
Tepat pukul 5 sore, matic biru tua itu masuk ke bagasi yang luasnya tidak seberapa itu. Di atasnya pria berkemeja dongker sedikit kusut turun dengan sepasang kaki panjangnya. Ia menyugar rambut ke belakang setelah melepas helmnya. Lalu mengambil sebuah paper bag berisi bunga yang tergatung di motor beserta tas kerja.
"Assalamu'alaikum," ucapnya setelah membuka pintu yang tidak terkunci dari luar.
Ia mendengar sahutan dari arah dapur. Ah ia tau pasti istrinya sedang memasak untuknya. Kebetulan ia belum makan apa-apa sejak siang tadi. Rasanya sungguh tidak sabar mencicipi masakan istrinya yang lezat menurutnya itu.
"Baru pulang, Bang?"
Rahma yang sudah berada di depannya bertanya sambil meraih tangannya untuk dicium. Lalu mengambil tas kerja dari tangan suaminya itu tanpa mempedulikan paper bag di tangan pria itu yang satu lagi.
"Iya maaf aku sedikit terlambat," balasnya. Hari ini Ridho cuma terlambat pulang setengah jam, tapi tetap saja ia merasa bersalah pada istrinya. Apalagi dulu saat mereka baru-baru nikah, Ridho sering pulang larut malam karna lembur dan rasa bersalahnya jauh lebih besar dari ini.
"Nggak apa-apa," ucap Rahma sambil tersenyum. "Ini cuma terlambat setengah jam."
Ridho mengusap kepala istrinya dengan sayang. Lalu tiba-tiba berlutut membuat wanita itu kaget dengan tindakannya. "Abang ngapain?" tanyanya.
Ridho tersenyum. Ia mengeluarkan bunga lily di dalam paper bag yang di pegangnya. Untung tidak rusak, batinnya berkata. Pria itu berdehem bersiap menjadi suami paling romantis sedunia.
__ADS_1
"Bunga ini cantik, tapi di mataku kamu jauh lebih cantik," mulainya dengan gombalan yang ia bisa dan itu cukup membuat wanita di depannya tersipu. "Bunga ini emang indah, tapi di mataku kamu lebih indah." Pria itu mendongak menatap istrinya, binar matanya jelas menunjukkan betapa ia mencintai istrinya itu. "Terimalah bunga ini jika kamu menyukainya, tapi kalo tidak ya buang saja kalo cintamu padaku jangan dibuang."
Rahma terkekeh mendengarnya. Ada-ada saja Ridho ini, dengan senyum yang belum luntur di bibirnya ia menerima bunga itu lalu menciumnya seperti di film romantis yang pernah ia tonton. "Hachim." Namun dunia nyata tidak seindah drama, karna ternyata ia elergi bunga.
"Eh kamu kenapa?" Ridho panik melihat hidup istrinya yang sudah memerah.
"Hachim."
"Hachim."
Ia mengambil kembali bunga itu lalu membuangnya ke tong sampah.
"Tapi, Bang itu-
"Udah gak pa-pa." Ridho memotong ucapan istrinya yang mau protes. "Kamu lebih penting dari bunga itu."
Iya menurutnya Rahma lebih jauh lebih penting dari bunga yang hanya serharga 50 ribu-an itu. Ridho sangat menyayangi istrinya dari apapun yang ada di dunia ini.
__ADS_1
"Kalo alergi bunga kenapa diambil?"
Tangannya kembali mengusap kepala istrinya. "Harusnya tadi kamu bilang."
"Maaf," lirih Rahma. Sebenarnya ia juga menyukai bunga itu, oleh sebab itu ia menerimanya hingga melupakan kalau ia alergi bunga.
"Seharus aku yang minta maaf." Ia mendongakkan wajah Rahma agar menatapnya. "Aku minta maaf ya." Rahma mengangguk. "Tadi kamu habis di dapur, kan ya?"
Rahma mengangguk lagi.
"Kamu masak apa?"
"Rendang," jawab Rahma yang teringat sama masakan di dapur. "Astagfirullah aku lupa matiin kompor," ucapnya panik lalu berlari ke dapur.
Ridho yang ditinggalkan tercenung sejenak. Sejak kapan istrinya itu bisa masak rendang? Setau istrinya bukan orang padang. Kok bisa?
Ridho menggeleng, ngapain juga ia mikirin rendang. Lebih baik ia mandi dari memikirkan masakan padang itu. Menyegarkan diri dengan air yang sejuk.
__ADS_1