Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Kopi masa depan


__ADS_3

Pagi harinya Rahma memilih pulang ke rumah suaminya. Wanita itu membuka pintu rumah dengan kunci cadangan sebelum masuk. Ia mengucap salam, tapi tak mendapat sahutan.


Sempat ia kira rumah itu telah kosong dan penghuninya sudah berangkat bekerja. Tapi apa mungkin sepagi ini?


Wanita itu melanjutkan langkah. Bergegas ia pergi ke kamar. Suara dengkuran halus dari seseorang di sana membuatnya mendekati tempat tidur.


Ia berniat membangunkannya, tapi urung saat orang yang bergelung di bawah selimut itu membuka mata.


"Sayang?" Orang yang merupakan suaminya itu lekas duduk dan langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar lemah.


"Abang sakit?" tanya Rahma khawatir saat merasakan suhu tubuh suaminya yang tidak normal. Wanita itu berusaha melepaskan pelukan pria itu, menatap mata suaminya yang sayu.


"Kamu udah nggak marah, Sayang?" Ridho malah balik bertanya.


Rahma hanya menjawab dengan gelengan sebelum beranjak pergi. Beberapa menit kemudian wanita itu membawa nampan berisi bubur dan air putih hangat. Ia meletakkan benda itu di atas nakas lalu mengambil obat di laci.


"Makan dulu ya! Sebelum minum obat," ucapnya seraya menyodor bubur dengan sendok ke mulut Ridho.


Ridho mengangguk patuh walau, ia sama sekali tak menyukai makanan lunak itu. Matanya tak berhenti menatap istrinya sambil berusaha menelan bubur di mulut. "Beneran kamu udah nggak marah?" tanyanya mencoba memastikan. Ia takut wanita ini akan pergi lagi dari hidupnya.


"Enggak," balas Rahma sambil terus menyuapi bubur ke mulutnya.

__ADS_1


"Berarti udah percaya sama aku?"


Rahma meletakkan kembali bubur di atas nampan lalu mengambil air putih beserta obat kemudian memberikannya pada pria di depannya. Ia menunggu beberapa detik pria itu meminum obatnya lalu berkata," Kalo itu aku masih ragu."


"Apa yang membuatmu ragu?"


Wanita itu memberikan ponselnya pada Ridho yang diterima pria itu dengan kening berkerut. Matanya membulat saat melihat layar ponsel yang menampilkan sebuah foto dirinya di peluk seorang wanita yang tidak asing.


"Siapa yang kirim kamu foto ini?" Ia cepat-cepat menghapus foto itu dan mengembalikan ponsel pada istrinya.


Wanita itu menggeleng.


"Sesorang sepertinya sengaja mengirim foto itu agar kamu salah paham," ujar tampak berpikir. "Demi Allah aku tidak sudi disentuh wanita manapun selain kamu."


Ridho segera memeluknya. "Tak apa, Sayang," ucapnya lembut. "Wajar kamu tidak mempercayaiku." Ia mencium pucuk kepala wanita itu. Menghirup udaranya dalam-dalam.


***


Beberapa hari setelah kejadian itu Ridho mencari tahu siapa orang yang tak dikenal yang mengirimkan foto tersebut pada istrinya. Ia meminta bantuan Indra karna, pria itu yang bisa ia andalkan saat ini.


Indra bersedia membantu dan mengutus anak buahnya melacak keberadaan pemilik nomor itu. "Ternyata orang itu suruhan dari asisten bokap lo, Bro," ujarnya setelah mendapat informasi. Mereka sekarang berada di kafe yang tidak ramai. Hanya ada beberapa pengunjung di sini.

__ADS_1


"Gue sudah menduga hal ini." Pria berwajah rupawan itu mendengkus. "Kayaknya pria tua itu harus gue beri pelajaran agar kapok."


"Bapak lo woy." Indra menatapnya tak percaya.


"Bukan dia, tapi asistennya."


"Ya kirain lo mau jadi anak durhaka." Indra melambaikan tangan pada pemuda bertopi di ujung sana untuk memesan minuman. "Kopi seperti biasa satu." Yang mendapat balasan anggukan


"Gue gak lo pesenin?" Ridho menatapnya kesal.


"Pesen sendiri!"


"Bang-


"Eh lo mau gue laporin Rahma?" Indra yang tau temannya itu akan mengumpatinya melayangkan senjata.


"Bang pesen kopi masa depan satu!"


"Gak ada kopi masa depan, Bang," jawab pemuda bertopi itu menghampirinya.


"Adanya apa?"

__ADS_1


"Adanya kopi kenangan."


__ADS_2