Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Motor matic


__ADS_3

Rahma tertegun. Tidak menyangka rumah nenek tua yang ia tolong sebesar rumah yang ada di depannya sekarang. Ralat lebih tepatnya rumah anak dari nenek tua yang bernama Inah itu.


Ya sedari tadi bercerita panjang lebar Nek Inah menyebutkan alamat ia tinggal yang ia hafal saat Rahma bertanya apakah nenek itu mengingat alamat rumahnya?


Setelah beberapa menit mematung. Mengagumi rumah bak istana itu. Rahma akhirnya tersadar bahwa tujuannya ke sini bukan mengagumi rumah tersebut melainkan mengantarkan angkota keluarga dari pemilik rumah.


Rahma berdehem singkat. Lalu hendak membuka suara saat satpam bertanya ada apa gerangan wanita itu ke sini. Dan sebelum Rahma hendak menjawab. Suara satpam itu lebih dulu mendahuluinya jadi ia urungkan niatnya menjawab.


"Alhamdulillah Nek Inah. Akhirnya Nek Inah kembali juga." Terlihat raut lega di wajah satpam berkepala plotos itu. "Tuan mengamuk karna Nek Inah hilang. Dan sudah tau penyebabnya," jelasnya. Lalu menceritakan cucu yang meninggalkan Nek Inah di tengah jalan itu telah diusir oleh ayahnya sendiri.


* * *


"Seperti biasa ini ada sedikit rezeki buat adik-adik panti." Rahma menyodorkan amplop coklat berisi lembaran-lembaran uang pada wanita setengah baya di depannya. Pemilik panti itu.


Di sini lah Rahma sekarang. Di sebuah panti yang sering ia kunjungi setiap minggunya. Memberi donasi rutin setiap sebulan sekali. Wanita itu telah menjadi donatur tetap di panti yang ia pijak sekarang.


Setelah mengantarkan Nek Inah ke rumahnya. Rahma mampir di panti yang secara kebetulan ia lewati.


"Terimakasih Nak Rahma." Ibu panti tersenyum hangat. "Semoga rezeki Nak Rahma dan suami lancar," ucapnya tulus. Yang langsung di aminkannya.


* * *


"Dari mana?"

__ADS_1


Suara berat itu membuat Rahma sedikit terlonjak. Ia mendongak menatap sang pemilik suara yang tiba-tiba berada di depan pintu. "Habis dari panti," jawabnya pelan. Ia baru sadar ternyata ini sudah malam. Pantas saja ada raut kekhawatiran dari wajah suaminya.


Ridho ber oh lalu menggenggam tangan Rahma. "Sayang aku beli motor baru."


Oh pantas saja tadi Rahma melihat ada sebuah motor matic di depan rumah. Ternyata itu motor milik suaminya.


"Besok kita jalan-jalan ya."


Rahma membalas dengan anggukan. Kebetulan besok hari weekend dan tentu saja suaminya akan libur berkerja.


"Aku udah beliin makan buat kamu." Ridho tersenyum. "Kamu belum makan, kan?"


Rahma bersyukur mempunyai suami perhatian seperti Ridho. Pria itu sangat menyayangi dirinya. Dan itu membuat Rahma sangat bahagia.


* * *


"Bisa?"


Ridho membantu membuka helm yang digunakan Rahma yang istrinya itu kesulitan membuka helmnya. Maklum ini adalah pertama kalinya Rahma naik motor.


Deru nafas Ridho terasa hangat menerpa wajah Rahma membuatnya gugup berada sedekat itu.


Manik mata Ridho menatap manik mata sang istri dan memperpendek jarak di antara mereka. Jatung kedua berdetak tak karuan hingga akhirnya Rahma tersadar bahwa mereka sekarang berada di tempat umum. Dengan cepat Rahma menjauhkan wajahnya.

__ADS_1


"Kita ngapain ke sini?"


Ya Rahma ingat tempat ini adalah tempat yang pernah mereka kunjungi saat SMA dulu. Benar-benar tidak ada yang berubah. Tempat ini masih sama hanya statusnya yang berubah karena sekarang ia adalah istri dari pria yang masih menatapnya itu. Entah apa yang ada di pikirannya?


"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan untukmu."


Ridho mengenggam tangan Rahma sambil berjalan menuju sebuah danau yang ternyata berada di ujung taman.


Danau yang sangat Indah dengan air berkilau terkena sinar matahari. Rahma terlihat kagum melihat keindahannya dan seraya mengucap syukur dapat melihat keindahan ciptaan tuhan itu.


"Kamu tau?" Ridho berdehem untuk menormalkan suaranya agar terdengar lebih lembut. "Dulu aku pernah berniat mengajakmu ke sini, namun gagal karna kamu waktu itu di culik," jelasnya. Mengingat kembali kenangan beberapa tahun yang lalu. Dan masih tak menyangka tuhan menjodohkannya dengan wanita itu.


"Dan sekarang akhirnya aku berhasil mengajakmu ke sini dengan status kita sudah menikah. Kamu adalah penyemangatku. Karna kamu hidup aku menjadi sangat berarti. Aku sangat mencintaimu istriku. Dan aku mohon jangan pernah pergi dari hidupku sampai maut memisahkan kita." Ridho menjeda kata-katanya. "Berjanjilah padaku Rahma."


Air mata Rahma menetes. Ia terharu mendengar kata-kata yang lolos dari mulut pria itu. "Aku berjanji tidak meninggalkanmu sampai allah mengakhiri hidupku. Aku juga sangat mencintaimu suamiku," balasnya dengan suara serak.


Sudut bibir Ridho tertarik. Dengan singgap ia menghapus air mata wanita itu. Lalu mendekapnya kepelukannya. "Terimakasih."


* * *


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2