Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Wanita itu sebenarnya kaya raya


__ADS_3

"Bang sabun rinso yang baru ku beli kok cuma tinggal bungkusnya?"


Pertanyaan itu meluncur di mulut Rahma pagi itu. Dengan raut wajah kebingungan ia membawa bungkus rinso ke kamar. Memperlihatkan pada Ridho yang lagi memasang jasnya.


"Nggak tau," balas Ridho. "Di makan tikus kali." Dan secara tidak langsung pria itu mengatai dirinya adalah tikus. Tikus besar yang memakai rinso untuk membersihkan tubuh. Noda membandel hilang seketika.


"Mana ada tikus di sini," kata Rahma. Ia berjalan ke tong sampah untuk membuang bungkus rinso itu. Rencananya merendam pakaian pagi ini terpaksa ditunda dulu. Padahal kain kotor sudah sangat banyak.


"Semalem ke mana kok pulangnya lama?" Rahma belum menanyakan hal ini pada Ridho. Bahkan tadi setelah ia sholat subuh mereka membicarakan banyak hal.


"Ke apartemen Indra Sayang."


"Bohong."


Respon Rahma dengan nada kesal membuat Ridho cepat-cepat mendekat. "Aku nggak bohong kok. Tanya aja sama Indra kalo kamu nggak percaya." Rahma diam mendengarnya. Apa benar yang dikatakan suaminya. Tapi foto itu ...

__ADS_1


Semalam ia juga menyangkalnya. Tapi tetap saja sisi hati lainnya percaya ditambah bukti yang dikirim seseorang entah siapa.


"Sayang?" panggil Ridho saat istrinya itu melamun.


"Eh iya?"


Sepertinya Rahma tidak mempercayainya. Tidak seperti Rahma biasanya. Langsung ia telpon Indra agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ndra gue semalam ke apartemen lo kan?"


"Nggak apa-apa," balas Ridho lalu memutus sambungan telepon begitu saja.


"Sekarang percaya kan?"


Rahma mengangguk. Walaupun sebenarnya ia tidak begitu percaya.

__ADS_1


Setelah itu Ridho pamit untuk pergi bekerja. Tanpa sarapan lebih dahulu. Rahma bilang kalo dia akan mengantarkan makanan nanti siang yang Ridho balas, "Oke aku tunggu ya." Ia mengecup kening Rahma sekilas lalu mengucap salam.


***


Pukul sembilan pagi Rahma sudah berada di restoran miliknya. Kesibukan wanita itu hanya itu-itu saja mengurus rumah dan mengontrol restoran yang ia bangun dari nol. Sekarang pengunjungnya bertambah pesat.


Menu baru sudah diluncurkan dan mendapat banyak peminat. Beberapa cabang juga sudah ia buka di luar kota. Penghasilannya naik drastis. Meningkat tiap bulan. Wanita itu kaya raya, tapi tidak pernah memamerkan kekayaannya. Ia hidup sederhana.


"Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Mereka) berada dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih . Dan naungan asap hitam. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar. Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah." (QS Al-waqiah 56: ayat 41-45)


Di surah Al-waqiah sudah dijelaskan bahwa golongan kiri itu dulunya hidup dalam kemewahan. Rahma tidak mau termasuk dalam golongan mereka. Harta yang ia punya selalu disedekahkan. Bukankah hidup akan lebih menyenangkan jika saling berbagi? Orang yang tulus pasti akan merasa bahagia jika mensedekahkan hartanya di jalan Allah. Berbagi itu indah. Rahma sudah merasakannya.


Rahma mengecek saldo atm BSI-nya di ponsel. Di sana tertera angka 270.969.310.501.000,00. Sudah sebanyak ini ternyata? Itu belum lagi di atm lainnya.


Rahma tidak menyangka kekayaannya sudah mencapai ratusan triliunan. Memang wajar sih karna penghasilan restorannya yang tak main-main. Apalagi ia hanya menggunakan uangnya untuk bersedekah saja. Semua kebutuhan bulanan memakai uang dari hasil gaji Ridho. Pria itu akan ngambek jika Rahma menggunakan uangnya untuk keperluan.

__ADS_1


Ridho tidak pernah tahu wanita yang dinikahinya memiliki banyak uang. Rahma juga tidak memberi tahunya karna takut pria itu merasa insecure pada diri sendiri. Gaji Ridho bulan kemaren hanya 20 juta dan sekarang naik menjadi 45 juta sebagai direktur perusahaan. Masih sangat jauh dari penghasilan Rahma tiap bulan. Dari 159 restoran yang ia miliki. Ia bisa menghasilkan uang miliyaran setiap bulan. Jauh sekali dengan pendapatan suaminya.


__ADS_2