
Ridho baru saja sampai di rumahnya. Perlahan kakinya melangkah mendekati laki-laki paruh baya yang sedang duduk di sofa. Ia menatap tajam laki-laki itu.
"Pa, aku mau bicara?"
Ridho berusaha menahan emosinya. Sungguh ia tak mau melihat muka laki-laki itu. Sudah banyak luka yang laki-laki paruh baya itu buat untuknya. Dari kecil sampai sekarang. Hermana tetap sama. Tidak jauh berubah.
"Duduklah dulu!" Hermana mendongak. "Ada apa?" tanyanya.
"Batalin pertunanganan itu, Pa. Aku tidak mau bertunangan dengan gadis yang tidak ku cintai."
Tangan Ridho mengepal. Ingin sekali ia menghabisi laki-laki di depannya itu. Meninju wajahnya yang menyebalkan itu. Namun ia tidak akan melakukannya mengingat laki-laki itu adalah papanya sendiri.
"Kalo itu tidak bisa papa lakukan. Papa akan sangat malu jika membatalkan pertunanganan itu," tegas Hermana.
Ridho tersenyum kecut. Sudah tau papanya akan mengatakan itu. Hermana hanya memikirkan dirinya sendiri tidak pernah mau mengerti bagaimana perasaan Ridho. Ridho benar-benar heran. Kenapa bisa ia mempunyai papa yang egois seperti itu.
"Baiklah. Seterah papa mau melakukan apa." Menekankan setiap kata-katanya. "Aku akan pergi dari rumah ini."
Dengan cepat Ridho menaiki tangga menuju lantai atas. Memasuki kamar dan keluar dengan membawa koper di tangannya.
Ridho menatap Hermana saat sudah kembali ke bawah. Ia melempar kunci mobil ke depan Hermana. "Papa jangan khawatir aku tidak akan membawa apapun pemberian, Papa. Aku tidak butuh itu semua."
Akhirnya Ridho pergi dari rumah itu. Tanpa ada beban lagi. Ia berusaha ikhlas. Harta bukanlah segala-galanya. Ia akan bahagia jika bersama gadis yang dicintainya. Tapi sejenak ia berfikir. Apakah Rahma mau menerimanya dengan keadaannya saat ini? Ia tidak punya apa-apa lagi. Yang ia punya hanyalah cinta untuk gadis itu. Ada perasaan takut di dirinya. Takut Rahma akan menjauh lagi. Sungguh ia tidak akan sanggup tanpa gadis itu di sisinya.
* * *
Di sini Ridho sekarang. Di dalam taksi berwarna biru yang terus melaju malam itu.
Sudah satu jam taksi itu berkeliling. Ridho tidak tau kemana ia akan pergi. Ia tidak punya rumah. Uang pun tidak banyak ia miliki.
"Pak kita mau kemana?"
Sopir taksi tampak lelah. Ia sudah beberapa kali bertanya, namun yang di tanya hanya diam saja. Sedikit kesal ia pun mengulang lagi bertanya. "Pak kita mau kemana?"
Kali ini dengan suara yang keras. Mungkin saja penumpangnya mempunyai masalah pada perdengarannya.
"Iya, Pak?"
Berhasil. Ridho akhirnya merespon.
"Berhenti di depan aja, Pak."
Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang bertulisan 'ada kontrakan kosong.' Memilih kontrakan dari pada hotel untuk tempat tinggal adalah pilihan yang tepat.
__ADS_1
Ridho turun dari taksi. Berjalan menyeret koper mendekati seorang perempuan paruh baya duduk di kursi teras rumahnya.
"Permisi, Bu. Di sini ada kontrakan kosong?"
Perempuan paruh baya itu terdiam sejenak. Memperhatikan penampilan pemuda tampan itu dari bawah sampai ke atas. Sepertinya pemuda itu bukanlah orang susah. Lalu mengapa mencari kontrakan.
"Apakah ada kontrakan kosong?"
Ridho mengulang bertanya saat perempuan paruh baya itu tidak merespon. "Saya lagi butuh kontrakan untuk tempat tinggal," jelasnya.
"Ada. Di sebelah sana."
* * *
Ridho membaringkan badannya di kasur yang tidak terlalu empuk. Kamar itu tidak luas. Tapi tak apa. Ridho lebih nyaman di sini dari pada di rumahnya. Lebih tepatnya rumah papanya.
* * *
"Selamat Pak. Anda diterima bekerja di sini."
"Terimakasih kasih, Pak."
