Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Kamu di mana?


__ADS_3

Pintu berderit saat di buka, sepasang kaki melangkah masuk ke rumah. Indera matanya menangkap kegelapan. Ridho yang tampak berantakan akibat berkeliling ibukota di tengah malam, tertunduk lesu. Pria itu menutup pintu kembali lalu menguncinya.


Semua tempat yang biasa istrinya kunjungi hingga panti sudah ia singgahi. Namun wanita itu tidak ada di sana sama sekali. Kemana lagi ia harus mencari?


Ridho merebahkan diri di kasur saat sampai kamar tanpa mengganti pakaian. Ia lelah, tidak sanggup untuk melakukan hal ringan apapun.


Sayang kamu di mana?


Ridho gelisah. Susah payah ia memejamkan mata berusaha tidur, tapi tidak bisa. Selama ini pria berwajah rupawan itu tidur memeluk istrinya. Ketidakhadiran wanita itu di sini membuat ruangan ini jadi berbeda.


Sempat ia membolak balikan badan ke kanan dan ke kiri, tapi kantuk tidak di rasakan. Pria itu terpaksa memilih ke kamar mandi dengan sempoyongan. Mungkin saja dengan mandi ia akan lebih nyaman.


Lima belas menit ia di kamar mandi, Ridho keluar dengan rambut basah acak-acakan. Pria itu menggigil. Kulitnya memucat. Hawa dingin menusuk tubuhnya.


Cepat-cepat ia lari ke tempat tidur dan menyusupkan badan di balik selimut putih yang lumayan tebal.


Siapa saja akan miris melihat keadaan pria itu. Sedirian saat keadaannya seperti ini. Gigil tetap ia rasa walau sudah ada selimut yang menutupi badannya. Ridho menggengam erat kain putih itu, menahan dingin yang ia rasakan.


***

__ADS_1


Di sepertiga malam terakhir, Rahma terjaga. Ia bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Wanita itu segera melaksanakan ibadah sunnah yang jarang ia tinggalkan.


Ia berdoa sambil menangis setelah mengakhiri ibadahnya. Meminta petunjuk apa yang harus ia lakukan menghadapi suaminya.


Perih hatinya melihat kejadian di kantor kemarin. Belum lagi sebuah foto yang dikirim dari nomor tak di kenal. Foto seorang wanita memeluk suaminya di tepi jalan tepat saat pria itu telat pulang.


Isak tangis Rahma mendominasi kamar itu. Ia benar-benar kecewa terhadap suaminya.


Aku kecewa, tapi kenapa aku tidak bisa jauh darimu?


Kenapa aku malah merindukanmu?


Rahma kalah ia tidak bisa jauh dari suaminya. Wanita itu mencari ponsel untuk menghubungi Ridho.


Pangilan tersambung, tapi tidak ada tanda-tanda seseorang di seberang sana menyahut. Di panggilan kedua juga sama tidak diangkat oleh pria itu.


Wanita itu menyerah, meletakan ponselnya di atas sajadah sambil terus menangis. Prasangka buruk terus menghantuinya. Pria itu sepertinya tidak peduli dengan perasaannya yang telah ia lukai.


Beberapa detik setelahnya benda di atas sajadah berwarna biru tua itu berdering. Dengan tangan gemetar Rahma mengambilnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.

__ADS_1


"Hallo. Assalamu'alaikum Sayang." Suara orang di seberang menyapa setelah ia menggeser tombol hijau bebentuk telepon. Terdengar lirih dan parau.


"Wa-wa'alaikumussalam."


"Kamu salah paham Sayang. Wanita itu tiba-tiba memelukku. Aku marah hendak menyeretnya keluar, tapi kakiku kesandung meja dan kejadian yang kamu lihat tadi terjadi."


"Tapi kenapa kamu biarkan wanita yang bukan mahrammu masuk ke ruanganmu?" tanya Rahma menyudutkan Ridho.


"Aku minta maaf. Nggak seharusnya aku membiarkannya."


Rahma terdiam. Ia menghela nafas berat.


"Kamu jangan marah Sayang. Aku tidak mungkin menghianatimu. Aku sangat mencintaimu." Suara pria itu melemah. Rahma khawatir memilih bertanya.


"Kamu kenapa?"


"Aku nggak pa-pa Sayang. Kamu di mana? Aku akan menjemputmu?"


"Aku di rumah ibu. Nanti aku pulang, jangan jemput aku," balas Rahma. Sedikit lega di hatinya mendengar penjelasan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2