu mengabaikannya. Tapi, saat seseorang memanggilnya sontak ia menoleh.
"Sedang apa kamu di sini?" seorang wanita yang Ridho kenal itu turun dari mobilnya.
Tak menghiraukan wanita itu, Ridho terus berjalan mendorong motornya.
"Ridho tunggu!" Wanita itu mengejarnya. "Aku cuma mau menawarkan bantuan," ucapnya saat telah berada di dekat Ridho.
"Gak perlu," jawab Ridho ketus tanpa meliriknya. Ia tidak ingin berurusan dengan wanita itu.
__ADS_1
"Segitu bencinya kamu sama aku sampai tidak mau menerima bantuan dariku?"
Wanita itu menunduk sedih. Ridho sedikit kasihan mendengarnya, tapi bagaimana pun wanita itu adalah mantan kekasihnya saat SMA dulu. Ia tidak mau Rahma salah paham dengannya. Sekali lagi ia menolaknya.
Sinta, wanita itu tampak tidak menyerah. Ia terus mengikuti pria itu.
"Jangan ikutin gue!" Ridho membentak, geram dengan tingkahnya.
Namun bukannya takut dan berhenti mengikuti. Sinta malah nekat memeluknya sambil menangis.
Sinta yang ditinggalkan begitu saja berusaha bangkit seraya berguman," kenapa? kenapa kamu begini sama aku?"
Ridho adalah cinta pertamanya. Satu-satunya orang yang dicintanya hingga saat ini. Dua tahun lebih mereka bersama, namun seseorang telah merebut pria itu darinya.
__ADS_1
Selama ini Sinta telah mencoba melupakan pria itu hingga ia pindah sekolah ke luar negeri. Saat itu ia marah, kecewa, dan sedih setelah tau Ridho hanya memanfaatkannya. Tapi, sekarang saat melihat pria itu lagi entah kenapa rasa ingin memiliki itu datang lagi. Ingin bersama pria itu lagi. Walaupun ia tau pria itu sudah beristri.
Tidak masalah. Sinta akan merebutnya lagi bagaimana pun caranya. Ia mengusap air matanya kasar. Senyum liciknya keluar dari wajah cantiknya.
***
Ridho mengetuk pintu beberapa kali sambil mengucap salam, tetapi tidak ada sahutan. Mungkinkah Rahma sudah tidur, pikirnya. Mengingat sekarang sudah pukul sepuluh malam.
Pria itu merogoh saku celana, mengeluarkan kunci dari sana. Membuka pintu sambil menyeka keringat yang mengalir di dahi akibat mendorong motor maticnya sampai rumah.
Gelap. Lampu ruang tamu sudah dimatikan. Mungkin dugaannya benar bahwa wanita yang dicintainya itu sudah tidur. Pria itu mengunci pintu kembali setelah masuk. Berjalan menuju kamar yang remang. Hanya lampu tidur yang meneranginya.
Samar-samar ia melihat seorang wanita dengan piyama terlelap. Bukan di kasur melainkan di sofa kamar itu. Ridho bisa menebak wanita itu menunggunya sampai ketiduran di sana.
__ADS_1
Ridho memindahkannya dari sofa ke tempat tidur dengan hati-hati agar tidak membangukan wanita yang sudah hampir dua tahun ia nikahi itu. Mengecup keningnya sekilas sebelum berlalu ke kamar mandi.
Hari yang melelahkan. Ridho akan mandi air hangat. Sekaligus menghapus jejak sang pengganggu tadi dari tubuhnya. Sungguh Ridho sangat geram, kesal, dan marah. Berani-beraninya pengganggu itu menyentuh dirinya. Ia akan menghabiskan banyak sabun malam ini bahkan bila perlu ia akan menghabiskan rinso yang dipakai Rahma untuk merendam pakaian agar tubuhnya bersih dari noda membandel. Dan benar saja ia menghabiskannya tanpa memikirkan bagaimana esok pagi Rahma kebingungan karna rinso yang bari ia beli hanya tinggal bunggusnya.