
Subuh itu Ridho terjaga dari tidurnya. Matanya mengerjap saat merasakan ada seseorang di sampingnya. Rahma? Gadis itu sekarang sudah menjadi istrinya?
Dan Ridho berharap itu bukanlah mimpi. Lagi-lagi ia mengerjapkan matanya. Memastikan semua itu bukanlah mimpi. Dan ternyata benar itu nyata. Gadis yang ia peluk erat sekarang adalah istrinya. Sudut bibirnya tertarik. Ia tersenyum melihat wajah polos Rahma yang sedang tertidur pulas. Gadis itu terlihat sangat nyaman dengan pelukan hangat suaminya.
Ridho mengangkat tangan kanannya. Mengusap lembut pipi istrinya lalu mencubitnya pelan. Lagi-lagi ia tersenyum dan sekarang hampir saja terbahak. Karna tindakannya barusan membuat Rahma tetap nyaman dengan tidur pulasnya. Gadis itu sedikit pun tidak bergerak atau merasa terganggu.
"Sayang."
Suara lembut itu keluar membangunkan Rahma. Panggilan yang baru pertama kali keluar dari mulut pemuda itu sangat manis terdengar.
"Sayang."
Ridho melepaskan pelukannya dari pinggang Rahma. Menggoyangkan tubuh istrinya agar terjaga.
"Sayang bangun udah subuh."
Tampak gemas melihat istrinya itu belum juga bangun. Beberapa kali ia menggoyangkan tubuh istrinya itu dan akhirnya tindakannya berhasil. Rahma bangun dan langsung pergi ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mungkin karna efek mengantuk.
* * *
__ADS_1
Selesai sholat subuh dan berdoa. Rahma mencium punggung tangan Ridho agak lama dibalas kecupan di kening oleh pemuda itu.
"Terimakasih sudah mau menjadi istri ku," ucap Ridho membelai pipi Rahma. "Aku sangat mencintaimu Rahma."
"Aku juga," balas Rahma.
"Aku juga apa?"
Merasa tidak puas dengan balasan istrinya, kemudian ia bertanya.
Rahma tersenyum. Senyum yang memabukan bagi pemuda yang bernama Ridho itu. "Aku juga sangat mencintaimu." Menatap binar mata suaminya. Dan perkataannya itu memang sungguh-sungguh dari lubuk hatinya.
* * *
Bau harum masakan tercium oleh indra penciuman pemuda yang kini telah mengenakan pakaian kerjanya. Suara cacing bergemuruh di dalam perutnya. Ia benar-benar lapar.
"Kamu masak apa sayang?" tanyanya saat melihat istrinya menyajikan udang balado lengkap dengan sayur-sayuran di atas karpet. Ada ayam goreng dan ikan bakar nila juga.
Padahal Ridho sudah tau, tapi tetap saja ingin bertanya. Dasar Ridho.
__ADS_1
Rahma tidak menanggapi. Jelas-jelas suaminya itu telah melihat apa yang ia sajikan di atas karpet bergambar LOL itu. Entah karpet siapa itu? Yang jelas karpet itu sudah ada semenjak Ridho mengontrak di sana.
* * *
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya."
Rahma menganggukan kepalanya. Meraih tangan kanan suaminya lalu menciumnya. "Hati-hati."
"Iya sayang." Balas mencium kening istrinya, kemudian pemuda itu pergi.
* * *
Pukul 9 malam Ridho pulang. Pemuda itu sering lembur bekerja agar bisa mengumpulkan banyak uang untuk membeli rumah. Dia tidak tega istrinya yang sangat ia cintai harus tinggal di tempat yang tak luas seperti kontrakannya itu. Padahal Rahma tidak masalah. Dimana pun ia tinggal ia tetap nyaman asal itu bersama suaminya.
Sebenarnya Rahma juga mempunyai rumah hasil dari restonya. Walaupun rumah itu tidak semewah dan sebagus rumah papanya Ridho. Tapi rumah itu jauh lebih bagus dari tempat tinggalnya sekarang.
Rahma telah menawarkan Ridho untuk tinggal di rumahnya. Namun pemuda itu menolak. Ia tidak mau menumpang di rumah istri. Ia juga tak enak dengan kedua mertuanya yang menghuni rumah tersebut.
* * *
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang dan komen