
Ridho mengeluarkan semua isi perutnya. Matanya memerah karna muntah. Semua mata tertuju pada pria tersebut.
Para pengunjung menghentikan aktivitasnya. Salah satu karyawan dengan sigap membersihkan lantai bekas muntahan bosnya. Mengepel hingga kinclong dan wangi.
Rahma mengeluarkan tisu kecil dari tasnya, mengelap mulut Sang suami. "Abang sakit?" tanyanya khawatir. Ridho membalas dengan gelengan pelan, ia tidak merasa seperti itu.
"Ayo kita pulang," ajak Rahma menarik tangannya. Ridho menahan badan, tidak ingin pulang.
__ADS_1
"Hari ini kafeku baru buka, Sayang. Masa iya harus aku tinggalkan. Lagian baristanya masih belum kuajari cara bikin menu yang lain, tadi baru kuajari yang mudah saja," ujar Ridho panjang lebar. Wanita berkerudung pashmina hitam menghela napas, ia melepaskan tangan suaminya, kemudian duduk di salah satu kursi. Ridho menyusul dan duduk di hadapannya.
Rahma mengedarkan pandang kesekitar, kafe ini tampaknya belum banyak pengunjung, hanya beberapa saja. Itu semuanya perempuan, yang kalau diperhatikan sepertinya melirik ke arah suaminya. Wanita itu menggenggam tangan Ridho tiba-tiba. Ia mencoba memamerkan kemesraan dan berharap semua perempuan itu tau kalau yang mereka lirik dengan pandangan kagum adalah suami orang. Namun zaman sekarang memang banyak pelakor bertebaran di muka bumi ini. Terbukti para perempuan itu tidak peduli apakah pria tampan di hadapannya sudah punya istri atau tidak. Mata mereka masih tertuju pada satu titik.
Rahma kesal. Ia berdiri, mengecup pipi Ridho di depan banyak orang. Suaminya itu tampak terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu, tapi tetap tersenyum juga karna hal itu ia suka. Pria tampan tersebut membalas, menahan kepalanya, memberi kecupan di kening dan pipi kanan kiri. "Tumben kamu begini?" tanyanya tersenyum menggoda.
Ujung bibir Ridho semakin tertarik, merasa senang. Bahagia luar biasa, wanita hamil itu semakin berbeda, tapi ia sangat suka. Jarang-jarang sekali istrinya itu mencium dirinya seperti ini, tapi kenapa sekarang memberi kecupan di pipinya di tempat umum? Aneh sekali. Apa mungkin lagi ngidam kali ya? pikirnya. Dedek bayi dalam perut istrinya ingin mencium papanya. Mungkin saja begitu.
__ADS_1
Fiko dan Tito menutup mata dengan jari. Walau sebenarnya masih kelihatan tadi. Dua jomlo itu sama-sama meringis, melihat hal romantis di depan mata. Sedangkan Dino, si Pak guru, masih sibuk dengan ponselnya. Wajah pria berkacamata tersebut tampak serius.
Indra turun dari lantai atas. Perutnya lega habis buang air besar di toilet baru. Ia mengerutkan kening melihat dua jomlo menutup mata dengan jari. Mata itu berpindah pada Dino, tidak ada yang aneh, masih seperti tadi. Kemudian ke pengunjung, menikmati menu, sepertinya juga sama seperti tadi. Lalu kenapa dua karyawannya itu menutup mata?
Ia melirik Ridho dan Rahma yang saling tatap. Dan disitulah ia menemukan jawabannya. Pasangan halal itu sepertinya menganggap dunia ini milik berdua, dirinya dan yang lain hanyalah transparan. Oh yasalam. Indra kembali duduk di dekat Dino, memandang keluar kaca.
"Aku mencintaimu, Istriku," bisik Ridho mesra. Rahma tersipu, wajah memerah. "Aku juga mencintaimu, Suamiku," balasnya pelan. Ridho tak tahan mencubit kedua pipi meroda itu. Lalu menarik tangan istrinya ke panggung kecil, yang belum dihuni siapa pun.
__ADS_1