Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Pasar


__ADS_3

Tre...eeet


Terdengar bunyi bel sekolah.


Di kelas


"Baiklah anak-anak karna waktunya sudah habis.Kita sudahi pelajaran Fisika kita sampai di sini, besok kita sambung lagi belajarnya, kerjakan tugas Fisikanya kalian di rumah besok semua tugasnya harus dikumpul dan siapa yang tidak mengerjakan tugas akan ibu beri sanksi," jelas bu Siska.


"Baik bu," ujar murid-murid serentak.


"Ya sudah sekarang kalian boleh pulang," ungkap bu Siska lagi.


Siswa-siswi kelas 12 IPA B pun berhamburan keluar dari kelas itu dan segera pulang.


"Indra."


Seorang gadis cantik dengan rambut lumayan panjang memanggil Indra di luar kelas.


"Iya, ada apa Sin?" tanya Indra pada gadis itu dan ternyata adalah Sinta anak pemilik sekolah swasta itu.


"Lo tau Ridho kemana nggak? Dari kemaren gue telpon ngak di angkat-angkat terus sekarang dia ngak masuk kelas?" tanya Sinta pada sahabat pacarnya itu.


"Yaelah Sin. Lo kayak ngak tau aja sama si Ridho, dari dulu kan dia emang kayak gitu jarang masuk kelas, si Ridho kan orangnya emang ngak suka belajar apa lagi pelajaran Fisika. Gue aja sebenarnya juga malas masuk, tapi gue takut diomelin sama emak gue," jawab Indra dengan memasang muka datar kayak aspal.


"Tapi masalah biasanya kalo nggak masuk dia selalu bilang sama gue tapi sekarang kok dia ngak bilang? Dia kayak ngehindar gitu dari gue," ungkap Sinta dengan wajah terlihat sedih.


"Kalo itu gue nggak tau, gue nggak mau ikut campur masalah lo sama Ridho, permisi gue pulang dulu." Indra pun meninggalkan Sinta yang menatap kepergiannya.


"Hey, lo kenapa masih di sini?"


tanya Rani. "Lo nggak pulang, gue nebeng ya sama lo ya. Tolong antarin gue pulang!!"


"Nyusahin gue aja sih hidup lo, oke kali ini gue antar tapi besok-besok gue males antar lo," jawab sinta kesal.


"Lo sama sahabat sendiri gitu amat sih." Rani memasang ekspresi memelas.


"Diam ngak lo, kalo nggak diam gue nggak jadi antar lo," ancam Sinta.


"Iya iya gue diam," jawab Rani malas.


"Dasar mak lampir, untung aja lo kaya, kalo nggak males banget temenan sama orang kayak gitu," batin Rani.


Di Pasar


"Assalamu'alaikum bu." Rahma mendekati wanita paruh baya yang tak lain adalah bu Fatimah dan menyalami tangan wanita paruh baya itu.


"Wa'alaikum salam, kamu udah pulang Nak. Kamu ngapain ke sini?" tanya bu Fatimah sambil mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Rahma ke sini mau bantuin ibu jualan kayak biasa," ucap Rahma sambil tersenyum ramah.


"Nggak usah bantuin ibu, luka di jidatmu kan belum sembuh. Istirahat aja dulu di rumah, biar ibu sendiri aja yang jualan," kata bu Fatimah dengan lembut sambil mengusap kepala putrinya itu.


"Rahma nggak apa-apa ibu, Rahma kesepian di rumah sendiri. Biarkan Rahma bantuin ibu ya," ungkap ramah dengan wajah memelas


"Ya sudah, kalo itu mau kamu," jawab bu Fatimah pasrah atas permintaan putrinya itu.


"Mbak gado-gadonya 2 porsi ya mbak," ucap seorang wanita paruh baya yang telah jadi pelanggan selama 5 tahun di warung gado-gado ibu Fatimah.


"Baik bu, silahkan tunggu sebentar ya bu." Rahma mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk menunggu.


5 menit kemudian....


"Ini Bu gado-gadonya, silahkan dinikmati." Rahma menampilkan senyum teramahnya pada wanita paruh baya itu dan wanita paruh baya itu pun menikmati gado-gadonya.


