Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Hari kelulusan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama ujian nasional kelas 12. Sebagian siswa-siswi tampak kyusuk melaksanakan ujian. Ada yang terlihat tegang dan ada juga yang terlihat santai.


Dengan pandangan lurus menatap komputer. Merasa deg-degan takut jawaban tidak benar.


Guru berwajah sangar berjalan kesana kemari. Membuat suasana kelas kian mencekam. Tatapannya sangat tajam lebih tajam dari pisau silet. Dengan tatapan tajam itu siswa-siswi langsung tunduk. Tak berani bersuara. Bahkan untuk bernafas saja susah.


Dua jam kemudian, ujian sesi pertama selesai. Siswa-siswi berhamburan keluar saat bel tanda istirahat sudah berbunyi.


Ridho tampak melamun duduk di sudut kantin. Tatapannya kosong menerawang entah kemana. Sepertinya keadaan pemuda itu makin hari tambah buruk. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang tidak berekspresi. Bakso yang ia pesan beberapa menit yang lalu hanya diaduk-aduk. Tidak sedikit pun tersentuh mulutnya.


Indra menatap Ridho dengan tatapan iba. "Bro," menepuk pudak pemuda itu. Membuatnya sedikit terlonjak. Ridho menoleh ke arah Indra. "Jangan ngelamun," sambung Indra.


Ridho hanya diam tak menjawab. Pikirannya masih melayang. Sebentar lagi ia akan lulus sekolah. Dan itu artinya tidak lama lagi ia akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.


Apa ia sanggup meninggalkan orang yang dicintainya. Apa ia sanggup meninggalkan sahabat-sahabatnya. Sahabat yang selalu ada untuknya. Suka dan duka sudah ia lalui bersama-sama selama beberapa tahun ini. Entahlah ia tidak tau. Tapi yang pasti ia harus pergi menjauh. Itulah yang ada dipikirannya sekarang.


* * *


Hari demi hari berlalu. Ujian nasional pun akhirnya telah berakhir. Semua siswa-siswi kelas 12 diliburkan.


Dan tibalah saatnya hari pengumuman kelulusan dan dinyatakan lulus 100%. Siswa-siswi tampak lega. Bahagia? tentu. Namun ada juga yang tampak sedih. Ia akan berpisah dengan teman-temannya, sahabat-sahabatnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Terdengar ibu kepala sekolah mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," sahut semua orang yang ada di sana.


"Para hadirin semuanya terima kasih telah hadir pada hari ini. Terutama pada Ibu-Ibu, Bapak/Bapak selaku wali murid. Pada kesempatan saat ini saya akan mengumumkan siswa-siswi berprestasi. Dari peringkat sepuluh besar sampai peringkat satu besar nilai UN tertinggi angkatan tahun ini. Nanti saya panggil namanya satu-satu. Siapa nama yang terpanggil mohon maju ke depan bersama dengan walinya." Menghela nafas sebentar. "Peringkat sepuluh besar nilai tertinggi UN angkatan tahun ini jatuh kepada ..." Terjeda sebentar.


Siswa-siswi tampak dag dig dug. Jatung berdegub kecang. Ini sangat menegangkan juga.


"Selamat kepada Indra Sanjaya berhasil mendapatkan peringkat sepuluh besar nilai UN tertinggi angkatan tahun ini," lanjut ibu kepala sekolah.

__ADS_1


Sontak Indra teperanjat, kaget. Hah itu beneran namanya dipanggil. Masa sih dirinya sehebat itu. Seolah tidak percaya itu namanya. Mungkin saja ada nama yang mirip dengannya, pikirnya.


"Wah wah, Ndra. Selamat ya, gue nggak nyangka ternyata keajaiban itu ada," ucap Fiko menepuk-nepuk bahu Indra.


"Lo ngejek gue." Mata Indra melotot. "Ngapain lo kasih selamat. Jelas-jelas yang dipanggil bukan gue. Kebetulan aja namanya mirip." Tampak tak terima Indra langsung ngambek.


"Yaelah, Ndra. Siapa yang ngejek lo? Itu beneran nama lo kali. Siapa lagi yang namanya Indra Sanjaya kalo bukan lo," kesal Fiko.


"Hah beneran?" tanya Indra dengan raut wajah bingung. Dan pada akhirnya ia maju ke depan. Semua mata tertuju padanya. Diperhatiin kayak gini rasanya gugup juga.


Rasanya Indra bahagia sekali dan bersyukur. Namun sayang emaknya tidak hadir. Tadi pagi emaknya itu kurang sehat, jadi tidak bisa mendampinginya.


"Selamat ya, Indra. Ibu bangga padamu," ucap kepala sekolah. Memberikan sebuah amplop kepada Indra.


* * *


Peringkat 9 sampai 4 sudah dipanggil. Sekarang giliran peringkat ketiga. "Baiklah peringkat tiga besar nilai UN tertinggi didapatkan oleh ...," Lagi-lagi terjeda. Kayaknya kepala sekolah itu memang sengaja bikin siswa-siswi mati jantungan. Dia benar-benar tega rupanya.


"Dimas Maulana," sambungnya.


