Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Belajar di rumah Indra


__ADS_3

Di kamar terlihat Indra sedang fokus belajar di meja belajar. Ridho melihat temannya yang asik dengan buku itu menghampirinya.


"Indra."


Indra menoleh ke asal suara yang ia dengar. "Ridho, lo ngapain ke sini?"


"Tadi gue ke basecame kita, gue liat lo nggak ada di sana. Makanya gue saperin lo ke sini," jawab Ridho seraya mendudukan tubuhnya di sofa kamar Indra.


"Oh gitu, yaudah gue lagi belajar nih jangan ganggu gue," ucap Indra dan fokus lagi dengan bukunya.


"Iya, nggak bakalan gue ganggu kok." Ridho membaring tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.


Seketika ia ingat kembali ucapan Fiko tadi.


"Ndra."


"Hmm."


"Menurut lo, gue ini ganteng nggak?" tanya Ridho yang mengulangi pertanyaannya ke Fiko tadi.


Indra meletakan bukunya, membalikan tubuhnya menghadap Ridho dan menjawab. "Lo mau tau, kalo lo ganteng apa nggak."


Ridho mengangguk kemudian Indra menghampiri Ridho. " Sini ikut gue." Indra mengiring Ridho menuju cermin.


"Sekarang lo liat, lo ganteng apa nggak," ucap Indra sambil menunjuk bayangan Ridho di cermin.


Ridho memperhatikan bayangannya di cermin lalu menjawab, "iya."


"Sama jawaban gue juga iya. Kalo lo itu emang ganteng." Indra kembali berjalan menuju meja belajarnya.


"Tapi menurut lo, Dimas sama gue gantengan mana?" tanya Ridho lagi.


Indra mengerukan keningnya. "Dimas? Dimas anak baru itu?" tanya Indra dan Ridho pun mengangguk.


"Kalo menurut gue Dimas itu emang ganteng sih. Tapi jauh lebih ganteng lo dari pada dia," ujar Indra.


Sebenarnya Indra agak heran, sejak kapan sahabatnya ini jadi kurang percaya diri kayak gini. Biasanya malah sering muji diri sendiri, pikirnya.


"Kalo gue lebih ganteng dari Dimas, kenapa Rahma milih Dimas dari pada gue," ucap Ridho lirih.


"Ternyata karna itu lo kayak gini," batin Indra.


"Nggak semua orang yang menyukai seseorang karna bentuk fisik, mungkin Rahma memilih Dimas karna dia baik," ucap Indra lalu melanjutkan belajarnya lagi.


"Maksud lo gue nggak gitu?" tanya Ridho yang memang merasa dirinya seperti itu.


"Lo pikir aja sendiri, gimana diri lo. Sekolah lo aja nggak jelas. Sering cabut, nggak bikin tugas, bolos, nilainya jelek. Mana mungkin Rahma mau sama orang seperti itu."


"Jadi itu alasannya, baiklah gue akan berubah," sahut Ridho semangat lagi.

__ADS_1


"Yaudah kalo lo mau berubah, ayo belajar bareng gue. Seminggu lagi kita ujian semestes, lo harus buktiin ke Rahma kalo lo bisa dapat nilai terbaik," ajak Indra sembari memberikan buku kepada Ridho. Ridho mengambil buku itu dan akhirnya mereka belajar bersama malam itu.


Di luar kamar mak Era tampak memperhatikan anaknya dan temannya itu, kemudian ia tersenyum.


"Syukurlah, ternyata benar mereka belajar bersama."


Era berlalu pergi ke ruang tamu setelah itu.


Beberapa jam kemudian, Ridho dan Indra pun tampak tertidur di lantai kamarnya Indra sambil memegang buku di tangannya.


* * *


Pagi hari jam 05.00 Ridho terbangun, ia membuka matanya perlahan.


"Eh gue dimana?" Ridho terkejut saat ia tau dirinya tidak berada di kamarnya.


Kemudian pemuda itu memperhatikan sekeliling.


"Jadi gue ketiduran di rumah Indra." Ridho melihat jam di tangannya. "Sudah jam lima pagi, mendingan gue sholat subuh deh."


Ridho melihat ke arah Indra yang masih tertidur dan menggoyangkan tubuh Indra agar bangun.


"Bangun, Bro udah subuh," ucap Ridho yang terus menggoyangkan tubuh temannya itu.


Indra terbangun kemudian duduk dan tidur lagi.


"Yah elo, buat apa lo bangunin gue subuh-subuh gini?" tanya Indra heran.


