Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Gara-gara jus jeruk


__ADS_3

Tok tok tok


Seseorang mengetok pintu kamar Indra dari luar beberapa kali. "Ndra lo di dalam kan."


Terdengar suara Fiko dari luar kamar Indra.


"Nih anak ngapain di dalam sih. Dari tadi pintunya nggak dibuka juga," keluh Dino yang sudah menunggu Indra membukakan pintu sedari tadi.


"Tidak ada tanda-tanda kehidupan kayaknya," komentar Tito. Pemuda itu hanya bisa menghela nafas. Mencoba bersabar sampai Indra membukakan pintu.


Dino menoleh ke arah Tito lalu beralih ke arah Fiko. "Jangan-jangan tuh anak udah mati lagi di dalam," ucapnya malah ngawur.


Fiko memukul lengan Dino agak sedikit keras. "Jangan ngomong sembarangan. Ingat kata-kata itu adalah doa," ucap Fiko mengingatkan.


Dan orang yang diingatkan malah memukul pelan mulutnya sendiri dengan tangannya. "Maap enggak sengaja gue ngomongnya."


Sudah satu jam tiga makhluk itu berdiri di depan pintu itu sambil terus mengetokan tangannya ke pintu berulang-ulang.


Entah apa yang terjadi pada Indra di dalam sana sehingga tak kunjung keluar juga dari kamarnya itu. Begitulah pikiran mereka kira-kira.


Dengan wajah sedikit lesu akibat telah lama mengetok pintu. Tiga makhluk itu memilih pulang saja ke rumah mereka masing-masing setelah berpamitan pada Mak Era yang duduk di ruang TV.


* * *


"Rahma," panggil seseorang saat gadis itu baru masuk ke dalam kelas.


Gadis itu menoleh ke asal suara. Ternyata suara itu berasal dari Dimas. Mau apalagi dia, pikirnya.


"Rahma kamu yakin menerima lamaran laki-laki yang udah nyakitin kamu selama ini," ucap Dimas to the point.


"Iya yakin," jawab Rahma singgat.


Dimas menghelas nafas dan mengembuskannya dengan kasar. "Coba kamu pikirkan lagi Rahma laki-laki itu nggak baik buat kamu," jelas Dimas menatap lekat wajah gadis itu. "Apa kamu yakin papanya akan merestui kalian," sambungnya.


Mendengar itu Rahma sontak kepikiran apa mungkin papanya Ridho akan merestuinya sedangkan dia bukanlah berasal dari keluarga berada. Wajah gadis itu tertunduk, ia tak bisa menjawab perkataan Dimas.


Tak lama Ridho masuk ke dalam kelas. Dan baru saja ia masuk ke kelas, ia melihat Dimas berdiri di dekat gadis pujaan hatinya. Benar-benar membuat hatinya kian memanas. Ingin sekali ia mencincang-cicang kepala pemuda bernama Dimas itu dan menjadikannya rendang. Tapi apalah daya ia tidak bisa membuat rendang.


Ngomong-ngomong soal rendang. Ia jadi kepikiran ingin memakan rendang. Kenapa wajah Dimas berubah menjadi rendang di penglihatannya. Ya tuhan apa ini? Apakah aku sudah gila. Ingin sekali ku memakannya. Pikirnya.

__ADS_1


"ASSALAMU'ALAIKUM."


Lamunan Ridho buyar saat mendengar ucapan salam dari temannya. Ya suara itu berasal dari Indra yang di ucapkan dengar sangat lantang. Kewarasannya pulih dengan seketika.


Rahma dan Dimas pun melirik ke arah Indra begitu juga dengan Ridho.


"Eh eh kenapa tatapan kalian seperti itu? Horor sekali," ucap Indra. "Apakah ada yang salah dengan gue?" tanyanya.


"Lo bikin gue kaget tau nggak," sahut Dimas menatap tajam ke arah Indra.


"Sorry gue terlalu bersemangat pagi ini. Ngomong-ngomong kalian kok nggak jawab salam dari gue. Dosa lho nggak menjawab salam," jelas Indra berlalu melewati tiga orang itu. Ia langsung menuju bangkunya, meleparkan tas ke atas meja. Lalu duduk di bangku.


