Hijrah di Jalan Allah

Hijrah di Jalan Allah
Maafkan aku


__ADS_3

"Yang?" Ridho berbalik, ada rasa ragu di hatinya untuk menceritakan kejadian yang telah menimpa istrinya.


"Ya." Rahma tampak menunggu. Keningnya berkerut, memalingkan wajah ke suaminya itu.


Sesak menghantam rongga dadanya. Berkali-kali Ridho menghela nafas untuk meredakannya. "Maafkan aku," lirihnya. Tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi, pria itu menunduk bersamaan dengan air matanya yang jatuh. Kemudian dengan cepat ia menyekanya.


Mencoba memberanikan diri menatap lekat kedua bola mata istrinya. "Maaf." Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Lagi-lagi air matanya jatuh. Pria itu terisak.


"Kenapa?" Rahma terkekeh.


"Kamu aneh deh. Udah gede kok cengeng."


Mendengar kalimat istrinya pria itu makin terisak. Tubuhnya bergetar. Menghambur memeluk istrinya. Hal itu membuat Rahma bingung. Tidak biasanya suaminya seperti ini.


"Sebenarnya ada apa?"


Mungkinkah ada masalah yang serius, pikir wanita itu. Ia membalas pelukan suaminya.


Dengan ragu Ridho berkata, "kata dokter kamu hamil, tapi-"


Pria itu terisak lagi membuat Rahma menepuk-nepuk punggungnya agar tangisannya reda. "Tapi apa?"


Ah tampaknya Rahma gemas dengan suaminya itu. Apa benar ini suaminya? Kenapa cengeng sekali?


"Ka-mu baru saja keguguran."


Deg


"A-pa?"


Kalimat ejekan di pikiran untuk suaminya seketika hilang. Pelukannya terlepas. "A-ku ke-gu-guran?" tanyanya memastikan. Mungkin saja ia salah dengar, kan.


Ridho mengangguk. Lalu memeluk lagi istrinya yang ikut terisak seperti dirinya. Kali ini bukan dia saja yang cengeng, istrinya juga cengeng karna ini. Keduanya sama-sama terluka dan kecewa.


"Maaf Sayang. Ini semua salahku."


Rahma melepas pelukannya, kemudian mengusap pipinya yang basah. "Tidak ini bukan salahmu."


"Ini salahku yang tidak bisa menjagamu."


Rahma menggeleng. "Ini sudah takdir. Aku yakin allah punya rencana terbaik. Jadi jangan berpikir kalo ini salahmu," ucapnya. Memang sulit, tapi wanita itu mencoba ikhas. Mungkin saja belum waktunya mereka menjadi orang tua.


* * *


Seminggu kemudian, setelah kejadian itu Ridho masih saja dirundung kesedihan. Bahkan seminggu itu juga ia libur bekerja. Tidak ingin meninggalkan istrinya di rumah, padahal wanita itu tidak sendirian. Ada kedua mertuanya yang menjaga.


Pagi itu Ridho sudah mengenakan pakaian kerja lengkapnya. Dibantu Rahma memasang dasi walaupun telah dilarang Ridho tadinya.


Senyum cerah yang dipaksakannya membuat hati Ridho ngilu. Ia tau istrinya itu hanya mencoba menghiburnya.


"Sarapan dulu ya sebelum berangkat!"


Menuju meja makan Rahma mengambil piring untuk suaminya, kemudian ia isi nasi beserta lauk pauk yang telah tersedia.


Setelah subuh tadi wanita itu telah memasak dibantu ibunya.


"Aku berangkat ya!"


Beberapa menit setelah nasi di piring habis Ridho berdiri lalu mengulurkan tangan untuk dicium istrinya.

__ADS_1


Kemudian beralih pada kedua mertuanya dengan melakukan hal yang sama dilakukan istrinya.


"Ayah Ibu Ridho berangkat ya! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


* * *


Motor matic biru tua memecah kepadatan ibukota. Deru mesinnya yang tidak memekakan telinga tidak menganggu orang-orang di sekitar.


Angin pagi yang sejuk memberikan kenyamanan bagi pengendara. Ridho tampak tenang mengendarai motornya. Hari ini ia harus semangat bekerja setelah berlarut dari kesedihan yang menimpanya.


Motor berhenti saat lampu merah menyala. Ridho mengeluarkan hanphone di saku celana. Mencari sebuah kontak nama yang bertuliskan 'Indra' di sana.


"Hallo!"


"Assalamu'alaikum."


"Nanti sore Lo sibuk nggak?"


"Ada yang mau gue bicarain sama Lo."


"Oke. Assalamu'alaikum."


Tepat saat Ridho menutup telponnya lampu merah sudah berubah menjadi hijau membuatnya harus melanjutkan perjalanan.