"Emmm. Gado-gado Ibu Fatimah ini benar-benar sangat enak. Dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah bosan makan di warung gado-gado bu Fatimah ini," puji wanita paruh baya itu.


"Terima kasih atas pujiannya Bu dan terima kasih juga sudah jadi pelanggan setia di warung saya ini," ucap bu Fatimah dengan tersenyum kepada wanita paruh baya itu.


Gado-gado buatan bu Fatimah memang sangat di gemari oleh orang-orang di sana, gado-gado buatan wanita paruh baya itu memang mempunyai rasa yang khas. Gado-gado yang berasal dari nenek moyangnya Rahma itu, resepnya diwariskan secara turun termurun.


Maka tak heran juga gado-gado ibunya itu memiliki rasa yang berbeda dengan gado-gado pada umumnya.


"Alhamdulillah hari ini rezeki kita lumayan. Ibu akan tabungkan uang ini buat biaya kuliah mu nanti." Raut wajah bahagia terpancar diwajah ibu Fatimah dengan rasa syukurnya terhadap rezeki yang ia dapat.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Ibu tidak merasa direpotkan atas dirimu Nak. Kamu anak ibu, sudah seharusnya ibu melakukan ini untuk mu. Gado-gado kita sudah habis, ayo sekarang kita pulang."


Di kamar yang tidak terlalu besar terlihatlah Rahma sedang belajar di meja belajar kamarnya, ia juga mengerjakan tugas Fisika yang diberi bu Siska di sekolah tadi.


Ia mengerjakan tugas tersebut dengan sangat teliti, tak lupa juga ia memeriksa kembali jawabannya.


Rahma adalah murid yang pintar di sekolahnya, ia juga mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. Atas prestasi yang ia dapat,ia pun di gratiskan sekolah di sana.


Sedangkan di kamar dengan fasilitas lengkap dan mewah dan ruangan yang 3 kali lipat kamar Rahma itu terlihat lah cowok keren dengan baju kaos berwarna putih dan celana boxer sedikit di atas lutut yang tak lain ialah Ridho sedang asik dengan ponsel kesayangannya.


Cowok keren ini memang sangat suka dengan game cacing nya. Sesekali ia mengomeli makhluk yang ada di layar ponselnya itu.


"Ayo cing bunuh cing si mata satu itu cing, ayo buruan jalannya kejar tu si cacing jelek. Et dah cing cing jalan lo lelet amat, ngejar si mata satu itu aja nggak bisa. Badan aja yang gede lo cing." Ridho mengoceh ngak jelas pada cacing yang menampilkan senyum pepsodent yang terlihat di ponsel kesayangannya itu.


"Ahghh. Tuh kan mati kan lo, tadi gue udah bilang jalannya jangan lelet. Harus ulang dari awal lagi nih." Ridho mengacak-acak rambutnya karna kesal sama cacing yang ada di layar ponsel yang menampilkan senyum pepsodent nya itu.


Kring.......ing


Ponsel Ridho berdering menandakan ada panggilan masuk dari seseorang.


Ridho mengerutkan keningnya. "Sinta? Ngapain lagi nih cewek nelpon-nelpon gue mulu, bikin tambah kesel aja. Nggak si cacing nggak dia sama aja, sama-sama bikin gue kesel mulu. Angkat nggak ya?? Angkat aja deh."

__ADS_1


"Hallo, ada apa nelpon gue?" Tanya Ridho ketus.


"Iih sayang kamu kok nanyanya gitu? Kamu kenapa nggak angat-angkat telpon dari aku? Chatan aku juga nggak dibales dan tadi Kenapa ngak masuk kelas? Dari kemaren kamu nggak kasih aku kabar? Dan sekarang kamu ngomongnya pakai gue lagi? Kamu itu sebenarnya kenapa sih?" Sinta balik bertanya pada Ridho.


"Ya elah nih orang, lo itu nanya apa nodong sih. Cerewet amat jadi cewek, sebenarnya gue mau jujur sama lo. Dari dulu sampai sekarang gue itu nggak pernah suka sama cewek centil kayak lo. Gue pacaran sama lo buat manfaatin lo doang, agar lo bisa bantuin gue supaya gue bisa naik kelas. Dan maaf gue nggak mau lagi berpura-pura suka sama lo, hubungan kita berakhir sampai di sini dan terima kasih atas bantuan lo selama ini. Mulai sekarang kita nggak ada hubungan apa-apa lagi."


tut..tut.


