
Beberapa menit kemudian, bel pun berbunyi. Ridho membuka kunci pintu kelas itu sebelum teman satu kelasnya datang.
Indra baru saja tiba di depan pintu kelas. Menatap heran ke arah Ridho yang baru saja membuka pintu.
Pemuda itu menyerngitkan keningnya. "Lagi ngapain lo?" tanyanya dengan nada curiga. Ia melangkah masuk ke dalam kelas.
Matanya tertuju pada seorang gadis di dalam kelas itu.
"Lo ngapain berdua di dalam sama dia." Indra menunjuk Rahma yang tengah duduk di salah satu bangku kelas itu.
"Nggak ngapa-ngapain," jawab Ridho santai. "Udah lo jangan pikir macem-macem. Gue cuma nyuruh dia ngerjain tugas gue doang kok," ucapnya.
"Bener cuma itu?" Indra terlihat tak percaya dengan ucapan temannya itu.
Ridho mengambil bukunya yang berada di atas mejanya. "Nih lo liat. Tugas gue udah selesai." Ridho menyodorkan bukunya pada Indra. "Dia yang ngerjain tugas gue." Pemuda itu juga menunjuk Rahma yang hanya diam mendengarkan percakapan mereka berdua.
Indra mengambil buku yang sodorkan Ridho itu. Ia membolak-balikan lembar kertas buku itu.
"Oke gue percaya." Indra langsung duduk di bangkunya. "Gue boleh nyontek kan?" Pemuda itu melirik Ridho yang masih berdiri, meminta persetujuan. "Tugas gue yang ini belum gue kerjain," sambungnya.
"Hmm." Ridho mengangguk tanda memperbolehkan.
Dengan cepat Indra menyalin semua jawaban yang ada di buku temannya itu.
"Ehem."
Tanpa Indra sadari seorang guru yang baru saja masuk memergoki Indra yang mencontek.
"Siapa nama kamu?" tanya guru itu, mendekati Indra dan menatap tajam ke arahnya.
"Saya, Buk?" Indra menujuk dirinya sendiri. "Na-ma saya Indra, Buk," jawab Indra gugup.
Guru itu adalah Bu Siska, guru fisika kelas itu.
Bu Siska mengambil buku yang Indra contek. "Buku siapa ini?" tanyanya pada Indra.
Indra melirik Ridho dan menjawab. "Itu buku ..." ia menjeda perkataannya.
"Itu bukunya Rahma, Buk," jawab Ridho cepat, sebelum Indra melanjutkan perkataannya.
"Untung buku itu belum gue kasih nama," batin Ridho.
Bu Siska membawa buku itu mendekati Rahma dan bertanya. "Benar ini buku kamu?"
"Bukan, Buk. Itu bukunya Ridho. Buku saya yang ini." Rahma menunjukkan bukunya pada Bu Siska, ada tertulis namanya di sana.
"Oke saya percaya sama kamu," ucap Bu Siska.
"Indra, Ridho. Kalian berdua hormat tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai!" titah Bu Siska dengan suara dikeraskan.
"Sekarang, Buk?" tanya Ridho.
__ADS_1
"Nggak tahun depan," jawab Bu Siska sedikit jengkel.
"Oh masih lama," ucap Ridho dengan santainya.
"Ya sekarang. Kamu pake nanya lagi," geram Bu Siska. "Sekarang kamu kelapangan hormat tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai," ucapnya lagi.
"Ridho aja kan, Buk. Saya enggak kan?" komentar Indra.
"Kamu juga. Sekarang kalian berdua keluar hormat tiang bendera di lapangan." Bu Siska menunjuk ke arah lapangan.
Dengan terpaksa Ridho dan Indra menuju lapangan.
"Ini semua gara-gara cewek aneh itu. Pake bilang buku gue segala lagi. Awas aja! Belum tau dia siapa gue," ucap Ridho dengan kesalnya sambil menghormat tiang bendera di depannya.
Matahari berada tepat di atas kepala pemuda itu. Jam menunjukkan pukul 12 tepat. Keringatnya bercucuran membasahi seragam sekolahnya.
Tepat pukul satu siang, jam pelajaran Bu Siska selesai. Dan saat itu pula hukuman Ridho dan Indra juga sudah selesai.
"Akhirnya hukumannya berakhir," ucap Indra, menurunkan tangan kanannya yang hormat sedari tadi.
"Pegel banget tangan gue," keluh Ridho. "Beliin gue air. Haus banget gue," suruhnya pada Indra.