Ridho tampak antusias. Baru saja ia diterima jadi Manager di perusahaan Hans group. Perusahaan swasta yang bergerak dibidang alat elektronik.
* * *
Ridho tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Hari ini adalah hari pernikahan pemuda itu. Ia terlihat sangat tampan dengan pakaian pengantin yang dikenakannya.
''Cepetan woy."
Indra tampak jengah menunggu Ridho yang belum selesai-selesai bercermin sedari tadi. "Lama amat sih!" umpatnya.
"Berisik!"
"Kita udah telat 2 menit woy. Ntar yang ada calon bini lo dinikahin sama si Dimas."
Mata Ridho membulat. Dengan cepat ia beranjak dari cermin lalu menarik tangan Indra keluar dari kontrakannya. "Ayo cepat!" Memasuki mobil Indra yang terparkir di luar.
Mobil Indra melaju dengan kecepatan sedang menuju mesjid di mana acara akad nikah Ridho dilaksanakan. Beberapa menit di perjalanan akhirnya mobil mewah Indra sampai di depan mesjid Al-ikhlas. Perlahan Ridho turun dari mobil menuju ke dalam mesjid diikuti Indra di belakangnya.
"Masya allah pengantin prianya tampan sekali."
Para ibu-ibu yang menghadiri acara itu tampak kagum dengan ketampanan Ridho. Ada juga yang tampak iri dengan calon mempelai wanitanya.
__ADS_1
"Ganteng banget lo, Bro."
Dino mengoceh saat Ridho sudah duduk di depan penghulu. Pemuda yang berprofesi sebagai guru Biologi itu tampak tersenyum gembira. Ridho hanya membalas dengan senyum tipis.
Ayah dari mempelai wanita menjabat tangan Ridho. Mengikuti instruksi penghulu. "Saudara Ridho Ahmad Wibowo bin Hermana Wibowo. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Rahma Putri Ramadhani binti Ridwan dengan mas kawinnya berupa emas seberat 100 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Putri Ramadhani binti Ridwan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Ridho dengan sekali helaan nafas.
"Gimana para saksi sah?" tanya penghulu melirik beberapa saksi.
Sontak semuanya menjawab, "Sah." Kemudian dilanjutkan ucapan alhamdulillah dan doa.
Rahma menyalimi tangan Ridho. Ridho tersenyum manis lalu mengecup pelan kening istrinya itu.
Indra tampak tersenyum-senyum sendiri melihat itu. Ia sedang menghayal bahwa dirinya lah yang menikah dengan gadis disukainya.
* * *
"Rahma aku minta maaf."
Ridho duduk di samping Rahma malam itu. Dengan perasaan bersalah di dirinya.
Rahma menyerngit heran. "Minta maaf untuk apa?" tanyanya. Matanya menatap mata suaminya meminta jawaban.
"Karna menikah dengan ku kamu jadi tinggal di kontrakan seperti ini. Seharusnya aku membahagiakanmu bukan membuatmu susah."
Ridho menggenggam tangan Rahma mengusapnya dengan lembut.
"Kebahagiaan ku adalah dirimu. Jadi jangan berpikir jika aku tidak bahagia. Percayalah aku sangat bahagia saat aku dekat dengan mu, suami ku. Aku cinta kamu Ridho."
Mata Ridho berkaca-kaca mendengar pernyataan cinta dari istrinya. Pemuda itu menarik bibirnya hingga tersenyum.
"Aku juga mencintaimu, Rahma. Sangat mencintaimu."
Tangannya membekap tubuh Rahma kepelukannya. Pelukan itu terasa hangat bagi Rahma. Pelukan yang sekarang halal baginya. Perlahan tangannya terulur membalas pelukan suaminya itu. Mengusap punggungnya dengan kasih sayang. Sunguh dia sangat mencintai suaminya itu. Begitu juga dengan Ridho, ia juga sangat mencintai istrinya.
Ridho melepas kerudung Rahma. Rambut panjang nan indah itu bisa ia lihat lagi. Bukan hanya karna tidak sengaja seperti dulu saat menolong Rahma. Tapi karna memang aurat Rahma hanya untuk dirinya yang telah menjadi suami gadis itu.
Ridho mengecup kening istrinya. Rahma tampak memejamkan matanya. Terdengar detak jantung mereka berdua yang berdetak cepat. Ini baru pertama kali baginya. Dia benar-benar bahagia. Menikah tanpa pacaran memang jauh lebih indah. Seperti yang dirasakan oleh gadis itu.
* * *
Jangan lupa like, vote, rate 5 bintang dan komen.
__ADS_1