"Selamat ya, Dimas," ucap Rahma tersenyum. Tak heran Dimas memang murid yang cerdas, baik di sekolah yang sekarang, maupun yang lama.


"Makasih." Membalas senyum gadis itu. Dimas terlihat sangat manis.


Di kejauhan Ridho menggepalkan tangannya. Tiba-tiba saja emosinya mendadak datang. Mukanya memerah, wajah sangarnya keliatan. Membuat murid lain yang berada di dekatnya menjauh. Kecuali ke tiga sahabatnya. Mereka sudah terbiasa melihat tampang Ridho seperti itu. Walaupun sedikit takut, tapi mereka yakin Ridho tidak akan berbuat apa-apa padanya.


Dimas sudah maju ke depan disusul sang mama, berjalan melewati Indra. Ia mengangguk sopan pada Indra, ikut memberi selamat. Namun Indra terlihat cuek-cuek saja. Anggap saja bukan manusia, pikir Indra. Keliatannya Dimas juga mendapatkan amplop dari kepala sekolah. Entah apa isinya, ia hanya bisa menerima saja.


"Selanjutnya peringkat dua besar nilai UN tertinggi jatuh kepada seorang gadis yang memang tidak diragukan lagi prestasinya. Gadis ini selalu mendapat peringkat 1 dari semester 1 sampai semester 5. Dia adalah Rahma Putri Ramadhani." Kepala sekolah terlihat sangat bangga.


Terlihat Rahma sangat bersyukur. Berkali-kali ia mengucapkan 'alhamdulillah.' Rasanya tidak sia-sia perjuangannya selama ini. Membuahkan hasi juga. Matanya bekaca-kaca menatap ibunya yang tampak ikut terharu. Perlahan ia maju kedepan dan sebuah amplop, ia juga ikut kebagian. Di temani bu Fatimah juga.

__ADS_1


"Dan terakhir peringkat satu besar nilai UN tertinggi didapatkan oleh siswa yang mungkin kita tidak menduganya. Siswa ini selalu membuat kerusuhan di kelas bahkan tak jarang tauran. Sudah beberapa kali kena hukuman, namun tidak membuatnya jera. Entah keajaiban dari mana? selama setengah semester ini ia jauh berubah. Meninggalkan tingkah buruknya yang dulu. Siswa itu adalah ...," tampak menggantung kalimatnya. "Selamat kepada Ridho Ahmad Wibowo," sambung kepala sekolah. Menghela nafas, ia sebenarnya juga syok.


Banyak siswa-siswi tampak melongo. Ini seperti mimpi saja. Bagaimana mungkin Ridho yang terkenal nakal itu bisa sehebat itu. Apakah mungkin ia salah dengar. Benar-benar mengejutkan ternyata.


Hermana, papa Ridho juga tampak tak percaya. Ini sangat mustahil, tapi bagaimana bisa ini terjadi. Ia tak menduga anaknya itu sebenarnya berprestasi. Namun akibat kurang kasih sayang akibat sang mama meninggal, ia menutupi prestasi yang ada di dirinya.


Tito tampak memeluk Ridho ia memberi selamat. Dan di ikuti Dino dan Fiko juga.


"Selamat, Bro." Indra menyalami tangan Ridho lalu memeluknya juga.


Mata Ridho berkaca-kaca. Sebentar lagi ia akan berpisah, momen kayak gini entah kapan lagi akan terjadi. Setelah ia pergi nanti, pasti ia sangat merindukan teman-temannya.


Setetes air mata Ridho jatuh di pundak Indra.


"Lo nangis, Bro?" tanya Indra yang melihat pundaknya basah.


"Ndra terima kasih ya lo udah jadi sahabat gue selama ini. Gue minta maaf mungkin gue banyak salah sama lo dan yang lainnya," ucap Ridho.


Indra menyerngit tak biasanya temannya itu seperti itu. "Emangnya lo mau kemana minta maaf segala. Kayak mau pergi jauh aja," ejeknya.


"Gu-gue lanjutin kuliah di London. Papa udah daftarin gue kuliah di sana. Mungkin akan lama lagi kita bertemu," jelas Ridho.


"Lo serius?" Seakan menganggap lelucon yang Ridho katakan.


Ridho mengangguk, "Iya. Mungkin minggu depan gue berangkat kesana."


Indra tampak diam mematung. Sebenarnya ia juga tidak sanggup berpisah dengan pemuda itu. Dari kecil ia sudah bersama-sama dan kini mereka berpisah.


Perlahan Ridho berjalan melewati Indra. Dan saat ia berada di dekat Rahma, gadis yang ia cintai. Ia menatapnya sekilas begitu juga dengan gadis itu. Keduanya terlihat sama-sama merasakan sakit.


* * *

__ADS_1


**Huuuu .... Ridhonya akan pergi tinggalkan ku sendiri. Jangan tinggalkan aku bang Ridho. Sedih aku tuh...


Hallo teman-teman ku semuanya bagi kalian yang menyukai karya ini. Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang, dan beri komen juga. Coret-coret aja tuh kolom komentar... Tenang aja, nggak bayar kok. Semua itu gratis. Beneran dah nggak boong. Kalo nggak percaya coba aja. Hehehe**


__ADS_2