Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Memaafkan sang papa


__ADS_3

Di sebuah kamar kecil Rahma melantunkan ayat suci al-qur'an setelah selesai melaksanakan sholat isya. Ia terlihat sangat fokus terhadap al-qur'an yang ia lantunkan. Kesunyian malam itu terhiasi oleh suara indah gadis itu. Gadis dengan mukena berwarna putih bersih itu memang selalu membuat orang tuanya bangga terhadapnya.


"Lihat putri kita Mas. Dia sangat rajin sekali membaca al-qur'an, suaranya bagus sekali ibu jadi terharu," ujar bu Fatimah yang berdiri di ambang pintu kamar putrinya itu. Menatap putrinya dengan meneteskan air mata harunya terhadap putrinya.


"Iya kamu benar. Aku sangat beruntung sekali punya putri seperti Rahma, dia benar-benar anak yang luar biasa," ucap pak Ridwan yang juga menatap putrinya itu sambil tersenyum.


Di kediaman Ridho terlihat laki-laki paruh baya duduk santai di sofa sambil menonton siaran televisi. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Laki-laki paruh baya itu tengah menunggu seseorang.


"Ahhgg sudah jam sepuluh anak itu belum juga pulang. Kemana anak itu? Aku yakin pasti dia keluyuran lagi. Dasar anak tidak berguna, hidupnya selalu menyusahkan ku saja," gumam laki-laki paruh baya itu sambil membanting remote tv ke sofa.


Tak lama terdengar suara langkah kaki seseorang berjalan melewati ruang tamu itu.


"Dari mana saja kamu?" tanya laki-laki paruh itu saat melihat anaknya baru pulang.


"Bukan urusan Papa," jawab anaknya itu yang tak lain Ridho. Ia menatap laki-laki paruh baya itu dengan wajah datar.


"Jelas saja itu urusan papa, kamu itu anak papa satu-satunya," ucap papa Ridho yang tak lain adalah Hermana.


"Sejak kapan Papa peduli denganku. Dari dulu Papa nggak pernah peduli sama hidup ku dan juga mama. Bahkan saat mama menghembuskan nafas terakhir pun Papa nggak ada buat mama," ucap Ridho penuh penekanan berlalu pergi naik tangga menuju lantai atas.


"Ridho! Dengarkan papa bicara. Ahhggg dasar anak kurang ajar tidak tau sopan santun terhadap orang tua," geram Hermana yang tampak emosi.


Di dalam kamar Ridho membaringkan tubuhnya di kasur. Tak butuh waktu lama akhirnya pemuda itu tertidur dengan begitu pulasnya.


Terdengar azan subuh berkumandang di mesjid dekat rumah Ridho. Hal itu dapat membangunkan Ridho dari alam mimpinya. Ridho duduk dari tidurnya bersiap untuk pergi ke mesjid terdekat.


Setelah pulang dari mesjid Ridho segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Dan tak lupa juga sarapan sebelum berangkat.


Di kelas


Keadaan kelas masih sepi hanya ada beberapa orang murid yang baru datang di kelas Ridho. Ridho melangkahkan kakinya masuk ke kelas tak lupa juga ia mengucapkan salam sebelum masuk kelas.


Ridho mendudukan tubuhnya di bangku kosong miliknya. Kemudian membuka tas, mengeluarkan beberapa buku catatan yang ia salin dari buku catatan Rahma beberapa waktu lalu.


Terlihat Ridho sangat fokus dengan buku yang ia baca, memahami apa yang tertulis di dalam buku tersebut. Tak beberapa lama tanpa disadari murid-murid kelas 12 IPA B pun banyak berdatangan termasuk juga Indra.


"Idih tambah ranjin aja nih ketua geng pembuat onar," seru Indra yang baru saja duduk di samping Ridho.


"Berisik lo," ketus Ridho menoleh ke arah Indra.


"Jangan ketus gitu napa, biasa aja dong ngomongnya," sahut Indra.


Ridho tidak menanggapinya, ia tetap fokus sama buku yang ada di tangannya.

__ADS_1


Tak beberapa setelah itu guru yang mengajar di kelas itu datang, murid-murid duduk dengan tertib menghadap lurus ke depan.


"Anak-anak hari ini ibu akan mengadakan kuis. Silahkan keluarkan kertas satu lembar dan kumpulkan catatan kalian," ucap guru itu.


Sontak semua murid panik, tak disangka guru mengadakan kuis dadakan. Di kelas itu hanya tiga orang yang terlihat santai yaitu Rahma, Ridho, dan Dimas.


