
Pulang dengan tangan kosong. Sang istri pasti kecewa padanya. Motor melambat memasuki komplek perumahan sederhana. Pria berkulit putih dengan sorot mata tak ramah menghela napas berkali-kali.
Pintu terbuka perlahan. Pria berusia 25 tahun melongok masuk ke rumah sederhana miliknya. Sunyi. Apakah wanitanya sudah tidur? pikirnya, tanpa menghentikan langkah.
Benar saja. Ternyata wanita itu tertidur di sofa menghadap televisi. Ridho bernapas lega. Syukurlah.
Ia sempat melirik jam sekilas. Sudah jam sebelas malam rupanya. Pantas saja wanita berbalut dress selutut itu sudah tidur.
Ridho menghampiri istri yang terlelap. Tangannya terulur menyentuh pipi wanita itu yang terasa halus. Masya Allah cantiknya istri Abang. Ia tersenyum lembut. Memandangi wajah wanita yang menemaninya beberapa tahun ini. Menerima segala kekurangannya.
Sungguh beruntung Ridho. Lewat wanitanya ini Allah memberi hidayah kepadanya. Entah apa yang terjadi jika Ridho tidak bertemu dengan Sang istri saat SMA. Akankah ia tetap menjadi Ridho yang tidak taat agama?
Kecupan penuh perasaan di kening sang istri dibalut kasih sayang. Rasa cinta tiada tara. Ridho menggedong wanitanya dengan hati-hati menuju kamar.
***
Pagi harinya saat subuh, wanita berbalut mukena menanyakan apa diinginkan tadi malam pada suami.
Pria berbaju koko terdiam. Sedangkan wanita itu terus mendesak bertanya.
Ridho menggaruk pelipis sambil nyengir. Masih ingat aja. "Mm itu anu-
Rahma tampak bingung.
__ADS_1
"Gak ada yang jualan, Sayang."
Wanita cantik itu cemberut. Ridho langsung salah tingkah. "Mm Sayang. Jangan sedih! Nanti aku cari lagi!"
Tidak ada balasan. Ridho semakin panik. "Beneran nanti aku cari lagi," katanya lagi menggeser duduk lebih dekat ke istri. Ia menggenggam tangan dingin wanita itu. "Jangan marah ya!"
Jeda beberapa saat.
"Bang?"
"Ya?" Ridho mengangkat sebelah alis melihat ekspresi istrinya.
"Dedek bayi ngambek. Udah gak mau lagi lontong sayur."
Wanita dengan tatapan lembut menatap mata sang suami. "Dedeknya pengen cilok," ujarnya.
"Cilok?" Ridho menggaruk kepala yang tak gatal. Apa itu cilok? Apa itu sejenis ...
"Iya cilok yang bentuknya bulat-bulat itu!"
Bulat-bulat? Ridho berpikir keras. "Tahu bulat yang digoreng dadakan itu bukan, sih?"
"Iih bukan. Masa iya Abang gak tau cilok? Gak pernah makan cilok apa?"
__ADS_1
Ridho menggeleng. Selama ini ia memang tidak pernah memakan itu.
"Coba cari di google deh," ucap wanita itu lalu berdiri sambil melepas mukenah. Menggantungnya bersama sajadah.
Ridho meraih ponsel di atas nakas. Mengutak-atik benda itu. "Oh ini?" Pria berkulit putih memperlihatkan layar ponsel. "Bukankah di sekolah kita dulu ada yang jualan ini ya?"
***
Angin pagi berembus dingin. Sang surya menyapa di balik awan. Pria bermotor matic menyosong jalanan. Sekarang misinya adalah berburu harta harun. Maksudnya berburu cilok. Ia menganggap cilok itu adalah harta karun yang sangat berharga.
Setelah semalam ia gagal berburu lontong seharusnya tidak boleh gagal juga berburu harta karun cilok bulat, tapi bukan tahu bulat atau lonjong-lonjong.
Motor berhenti di depan gerbang SMA swasta. Pria berjaket hoodie hitam turun di atasnya. Kedua tangan ia masukkan ke saku untuk menghalau dingin pagi hari.
Sepasang kaki panjang pria berkulit putih melangkah menuju gerobak bertulisan Cilokba.
"Ini cilok kan, Pak?"
"Ya, Dek."
"Ciloknya 50 ribu ya, Pak!"
Tukang cilok mengiyakan.
__ADS_1
Perhatian pria berhoodie hitam itu teralihkan pada sebuah mobil yang baru tiba berhenti di depannya. Seseorang yang dikenal turun dari sana.