Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Nasi goreng rasa keju susu


__ADS_3

"Bagaimana?" Ridho bertanya pada istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. "Gak pa-pa kalo hasilnya negatif," ucapnya saat melihat raut wajah wanita yang mengenakan dress rumahan selutut itu. "Mungkin belum rezeki kita, Sayang."


Laki-laki muda itu mendekati istrinya. Ia memeluk cepat untuk menenangkan. "Aku gak masalah juga kalo gak punya anak. Hidup bareng kamu aja udah cukup bagiku."


Rahma melepaskan pelukan Ridho. Ia dengan tangan gemetar menyerahkan test pack ke pria tampan itu. Ridho yang menerima, mengerutkan kening saat melihat dua garis berwarna merah di benda kecil itu. "Kamu?" Pria itu melihat istrinya yang menangis haru lalu kembali ke benda yang dipegangnya. "Kamu hamil, Sayang?"


Rahma mengangguk. Ridho kembali memeluk wanita itu. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Pelukannya mengerat. "Terima kasih, Sayang." Ia mengecup ujung kepala istrinya.


***


Pukul sembilan pagi Ridho masih berada di rumah. Hal itu menjadi tanda tanya bagi Rahma. Sedangkan hari ini adalah hari jum'at bukan sabtu atau ahad dan bukan juga tanggal merah.


"Aku udah resign dari perusahaan, Sayang."


Ucapan Ridho menjawab pertanyaan yang ada di kepalanya. Wanita itu menatap punggung pria yang sedang asik memasak itu. Entah apa yang dimasaknya, Rahma sama sekali tidak tau. Setelah kejadian mengharukan tadi ia dilarang mengerjakan pekerjaan rumah termasuk memasak. Pria yang memakai apron itu yang mengerjakan semuanya sambil bersholawat.

__ADS_1


Walau pun masih sangat kaku melakukan semuanya. Tapi ia cukup bisa.


"Kenapa?" tanya Rahma. Ia cukup terkejut mendengarnya. Jabatannya sudah bagus, tapi mengapa malah memilih berhenti?


"Sebagian saham Hans group adalah milik Sinta. Aku tidak mau berurusan lagi sama wanita itu dengan terus bekerja di sana," jelas Ridho sambil menyajikan masakannya yang terlihat kacau balau. Rahma sampai menelan ludah melihat makanan aneh itu.


"Aku gak mau kamu salah paham lagi." Lalu pria itu menyodorkan sendok berisi masakan berupa nasi kepada Rahma yang ragu-ragu menerima suapannya.


"Gimana enak?" Ridho tersenyum. "Itu nasi goreng rasa keju susu. Aku yang menciptakan resepnya sendiri."


Dengan susah payah Rahma menelan makanan di mulut. Ia balas senyum suaminya. "Mungkin lidahku bermasalah kali, Bang." Ia menatap suaminya tak enak. "Rasanya aneh," jawabnya jujur.


"Paksain aja makannya ya, Sayang! Kasian dedek bayi dalam perut kamu kelaparan."


Rahma menggeleng. "Gak ah! Aku mau makan ketoprak Mang Asep aja!"

__ADS_1


"Lalu ini gimana?" tanya Ridho. "Masa dibuang?"


"Abang aja yang makan!"


Pria itu menurut. "Yaudah aku ke depan dulu cari Mang Asep. Kamu tunggu ya!" Ia berdiri dari kursi, mengecup ujung kepala Rahma sekilas lalu pergi.


***


"Ketopraknya satu ya, Mang!"


"Oke siap!" balas Mang Asep jenaka. Ridho mengulas senyum tipis melihatnya.


Padangannya beralih pada ibu-ibu yang menatapnya kagum. Salah satu dari mereka bahkan ada yang mengedipkan mata. Ridho bergidik ngeri melihat wanita dengan lipstik merah menyala itu. Perutnya bergejolak mual. Ia membungkuk saat cairan bening keluar dari mulutnya.


"Kamu gak pa-pa?" Mang Asep menyodorkan plastik berisi sebungkus ketoprak sambil menatapnya khawatir.

__ADS_1


"Gak apa kok, Mang." Ridho mengelap mulut dengan ujung lengan bajunya. Lalu memberikan uang pada Mang Asep setelah menerima pesanan. Cepat-cepat ia kabur dari sana tanpa melihat ke belakang.


***


__ADS_2