"Wa'alaikum salam," jawab ketiganya serentak.


Setelah menjawab salam yang terlambat dari Indra itu. Ketiganya duduk di bangku masing-masing.


"Kemaren lo kemana?" tanya Ridho pada Indra saat duduk di bangkunya. "Kenapa bolos?" sambungnya.


"Gue sedikit enggak enak badan makanya bolos," jawab Indra tanpa menoleh. Ia tidak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena tau temannya itu sangat emosian.


"Nggak enak badan kenapa nggak izin?" tanya Ridho lagi mengintrogasi.


"Muka lo kenapa?"


Pertanyaan itu seketika membuat wajah Indra berubah. Ia hanya diam.


"Woy muka lo kenapa?" tanya Ridho sekali lagi.


"Emang muka gue kenapa tambah ganteng ya?" tanyanya balik.


Sontak saja Ridho mengetok pelan kepala temannya itu. Kenapa temannya ini sangat PD sekali. Pikirnya.


"Bukan itu maksud gue. Kenapa muka lo lebam gitu? Lo habis berantem sama siapa?"


"Udah gue duga pertanyaannya pasti mengarah kesitu. Gue harus jawab apa? Ayo Indra cari alasan yang membuat dia tidak curiga," gumam Indra dalam hati.


Ridho menepuk bahu Indra membuat temannya itu sedikit terlonjak. "Kok lo diam aja. Lo habis berantem sama siapa?"


Indra menurunkan tangan Ridho di bahu. "Gue dikeroyok sama preman gadungan kemaren," jawabnya.

__ADS_1


Ridho mengerutkan keningnya. "Kok bisa? Ada masalah apa lo sama preman itu?"


"Gue juga enggak tau." Indra menghela nafas lega.


"Untung dia percaya," gumam Indra dalam hati.


* * *


Di Kantin


"Lo kemaren ngapain aja di kamar?" tanya Dino yang langsung duduk di samping Indra.


"Kemaren kita ke rumah lo. Udah satu jam kita berdiri di depan pintu kamar lo tau nggak. Kaki gue rasanya mau patah tulang karna udah terlalu lama berdiri," ucap Fiko dengan nada kesal.


"Kita udah ketok-ketok pintu kamar lo berkali-kali tapi lo kok nggak nyaut-nyaut," timpal Tito yang juga ikut kesal.


Indra hanya diam. Ia pura-pura tak mendengar ocehan dari teman-temannya itu. Malah ia asik meminum jus jeruk yang ada di depannya.


Fiko yang semakin kesal mengambil alih jus jeruk itu. "Lo dengerin kita ngomong nggak sih." Saking kesalnya Fiko meminum jus jeruk itu sampai habis.


"Yah ... jus jeruk gue," keluh Indra menatap gelas bekas jus jeruk yang sudah kosong itu. "Mpok jus jeruk tadi Fiko yang bayar ya. Soalnya dia yang ngabisin," teriak Indra pada yang punya kantin.


Fiko membulatkan matanya sambil melotot ke arah Indra. "Kok malah gue yang bayar sih. Kan lo yang pesen." Fiko terlihat tak terima.


"Siapa suruh lo ngabisin jus jeruk gue. Tuh bayar sono gue mau ke kelas dulu." Indra tersenyum senang karna telah berhasil mengerjai temannya itu. Ia berlalu meninggalkan kantin.


Fiko menoleh ke arah Dino. "Din lo yang bayar ya."


"Ogah gue yang bayar. Kan lo yang minum. Udah ah gue mau nyusul Indra." Dino juga meninggalkan kantin itu.


"To lo yang bayar ya," pinta Fiko pada Tito yang masih berada di kantin itu.


"Males ah. Gue mau nyusul Dino," sahut Tito. Ia berlari mengejar Dino yang lumayan jauh darinya.


"Sialan lo semua," umpat Fiko. Ia akhirnya pasrah membayar jus jeruk yang tak sengaja ia minum.


* * *


Jangan lupa tinggalkan jejak ...

__ADS_1


__ADS_2