
Rintik air jatuh menyirami bumi disertai geluduk. Sore itu hujan turun membasahi jalanan aspal yang kering. Para pengendara roda dua tampak berteduh di emperan toko kecil termasuk pria dengan setelan jas yang sedikit basah itu.
Ia menatap tetesan air dari langit itu yang semakin lama semakin membesar. Pria bernama Ridho itu mengusap wajahnya saat terkena tempias air. Toko kecil ini tidak sepenuhnya menyelematkan dirinya dari hujan.
"Allahumma shoyyiban nafi'an," gumamnya berbisik.
Di sebelahnya ada sepasang suami istri yang sudah berusia senja. Tersenyum ke arahnya saat ia menoleh. Balas ia juga tersenyum. Ridho berharap ia bisa juga seperti mereka. Terus bersama Rahma hingga tutup usia.
Dering ponsel di saku jas mengagetkannya. Seseorang menelponnya.
"Hallo assalamu'alaikum."
"Oke, gue kesana."
Entah siapa yang menelponnya, tetapi raut wajahnya jelas sekali menunjukkan kekhawatiran.
Setelah hujan reda Ridho segera mengendarai kendaraan roda duanya, memacu di jalanan aspal yang basah menuju suatu tempat.
***
__ADS_1
"Dia kenapa?" tanya Ridho saat sampai di tempat tujuannya.
"Gak tau," jawab salah seorang temannya. Tito, sahabat Ridho sejak SMP.
Ridho berjongkok di dekat Indra yang tampak frustasi. Pria itu seperti tak bernyawa. Entah apa yang terjadi padanya.
"Lo kenapa, Ndra?" tanyanya pelan. "Kalo ada masalah cerita sama kita."
Sekarang Ridho dan teman-temannya berada di apertemen milik Indra. Tadi Tito yang mengabarinya bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Indra sehingga membuat sahabatnya itu seperti sekarang. Tampak kacau.
Melihat Indra hanya diam, Ridho menghela nafas. "Ndra lo anggap kita apa? Sahabat lo kan?"
"Nisa nolak lamaran gue," ucapnya, nyaris tidak terdengar jika saja Ridho tidak berada di dekatnya. "Katanya dia udah dilamar sama orang yang dicintainya." Indra tampak berat mengatakannya. "Kenapa bukan gue? Kenapa harus orang lain? Gue pikir selama ini perasaan dia sama kayak gue ke dia. Ternyata gue cuma dianggap sahabat."
Ridho menepuk bahunya. "Gue tau gimana perasaan lo, tapi jangan kayak gini hanya karna patah hati. Masih banyak kok wanita baik di luar sana yang mau sama lo," hiburnya.
"Iya, Ndra. Lo kan cakep," timpal Fiko, sahabat sekaligus bawahan Indra. "Sekarang gue ngaku kalo lo lebih cakep dari gue." Indra mendengkus mendengarnya, kenapa ia seperti anak kecil yang dibujuk oleh orang dewasa sih?
"Emang lo jelek sih." Tito menyanggahi, teman senasib Fiko itu selalu saja ingin mengajak ribut tanpa melihat situasi dan kondisi. Jika saja dalam keadaan biasa Fiko pasti akan mengumpatinya, tapi karna sekarang tidak biasa maka terpaksa ia menahan segalanya.
__ADS_1
"Sholat gih," suruh Ridho pada pria yang mengusap air mata itu. "Lo belum sholat magrib kan?"
Indra mengangguk. Ia berdiri, hampir jatuh jika Ridho tidak menahan tubuhnya. "Mau gue anterin ke kamar mandi?" tawarnya. Takut sahabatnya itu terpeleset di kamar mandi.
"Gak usah!" tolak Indra. Setelah menyadari sesuatu ia menatap Ridho tak enak hati. "Baju lo basah?" tanyanya, merasa bersalah karna dirinya Ridho ujan-ujanan ke sini. "Ambil baju gue di kamar. Cepat ganti baju lo!" Setelah itu ia berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.
***
"Gimana? Lebih tenang kan perasaannya setelah sholat?" Indra mengangguk saja sebagai balasan. Membenarkan. Perasaannya memang lebih baik dari pada tadi. Ah kenapa ia lupa dengan ini.
"Move on, Ndra! Lo pasti bisa dapatin lebih baik dari dia." Ridho melirik Dino yang dari tadi diam saja sejak ia datang. "Lo juga move on, Din!"
"Lah kok gue?" kenapa dia yang dibawa-bawa pikir Dino. "Gue gak pernah ya jatuh cinta sampe segitunya."
"Udah larut lo pulang aja, Bro," suruh Tito sembari melirik jam tangan. "Udah jam segini. Bini lo pasti nyariin."
Mendengar itu Ridho menepuk keningnya. Ia lupa tidak mengabari Rahma bahwa ia ke tempat Indra. Cepat ia mengecek ponselnya yang ternyata mati. Gimana Rahma menghubunginya?
"Gue pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucapnya, buru-buru pergi dari sana.
__ADS_1