* * *


"Sebenarnya ada apa?"


Tanpa basa basi terlebih dahulu Indra langsung bertanya. Cafe yang tidak terlalu ramai menjadi tempat petemuannya dengan sahabat lamanya itu. Setelah beberapa bulan ini mereka jarang bertemu karna pria yang duduk di hadapannya itu sangat sibuk.


Tidak ada waktu untuknya berkumpul dengan teman-temannya. Ridho harus berkerja keras untuk menabung bahkan tak jarang pria itu lembur demi mendapatkan bonus lebih.


Indra mengernyit, otaknya mencoba mengingat.


"Ketua geng Ranjes," ucapnya setelah beberapa detik.


Ridho mengangguk padahal itu bukan pertanyaan.


"Beberapa minggu lalu gue ketemu sama dia."


Indra menyeruput kopi hangatnya di atas meja, mendengarkan. "Dia gangguin Lo?"


"Gara-gara dia istri gue keguguran."


Lirih kata yang pria itu ucapkan. Ia menunduk menyeka air matanya menetes.


Indra menepuk bahu sahabatnya itu. Baru kali ini ia melihat pria itu menangis. Sahabat tempramennya yang dulu galak pada semua orang ternyata bisa juga menangis?


"Gue berduka atas apa yang menimpa istri Lo. Lalu apa rencana Lo?"


Ridho mengangkat kepalanya. Mencoba menahan tangisnya. "Tolong bantuin gue buat cari dia."


Indra mengiyakan tanpa bertanya. Suasana hati sabahatnya itu lagi buruk, ia harus mengerti perasaannya.


"Gue kabarin yang lain juga."


Sekali lagi pria manis beralis mata tebal itu menepuk bahu Ridho. Sorot matanya seperti berbicara 'Gue tau lo sedih, tapi jangan seperti ini.' Dan Ridho hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan.

__ADS_1


* * *


Matahari yang hendak tenggelam memberikan keindahan di langit senja. Suara azan bersahut-sahutan terdengar. Ridho menepikan motor maticnya di pelantaran mesjid.


Muka basah karna air wudhu menambah kesan ketampan pria yang berdiri di belakang imam itu. Mendengarkan suara merdu sang iman yang memimpin sholat.


* * *


Apa yang akan dirasakan setelah selesai sholat?


Hati lapang. Lega. Amarah hilang. Sejuk.


Ridho pun merasakannya. Setelah sholat pria itu berdoa lalu berdzikir sebentar.


* * *


"Afara aitumul-maa alladzii tasyrabuun. A antum anzaltumuu hu minal-munzi amnahul-munziluun. Lau nasyaa u ja'alnaahu ujaajan falau laa tasykuruun."


Suara merdu istrinya membaca surat al-waqiah terdengar saat Ridho memasuki kamar. Ridho tau arti ayat ini.


Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? Kalau kami kehendaki, niscaya kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?


Bersyukur? Apakah ia bersyukur?


Tidak. Kejadian yang menimpa istrinya seminggu yang lalu membuatnya lupa bersyukur. Ia terlalu larut dalam kesedihan.


"Shadaqallahul 'azhiim."


Rahma mengakhiri bacaannya. Segera ia menoleh ke arah suaminya yang memperhatikannya.


"Kok baru pulang, Bang?" tanyanya.


"Ketemu Indra dulu tadi."


"Sudah sholat magrib?"


"Udah kok tadi di jalan."


Pria yang duduk di atas tempat tidur itu berdiri. "Jangan sholat isya dulu ya! Tungguin aku wudhu. Kita sholat bareng," ucapnya saat mendengar azan berkumandang.


* * *


"Sayang apa menurutmu aku harus membalas Doni?"


Ridho mengusap kepala Rahma yang tengah dipeluknya lembut. Menciumnya beberapa kali. Aroma shampo dirambut istrinya membuatnya ketagihan untuk terus menciumnya. Mereka telah berbaring di kasur.


"Apa kamu mau membalas dendam?"


"Tidak. Aku hanya ingin membuatnya jera saja."


Rahma mendongak menatap mata gelap suaminya. "Bukankah itu sama saja?"


Ridho tampak berfikir. Ah sama ya? Tapi menurutnya beda.


"Tidurlah kamu pasti lelah," ucapnya. Mecium istrinya sekali lagi lalu memejamkan mata.


Bukankah yang lelah itu pria ini? Rahma hanya di rumah tidak kemana-mana mana mungkin dia lelah.


Tak mau ambil pusing Rahma pun ikut memejamkan mata. Memasuki alam mimpi yang terkadang terasa nyata.

__ADS_1


* * *


Jangan lupa dilike!


__ADS_2