Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Jabatan baru


__ADS_3

"Apa kau sudah menemukan keberadaannya?"


Seorang pria setengah baya yang duduk di kursi kebesarannya bertanya kepada asistennya. Jari jemarinya ia tautkan lalu memutar kursi roda menghadap sang asisten.


"Sudah, Pak," mulai asistennya yang bernama Bayu itu. "Sekarang ia sudah menikah dan bekerja di sebuah perusahaan kecil," ucapnya seraya mengingat sesuatu. "Kalo nggak salah nama perusahaannya Hans group, Pak."


"Apa dia menikah dengan gadis rendahan itu?"


Bayu mengangguk, "Iya, Pak."


Mendengarnya, pria setengah baya itu menggeram marah. "Demi gadis itu dia rela keluar dari rumah," gumamnya.


Sudah dua tahun putra semata wayangnya pergi dari rumah tanpa ada sekali pun menjenguknya. Awalnya ia pikir putranya itu akan kembali lagi ke rumah karna tak kuat hidup susah. Tapi, sampai detik ini pun tak ada tanda-tanda ia akan pulang.


"Suruh dia pulang dan bercerai dengan gadis itu!"


Bayu mengiyakan sebagai jawaban. Kesetiaannya tidak dapat diragukan lagi. Selama sepuluh tahun ia berkerja sebagai asisten pria tua itu dan selama itu juga ia tidak pernah menghianati. Selalu patuh terhadap semua perintah.

__ADS_1


"Lakukan cara apa pun agar dia pulang!"


Pria setengah baya yang bernama lengkap Hermana Wibowo itu mengambil rokok mahal dilaci. Menyalakannya dengan pematik api sebelum menghisap kandungan nikotinnya. Asap mengepul di udara setelah ia hembuskan keluar dari mulut.


Di umur yang sudah tidak muda lagi, sebaiknya ia menghidari benda tersebut, tapi karna candu yang tidak bisa hilang membuatnya tidak bisa berhenti.


***


Rahma meringis saat Ridho memasukkan makanan ke mulut. Rendang gosong beserta nasi itu Ridho kunyah perlahan.


Raut wajahnya tidak menunjukkan bahwa itu tidak enak. Ia malah tersenyum kepada istrinya hingga terlihat semakin tampan di mata Rahma.


Rahma sedikit terharu mendengarnya.Ia tak pernah menyangka Ridho akan sebaik ini. Seseorang yang suka membullinya dulu, kenapa bisa berbeda 360 derajat begini? Ridho yang dulu suka marah sekarang berubah menjadi ramah.


Rahma ikut memakan rendang gosong itu dengan susah payah. Segera ia raih air putih di gelas untuk menghilangkan rasa pahit yang terasa.


"Ini nggak layak makan, Bang," Rahma mengambil piring Ridho yang masih tinggal setengahnya. "Aku masakin lagi menu lain," katanya.

__ADS_1


"Nggak usah kita pesan grabfood aja." Ridho meraih ponsel di meja lalu bertanya. " Kamu mau menu apa, Sayang?"


"Terserah Abang aja."


Ridho membuka aplikasi grab lalu memesan makanan kesukaan Sang istri. Oke selesai. Ia tinggal menunggu pesanannya datang.


***


Hari ini Ridho berangkat lebih pagi untuk bekerja. Ia harus lebih bertanggung jawab lagi dengan jabatan barunya ini. Setelah berpamitan dengan Rahma ia mulai menyalakan motor maticnya. Bersiap untuk dijalankan menuju jalan raya.


Setibanya di kantor, banyak para karyawan menyapa. Mereka sudah tahu Ridho telah menjabat jadi Direktur dan semakin menghormati pria muda itu.


Ridho membalas sapaan dengan senyum. Lalu melanjutkan langkah menuju ruangan barunya. Semua barang-barang sudah dipindahkan OB kesini. Lengkap dan tidak ada yang tertinggal di ruang lama.


Ruang ini jauh lebih bagus dari yang lama, dengan ukuran dua kali lipat. Ridho menyukainya.


Bismillah. Ridho duduk di kursi Direktur lalu meraih laptop. Bersiap memulai pekerjaan menjadi sang Direktur perusahaan dengan setumpuk berkas yang ada di meja.

__ADS_1


***


__ADS_2