"Ya buat sholatlah, buat apa lagi," jawab Ridho kesal.


"Oh iya ya, tapi gue nggak bisa sholat gimana dong hehehe," sahut Indra yang memang selama ini nggak pernah menunaikan sholat.


"Nanti gue ajarin, sekarang kita wudhu dulu." Ridho menyeret Indra ke kamar mandi dan mengajarkannya cara berwudhu.


Setelah berwudhu mereka pun sholat bersama. Dengan posisi Indra di belakang Ridho dan mengikuti gerakan Ridho. Setelah sholat tak lupa Ridho berdoa dan membaca al-qur'an. Indra pun sedikit kaget mendengar suara Ridho yang ternyata merdu saat mengaji.


"Wah Bro ternyata lo bisa ngaji, suara lo bagus banget Bro gue nggak nyangka," ujar Indra yang terkagum mendengar suara temannya itu.


* * *


Di sekolah


Ridho memarkirkan motornya di parkiran, dan begitu juga dengan Indra.


"Wah Bro ternyata seragam sekolah gue pas juga di badan lo," ucap Indra.


"Pas dari mana, ini sempit tau. Ini seragam lo kapan sih kecil amat, sesak gue makainya?" Ridho memperhatikan seragam yang di pakainya yang kelihatan ke kecilan.


Merdengar ucapan Ridho Indra pun tertawa.

__ADS_1


"Sialan lo, malah ngetawain gue," umpat Ridho yang kesal.


Dan kemudian terlihat Rahma berjalan menuju gerbang, Ridho hendak mengejar Rahma namun tangan ditahan Indra.


"Lo jangan kejar dia, lo harus tahan diri lo. Untuk saat ini lo jauhin dulu Rahma," ucap Indra mencekal lengan Ridho.


Mendengar hal itu mata Ridho melotot.


"Nggak gue nggak akan jauhin dia!" tegas Ridho yang tampak kesal dan mencoba melepaskan lengannya dari Indra.


"Dengerin gue dulu." Indra membisikan sesuatu di kuping Ridho.


Di kelas


"Sinta ini beneran lo. Wah hari ini lo kelihatan cantik banget, nyesal gue putusin lo," ucap Ridho yang duduk di samping Sinta pagi itu sambil melirik ke arah Rahma.


Sinta mendengar itu terlihat senang.


"Gue itu udah cantik dari dulu kali."


"Iya ya, lo emang cantik dari dulu," ujar Ridho tersenyum yang terus memperhatikan gadis di depannya.


"Kenapa hatiku sakit sekali melihat dia dekat sama Sinta?" gumam Rahma dalam hati.


Rahma langsung keluar dari kelasnya dan di susul oleh Dimas.


"Kamu mau kemana Rahma?" tanya Dimas heran.


"Aku mau ke toilet," jawab Rahma dan meninggalkan Dimas di depan kelas.


Rahma berjalan di koridor sekolah menuju toilet. Di dalam toilet ia tak bisa menahan tangisnya lagi, ia menumpahkan semua air matanya di sana. Setelah selesai menangis Rahma membasuh mukanya dengan air dan keluar toilet menuju taman belakang.


Saat sampai di taman belakang Rahma mendudukan tubuhnya di bangku taman itu sambil menatap pohon nan rindang yang ada di sana. Ia menyandarkan tubuhnya di bangku taman dan memejamkan mata agar kesedihannya hilang.


Tak dapat di pungkiri gadis bernama Rahma itu, memang selalu melakukan cara itu saat dia lagi bersedih.


Saat Rahma memejamkan mata ada seseorang yang duduk di sampingnya. Perlahan gadis itu membuka mata dan melirik ke samping kanannya.


"Ridho," ucapnya lirih.


"Rahma apa lo menyukai gue?" tanya Ridho.


Rahma hanya diam tak mampu menjawab. Ia memang menyukai pemuda yang ada di sampingnya itu, namun mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada muda itu.


"Gue tau lo juga suka kan sama gue, dan gue juga lo jauhin gue karna Sinta minta kan," ujar Ridho sambil menatap wajah gadis itu.


Rahma tetap diam, ia menundukan pandangannya agar tak menatap Ridho.


"Lo nggak perlu turutin apa kata Sinta hanya karna dia donorin darah buat gue. Rahma dengerin gue, gue suka sama lo dan gue janji setelah gue lulus sekolah gue akan lamar lo jadi istri gue," ucap Ridho dan meninggalkan Rahma yang mematung di sana.

__ADS_1


__ADS_2