"Oke gue ke kantin sekarang," sahut Indra yang berlalu pergi.
"Lo haus ya? Ini minum buat lo."
Entah dari mana asal suara itu. Yang jelas begitulah yang terdengar oleh Ridho.
Pemuda itu mengambil air mineral itu. "Terima kasih," ucapnya lalu meminum air itu.
Gadis itu tersenyum dan berkata, "Gue Sinta. Nama lo siapa?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
"Gue Ridho," jawab pemuda itu tanpa menyambut uluran tangan gadis bernama Sinta itu.
Sinta menurunkan tangannya. "Gue anak dari pemilik sekolah ini. Jadi kalo lo butuh batuan, gue akan siap bantu lo," ucap gadis itu.
"Nggak usah gue nggak butuh batuan siapapun," ucap Ridho cuek.
Tak lama Indra datang membawa air minum buat Ridho.
"Bro ini air minum lo." Indra menyodorkan air minum itu pada Ridho. "Eh itu dari siapa?" tanyanya saat melihat botol air mineral di tangan temannya itu.
"Dari dia." Ridho menunjuk Sinta yang masih berada di sana.
"Dia siapa?" tanya Indra pada Ridho, melirik Sinta sekilas.
Belum sempat Ridho menjawabnya. Gadis bernama Sinta itu menyahut. "Kenalkan nama gue Sinta anak dari pemilik sekolah ini," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Indra.
Indra menyambut uluran tangan itu. "Gue Indra," ucapnya.
Tepat pukul tiga sore semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas.
__ADS_1
Di koridor sana Rahma berjalan hendak pulang.
"Mau kemana lo?" Seseorang menarik tangan gadis itu dari belakang. Sehingga jalannya terhenti.
Gadis itu menoleh kebelakang. "Kamu?"
Gadis bernama Rahma itu mencoba melepaskan tangannya dari orang itu.
"Mau apalagi kamu?" berusaha melepaskan tangannya dari orang itu. Ridho, ya orang itu adalah Ridho.
"Lo masih ada urusan sama gue," ucap Ridho dengan menatap tajam pada gadis itu. "Ikut gue," ia menarik Rahma menuju belakang sekolah.
"Kasih dia pelajaran," titah Ridho pada Indra.
Byuurr
Suara guyuran air terdengar di belakang sekolah itu. Indra menyiram Rahma dengan seember air. Gadis itu tampak basah kuyup.
"Itu hukuman buat lo karna telah berani berurusan dengan gue." Ridho pergi meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Indra di belakang.
Sedangkan Rahma ia hanya terdiam. Tidak mengerti maksud dengan perkataan pemuda itu.
"Apa salah ku?" gumamnya mencoba mencerna perkataan pemuda itu.
Flashback off
"Dimas apa yang dikatakan Ridho benar. Aku udah terima lamaran dia."
Perkataan Rahma itu membuyarkan Ridho dari lamunannya.
"Apa?" Dimas terlihat nggak percaya. "Bagaimana mungkin kamu menerima lamaran dia." Dimas menunjuk Ridho yang hanya diam.
"Apa kamu lupa. Apa yang dia lakuin dulu. Dia nggak pantas buat kamu Rahma. Kenapa kamu terima lamaran laki-laki ini." Dimas menatap nanar ke arah Rahma.
"Karna aku mencintainya." Kata-kata itu tiba-tiba saja lolos di mulut Rahma. Gadis itu tak sadar dengan apa yang ia katakan.
"Dimas nggak semua orang yang kelihatannya nggak baik itu buruk," tegas Rahma.
"Ridho ayo kita pulang," ajak Rahma tanpa menoleh.
Di parkiran Ridho dan Rahma sudah berada di dalam mobil.
"Kamu bilang apa tadi. Boleh ulangi lagi nggak," pinta Ridho.
Rahma mengerutkan keningnya. "Yang mana?" tanyanya.
"Itu yang kamu bilang karna aku mencintainya," ucap Ridho mengingatkan.
Rahma langsung teringat dengan perkataannya yang terlontar tadi. Ia tampak malu mengingatnya. Mengapa bisa ia keceplosan seperti itu, pikirnya.
Dengan gugup ia menjawab, "Nanti aja aku ulangi lagi. Rasanya nggak pantas kalo ngomong kayak gitu sekarang.' Rahma terlihat menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tampak malu.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen, dan rate 5 bintang juga.