Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Zaujati, Zauji


__ADS_3

"Uhibbuki mitsla maa antii ... uhibbuki kaifa maa kunti."


"Wa mahmaa kaana mahma shooro ... anti habiibati antii. Zaujatii, anti habiibati antii."


Senyum tipis terbit di bibir Ridho sambil menatap wanita di sisinya. Genggaman tangannya mengerat pada sang istri saat wanita itu membalas nyanyian yang berasal dari arab tersebut.


"Uhibbuka mitsla maa antaa ... uhibbuka kaifa maa kunta."


"Wa mahmaa kaana mahma shooro ... anta habiibi antaa. Zaujii, anta habiibii antaa."


Fiko bersorak heboh, tampak senang melihat keromantisan pasangan halal di atas panggung. Indra mendengarkan dengan kyusuk, Dino meletakkan ponselnya di atas meja, sedangkan Tito senyum-senyum sendiri sambil berkhayal dirinya di masa depan lebih romantis dari dua manusia itu.


Pengunjung kafe tampak meleleh. Alunan lagu arab dari dua orang itu terus berlanjut.


"Halaalii anti laa akhsyaa, 'azuulan himmuhuu maqti."


"Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin ghoiri munbatti."


"Saqoital hubba fii qolbii bihusnil fi'li wassamta."


"Yaghiibus sa'du in ghibta wa yashful 'aisyu in ji'ta."


Dua pasang mata bertabrakan. Menyorot dalam, mengungkapkan rasa yang membuncah. Rasa cinta dan kasih sayang yang tulus.


"Nahaarii kaadihun hatta idzaa maa'udtu lilbaiti."


"Laqii tuka fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa tabassamta ..."


"Uhibbuki mitsla maa antii ... uhibbuki kaifa maa kunti."

__ADS_1


"Wa mahmaa kaana mahma shooro ... anta habiibi anta. Zaujii, anta habiibi antaa."


***


8 bulan kemudian


Suara tangisan bayi membuat Ridho terjaga dari tidurnya. Cepat-cepat ia memeriksa apa yang salah dengan bayi laki-laki dalam box di sisinya itu. Tangannya dengan sigap meraih putranya lembut, lalu menimang-nimang bayi tersebut.


"Alriq kenapa, Bang?"


Rupanya sang istri ikut terjaga mendengar suara bayi mereka.


"Nggak tau, Sayang. Tiba-tiba nangis."


Rahma duduk dari baringnya lalu mengulurkan tangan ke arah sang suami. "Sini, biar aku yang gendong, Bang."


Ridho memberikan bayi mungil itu pada wanita tersebut.


Setelah di susui ibunya, tangisan bayi tersebut terhenti. Ridho mengusap kepala putranya sayang, lalu menciuminya gemas.


"Jadi anak sholeh ya, Sayang!"


Pria itu meletakkan kembali Alriq ke dalam box setelah tertidur.


Keluarga kecilnya telah lengkap. Tidak ada alasan lagi untuk tidak bahagia. Apalagi tidak bersyukur.


Ia tersenyum menatap bayi tampan perpaduan antara dirinya dan sang istri. Kemudian beralih pada wanita yang melahirkan anak mereka beberapa minggu lalu. Ridho menggumamkan terima kasih berkali-kali pada wanita itu.


Ridho tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika ia tidak bertemu wanita tersebut. Mungkin saja ia masih menjadi Ridho yang tidak bahagia dan membenci dunia.

__ADS_1


***


Pagi-pagi sekali setelah salat subuh, Ridho sudah sibuk di dapur memasak untuk sang istri. Menu yang ia masak adalah nasi goreng seafood.


Tangannya dengan lincah mengaduk nasi dalam wajan. Semenjak Rahma hamil, pria tampan dengan sorot mata tajam itu sudah terbiasa memasak berbagai macam makanan.


Walaupun awalnya gagal dan yang kedua, ketiga juga gagal. Tapi, lama-kelamaan, setelah berlatih beberapa kali dengan modal youtube, akhirnya pria dengan apron itu bisa juga. Meski rasa makanannya terlalu biasa, akan tetapi Rahma tetap menghargainya.


Senyumnya mengembang saat mencicipi masakannya yang sudah di sajikan di piring. Mudah-mudahan istrinya suka, ia berdoa dalam hati.


Pria tampan itu melepas apron sebelum ke kamar, memanggis sang istri.


"Sayang sarapan yuk! Aku udah masakin nasi goreng seafood buat kamu." Ridho tersenyum lebar lalu menyapa bayinya yang masih terlelap.


"Maaf ya, Bang. Aku ngerepotin." Rahma tampak tidak enak, sang suami memasak untuknya.


"Siapa yang ngerepotin. Memasak kan emang tugas suami sebenernya," balas pria berkulit putih itu sambil membantu istrinya berjalan keluar kamar.


Dengan hati-hati ia tarik kursi untuk Rahma. Lalu mempersilakan wanita tersebut duduk di sana. Sedangkan pria tampan memakai kaos putih itu memilih duduk di sisi.


Piring berisi masakannya ia geser ke arah Rahma. Dengan pelan wanita itu memakannya setelah membaca doa.


"Gimana?"


Ridho tampak menunggu komentar istrinya tentang masakannya kali ini.


"Lumayan," kata Rahma menjeda. "Enak," lanjutnya.


Ridho menepuk dadanya bangga. "Iya dong. Siapa dulu yang masak, Ridho." Keduanya tertawa, tampak bahagia.

__ADS_1


~End~


__ADS_2