
Satu tahun sudah pernikahan Ridho dan Rahma. Semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran diantara mereka. Keduanya sama-sama saling mengerti dengan kekurangannya.
Dingin malam menusuk hingga ke tulang. Belum lagi hujan deras yang makin membuat badan menggigil. Deru mesin motor matic terdengar dari luar. Rahma mengintip di balik jendela kaca, terihat motor motic biru tua mendekat dari sana.
Rahma membuka pintu kontrakan itu. Mengulas senyum saat seseorang tampak mendekat. Wanita itu mengulurkan tangan setelah menjawab salam dari orang itu. Mengecup singkat tangannya. Suatu kebiasaan Rahma setelah menikah.
"Kenapa nggak neduh dulu tadi, Bang?"
Ridho mengacak kepala istrinya. Wanita itu akhir-akhir ini sangat cerewet. Apalagi kalo berkaitan dengan kesehatannya.
"Kalo aku neduh dulu ntar kamu nunggunya lama," balasnya.
Rahma tampak berpikir sejenak. Iya juga sih. Tapi bukan itu jawaban yang ia inginkan.
Karna perubahan di wajah istrinya Ridho kembali bersuara.
"Aku nggak bisa lama-lama jauh dari kamu, Yang."
Pipi Rahma bersemu. Tersenyum geli. Ia benar-benar suka dengan ucapan manis pria itu. Mundur saat pria itu mendekat hendak memeluknya.
Ridho menyerngit. "Kenapa?" tanyanya.
"Baju kamu basah, Bang."
Ridho menepuk jidatnya. Bisa-bisa ia menjadi pikun begini padahal belum tua. Anak saja ia belum punya. Ini mungkin efek kangen istri. Otaknya jadi tak berfungsi.
Pria itu beranjak menuju kamar mandi. Membersihkan diri dengan sabun yang lumayan wangi. Mungkin akan menormalkan pikirannya.
* * *
"Yang?"
"Hmm."
"Besok kita pindah dari sini!"
Rahma menoleh. Pria tampan yang berdiri dekat pintu kamar itu masih menggunakan handuk melilit pinggangnya.
__ADS_1
"Pindah kemana?"
Setelah itu Rahma berjalan menuju lemari. Mengambil kaos hitam polos dan celana santai lalu menyerahkannya pada pria itu.
"Pindah ke rumah baru."
"Rumah baru siapa?"
Ridho tertawa pelan. "Rumah baru kita, Sayang," jawabnya. Mecubit pelan pipi istrinya yang selalu membuatnya gemas.
Mengusap pipinya. Rahma tampak mencerna jawaban Ridho. "Rumah kita?" Terlihat keraguan di wajahnya.
"Iya, Sayang. Kemaren aku beli rumah dekat kantorku bekerja. Besok kita pindah ya." Menggenggam tangan sang istri. "Maaf baru bisa beli rumah sekarang."
Masih ada rasa bersalah itu dalam diri Ridho. Membiarkan istrinya tinggal di kontrakan kecil ini. Yang menurutnya tidak layak dijadikan tempat tinggal.
Ridho rasa belum bisa membahagiakan istrinya. Padahal Rahma bukanlah wanita yang gila harta.
"Aku tidak mempermasalahkan itu."
Astagfirullah.
Rahma merutuk dirinya lalu berjalan ke dapur. Memanaskan lauk sebentar kemudian meletakannya di piring berisi nasi.
"Makasih, Yang."
Ridho mengambil alih piring putih yang tidak terlalu besar itu. Memakan nasi beserta lauknya dengan lahap. Pria itu benar-benar kelaparan. Padahal ia baru saja makan sebelum pulang. Tapi, tampaknya akhir-akhir ini selera makannya lebih dari kata stabil.
Kadang pria itu takut akibat makan berlebihan badannya menjadi gendut atau yang lebih parahnya lagi mengidap obesitas.
Ridho menghentikan makannya sejenak. Lalu bertanya. "Aku gendut nggak sih, Yang?"
Rahma menyerngit. Memperhatikan badan suaminya itu. "Sedikit," jawabnya.
Hal itu membuat Ridho langsung meletakan piring di atas nakas lalu meneguk air putih.
"Kenapa enggak dihabisin?"
__ADS_1
Rahma menatap nasi yang bersisa di piring putih itu. "Masakanku nggak enak ya," ucapnya sedih. Padahal ia tadi sangat saat Ridho memakan masakannya dengan lahap.
"Enggak kok, Yang." Ridho jadi salah tingkah. "Masakan kamu enak tapi-." Kalimatnya menggantung.
"Tapi apa?"
"Aku takut gendut."
Rahma terbahak. "Lah emang kenapa kalo kamu gendut?"
Ridho menghela nafas. "Aku takut kamu cari suami baru. Terus aku ditinggalin," balasnya.
Rahma semakin terbahak mendengar itu membuat Ridho melirik tak suka padanya.
"Aku serius, Yang."
Sedikit kesal ia merebahkan dirinya di kasur.
"Baru makan jangan langsung tidur."
Tak menghiraukan istrinya Ridho memejamkan mata.
"Bang?"
Kayaknya Rahma harus serius kali ini.
"Walaupun kamu gendut nantinya. Aku nggak masalah, Bang."
Ridho masih tak bergeming. Membiarkan wanita itu melanjutkan kata-katanya.
"Insya allah cintaku ke kamu nggak berubah. Aku cinta kamu apa adanya, Bang. Enggak mandang fisik."
Tangan kekar Ridho terangkat. Menarik istrinya hingga tidur di sampingnya. Kecupan singkah ia hadiahkan serta pelukan hangat untuk istri tercintanya.
Rahma membalas pelukan itu. Aroma tubuh suaminya membuat ia nyaman berada sedekat ini.
* * *
__ADS_1