"Bro kasih gue contekan dong," pinta Indra dengan wajah memelasnya.


"Ogah gue kasih contekan sama lo, pikir aja sendiri," sahut Ridho yang ketus.


"Tega banget lo Bro sama teman sendiri," ucap Indra mendramatis.


"Ya udah nih cepatan salin," ucap Ridho menyodorkan kertas kuisnya pada Indra.


Indra menyalin isi di dalam kertas itu sambil sesekali melirik ke depan.


"Makasih Bro," ucap Indra sambil nyengir kuda.


"Hmmm."


"Waktunya sudah habis silahkan kumpulkan kertas kuis kalian ke depan," perintah sang guru.


"Yah ... belum selesai Buk," sahut salah seorang murid.


Dengan terpaksa semua murid mengumpulkan kertas kuisnya masing-masing dengan raut wajah lesu kecuali Ridho, Indra, Rahma dan Dimas.


Jam istirahat telah tiba semua murid berbondong-bondong pergi ke kantin kecuali Ridho dan Rahma. Seperti biasa mereka duduk di taman belakang menyantap bekal yang ia bawa.


"Rahma, nanti gue ke rumah lo lagi ya belajar seperti biasa," ujar Ridho sambil menyantap makanannya.


Rahma hanya menanggapinya dengan anggukan saja.


"Rahma."


"Hmm."


"Terima kasih ya," ucap Ridho.


"Terima kasih buat apa?" tanya Rahma bingung.


"Terima kasih karna lo udah bantuin gue buat belajar."


"Sama-sama," sahut Rahma sambil tersenyum.

__ADS_1


Pulang sekolah Rahma diantarkan pulang oleh Ridho. Hari ini mereka belajar di pasar tempat ibu Rahma jualan.


Sore harinya Ridho pulang ke rumah. Ridho memberhentikan mobilnya di depan gerbang Rumahnya dengan cepat satpam membukakan gerbang itu untuk majikannya.


"Den Ridho udah pulang, papanya Den Ridho sedang menunggu Aden di rumah tamu," ucap bik Ira memberitahu saat Ridho berada di ambang pintu masuk.


"Biarin aja Bik," sahut Ridho berlalu pergi meninggalkan bik Ira yang menatap punggungnya.


"Ridho." panggil Hermana yang berada di tamu, tetapi Ridho sama sekali tak menghiraukan laki-laki paruh baya itu.


Ridho terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah beberapa saat Ridho turun dari atas dengan pakaian seperti biasa.


"Mau kemana lagi kamu?" tanya Hermana melihat putranya itu telah rapi.


"Bukan urusan papa," jawab Ridho tanpa melirik ke arah Hermana.


"Kamu kenapa tiap papa di rumah kamu selalu saja menghindari papa. Bisakah kamu tidak kemana-kemana saat papa berada di rumah," ucap Hermana menatap putranya yang sedang berdiri tak jauh darinya.


Ridho hanya diam tak menjawab ucapan dari laki-laki paruh baya itu. Ia hanya berdiri mematung tanpa melihat ke arah Hermana.


"Nak papa minta maaf atas kejadian waktu itu," ujar Hermana sedikit melunak.


"Aku udah maafin papa, maafin aku juga seharusnya aku nggak kayak gini. Bagaimana pun papa tetap papa aku," jelas Ridho yang mulai meluluh.


"Benar kamu udah maafin papa?" tanya Hermana antusias.


Ridho menganggukan kepalanya.


"Sini Nak peluk papa," ucap Rustam dengan mata berkaca-kaca.


Ridho pun mendekat yang langsung di dekap oleh papanya.


"Makasih banyak Nak kamu sudah maafin papa," ujar Hermana yang masih mendekap putranya.


Terjadi lah suasana haru antara orang tua dan anak itu. Bik Ira yang melihat pun juga ikut terharu, ia meneteskan air matanya saat melihat orang dan anak itu sudah berdamai.


"Oh ya Nak papa dengar kata bik Ira kamu mendapatkan peringkat 8 semestes kemaren. Apa itu benar?" tanya Rustam melepaskan dekapannya.


"Iya Pa. Alhamdulillah Ridho dapat peringkat 8. Sebenarnya Ridho juga nggak nyangka hal itu," jawab Ridho menatap wajah papanya.


"Selamat ya Nak. Nanti setelah lulus sekolah papa akan masukan kamu ke jurusan bisnis di Universitas terbagus di kota ini," ujar Hermana sambil tersenyum melihat putranya.


"Makasih Pa."

__ADS_1


__ADS_2