Ridho mengakhiri panggilannya.


"Sayang, sayang, sial di matiin lagi. Ridho kenapa lo mutusin gue? Gue itu cinta banget sama lo. Gue nggak peduli kalo lo nggak cinta sama gue. Bagaimana pun caranya gue harus dapatin lo lagi," gumam Sinta dan mulai menangis.


Selama ini Ridho tidak pernah mencintai siapa pun dalam hidupnya selain mamanya Rina. Cintanya tak pernah ia bagi sama siapa pun.


Rina memang sosok seorang ibu yang penyayang, ia sangat menyayangi putranya itu.


Sewaktu kecil Ridho selalu menuruti keinginan wanita itu. Ia sangat patuh sama wanita yang mengidap penyakit kanker otak itu.


Namun sekarang entah apa yang membuatnya mulai membagi cintanya pada gadis alim yang awalnya ia benci. Kepolosan dan keteduhan wajah gadis itu seakan menghapus rasa bencinya terhadap gadis itu. Ditambah lagi keramahan dan kelembutan sikap gadis itu yang melupakan semua rasa bencinya terhadap gadis itu.


Senyuman indah yang terpancar diwajah gadis itu seakan-akan menghipnotis dirinya. Senyuman gadis itu tak lepas dari pikirannya. Gadis itu adalah pembuka kebahagian baru pada dirinya yang selama ini telah lama hilang.


Jam menunjukan pukul 03.00, terdengar lah suara jam alarm berbunyi dan begetar. Ia selalu setia untuk membangunkan seorang gadis yang sedang tidur di atas kasur dengan motif bunga-bunga itu.


Setelah 10 menit alarm itu membunyikan suara khasnya, akhirnya perjuangannya pun tak sia-sia membangun gadis yang bernama Rahma itu.


Gadis itu mengerjapkan matanya melihat kearah jam alarm kecil tersebut.


"Sudah jam tiga lewat, aku harus sholat tahajud."


Gadis itu pun ke kamar mandi dan berusaha melawan rasa kantuk yang masih ia rasa kan.


Setelah selesai sholat, seperti biasa gadis itu memanjatkan doa dan susul dengan mengaji.


"Tabaa rakalladzii biyadihil mulkuwa huwa 'alaa kulli syai inn qadhiiir. Alladzii khalaqal mawtawal hayaata liyablu wakum ayyukum ahsanu 'amalaa,wahuwal 'aziizul ghafuuur. Alladzii khalaqa sab'a samaa waatinn thibaaqaa, maa taraa fii khalqirrahmaa niminn tafaawut, farji'il basharahal taraa minn futhuuur. Tsummar ji'il bashara karrataini yann qalib ilaikal basharu khaasi aww wahuwa hasiir. Walaqad zayyann nassamaaa addunnyaa bimshaa biiha waja'alnaahaa rujuumallisy syayathiiin, wa a'tadnaa lahum 'adzaa bassa'iiir. Walilladzii nakafaruu birabbihim 'adzabu jahannnam,wabi" salmashiiir. Idzaaa ulquu fiihaa sami'uu lahaa syahiiqaww wahiya tafuuur. Takaadu tamayyazu minal ghaiizh, kullamaaa ulkiya fiihaa faujunn sa a lahum khazanatuhaaa alam ya"tikum nadziiir. Qaluu balaa qadjaaa ana nadzirunn fakadzdzabnaa waqul naamaa nazzalallaahu minn syai in in anntum illaa fiidhalaalinn kabiiir. Waqaaluu law kunnaa nasma'u awna'qilu maakunna fiiiash haabissa'iiir.


Shadaqallahul 'azhiim"


Lantunan surat al-mulk yang dilantunkan oleh gadis bernama Rahma itu sangatlah indah. Tajwidnya pun tidak ada yang salah.


Dia benar-benar gadis yang sangat luar biasa.


Setelah mengaji tak lama kemudian, azan subuh pun berkumandang. Dan akhirnya Rahma pun melaksanakan sholat subuh yang hanya dua rakaat tersebut.


* * *


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman...

__ADS_1


__ADS_2